
SURABAYA (wartadigital.id) – UMKM berbasis komoditas kopi, cokelat, dan rempah di Jatim memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena tidak hanya menjadi bagian dari kekayaan komoditas daerah, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor. Potensi tersebut semakin relevan seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap produk berbasis local value, keberlanjutan, kualitas dan diferensiasi produk.
Untuk mendukung akses UMKM dalam pembiayaan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim menggelar Business Coaching Pembiayaan pada Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 di Hotel Kampi, Jumat (17/7/2026).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim mengatakan UMKM kopí, cokelat dan rempah masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan kapasitas produksi, pencatatan keuangan yang belum memadai, pemahaman terhadap produk pembiayaan yang masih terbatas, kelengkapan dokumen pengajuan yang belum optimal, serta kemampuan menyampaikan kebutuhan modal kerja maupun investasi kepada lembaga keuangan. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian UMKM belum sepenuhnya siap mengakses pembiayaan formal, meskipun memiliki produk yang potensial dan peluang pasar yang terus berkembang.
“Karena itu kami gelar Business Coaching Pembiayaan bagi UMKM sehingga mereka bisa meningkatkan literasi mengenai produk pembiayaan, persyaratan, proses pengajuan dan prinsip pengeloaan pembiayaan yang sehat. Jadi UMKM nantinya memiliki kesiapan dalam menyusun kebutuhan pembiayaan, melengkapi dokumen usaha, dan menyampaikan profil usaha kepada lembaga keuangan. Kami juga memperkenalkan peluang pembiayaan hijau bagi UMKM yang mendukung praktik usaha berkelanjutan,” kata Ibrahim saat membuka pelaksanaan Business Coaching Pembiayaan di Hotel Kampi, Jumat (16/7/2026).

Kegiatan ini dihadiri ratusan UMKM binaan/mitra KPwBI se-Jawa, UMKM rekomendasi trader/eksportir dan UMKM rekomendasi perbankan/lembaga keuangan. Menghadirkan narasumber dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Jatim, Bank Jatim dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Jatim.
Ibrahim menjelaskan pembiayaan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan produk kredit atau skema pendanaan, melainkan juga oleh kesiapan UMKM dalam menyusun kebutuhan pembiayaan, memahami persyaratan lembaga keuangan, mengelola arus kas, serta menunjukkan kelayakan usaha secara lebih terstruktur. Tanpa pembekalan tersebut, kegiatan business matching berisiko hanya menjadi forum pertemuan administratif, bukan menghasilkan pipeline pembiayaan yang layak ditindaklanjuti.
“Jadi forum ini sebagai pra-business matching yang bertujuan meningkatkan kesiapan UMKM sebelum bertemu dengan lembaga keuangan. Melalui kegiatan ini, UMKM diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai alternatif pembiayaan, persyaratan pengajuan, pengelolaan pembiayaan, pembiayaan berkelanjutan, serta strategi menyiapkan usaha agar lebih layak dibiayai,” katanya.
Dengan demikian, Business Coaching Pembiayaan lanjut Ibrahim menjadi instrumen penting untuk memastikan pelaksanaan Business Matching Pembiayaan berjalan lebih terarah, berbasis kebutuhan riil UMKM, dan memiliki tindak lanjut yang jelas bersama lembaga keuangan. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas UMKM kopi, cokelat, dan rempah dalam mengakses pembiayaan formal; mendukung peningkatan daya saing usaha, serta memperkuat kontribusi JCFF 2026 dalam mendorong pengembangan komoditas unggulan Jawa Timur yang bernilai tambah, berkelanjutan, dan berorientasi pasar yang lebih luas.
Sementara itu, dalam forum tersebut Asisten Direktur Divisi Pengawasan OJK Jatim Indrawan Nugroho Utomo memaparkan seputar literasi keuangan,akses keuangan, perlindungan konsumen dan pemanfaatan SLIK dan prinsip pembiayaan yang sehat.
Sedangkan Alan Kurniawan dari Bank Jatim memaparkan produk pembiayaan UMKM, persyaratan, pengajuan kredit, dokumen utama, agunan, penilaian kelayakan dan tips agar pengajuan lebih siap.
Kepala Bidang Penyaluran BPDLH Jatim Eko Prasondita memaparkan skema pembiayaan hijau, peluang pendanaan bagi UMKM berkelanjutan, kriteria kelayakan dan contoh pemanfaatan pembiayaan.
Untuk diketahui, Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 diselenggarakan sebagai high level event tahunan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim yang diarahkan untuk memperkuat eksposur, nilai tambah, serta rantai nilai komoditas kopi, cokelat, dan rempah dari Jawa sebagai komoditas unggulan nasional dan potensial ekspor.

Pada tahun 2026, JCFF mengusung tema “Java Coffee: From Local Flavours to Global Horizons” dan dilaksanakan pada 17-19 Juli 2026 di Alun-Alun Surabaya dan Hotel Kampi Surabaya. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, JCFF tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga sarana penguatan ekosistem usaha, kolaborasi, dan perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM.
Pada Jumat ini, beberapa kegiatan digelar di antaranya Senam Pagi dan Kick Off Rupiah Java Run 2026, Sosialisasi CBP dan PeKa, Talkshow Local Beans, Global Freams, Meracik Rasa untuk Dunia, Final Kopi Bersastra dan Rangking 1 dilanjut malamnya Opening Ceremony JCFF 2026. nti





