Krisis Energi Terburuk Hantam Eropa: BBM Tembus Rp 40 Ribu per Liter

Kelangkaan BBM di SPBU Prancis.

BRUSSEL (wartadigital.id) – Uni Eropa (UE) dilaporkan tengah menghadapi krisis energi paling parah dalam sejarah modern. Kombinasi fatal antara penghentian pasokan gas Rusia, konflik militer di Timur Tengah yang melumpuhkan rute Selat Hormuz , hingga krisis stok gas menjelang musim dingin memicu lonjakan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dan energi di seluruh kawasan benua biru.

Utusan Khusus Kremlin, Kirill Dmitriev menegaskan, bahwa krisis parah ini merupakan “bencana buatan sendiri” (self-made crisis) akibat keengganan para pemimpin Uni Eropa mengevaluasi kebijakan moneter dan sanksi energi mereka. “Eropa akhirnya menyadari bahwa mereka sedang menghadapi krisis energi terburuk dalam sejarah. Ini adalah krisis buatan sendiri, tanpa ada upaya untuk menganalisis akar masalah dan mengubah arah kebijakan,” tegas Dmitriev dalam pernyataan resminya seperti dilansir RT dikutip Senin (21/9/2026).

Bacaan Lainnya

Dampak krisis ini mulai memukul kehidupan sehari-hari warga Eropa secara langsung. Data pemerintah menunjukkan bahwa 15% SPBU di Prancis mengalami kelangkaan pasokan setidaknya pada satu jenis BBM. Di Jerman, harga bahan bakar menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah. Bensin Super E10 menyentuh 2,3 euro per liter (sekitar Rp 39.000–Rp 46.000/liter). Sedangkan solar (Diesel) rata-rata melonjak ke 2,45 euro per liter (sekitar Rp 42.000-Rp 50.000/liter).

Selanjutnya gas alam benchmark melonjak 150% secara tahunan (YoY) ke level 81 euro/MWh dan diproyeksikan bakal menembus 100 euro/MWh. Secara keseluruhan di seluruh Uni Eropa, harga bensin tercatat 24% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, solar naik 38%, sementara harga bahan bakar avtur (jet fuel) melonjak lebih dari dua kali lipat.

Krisis makin menggentirkan karena Eropa akan memasuki musim dingin dengan tingkat cadangan gas bawah tanah paling rendah dalam 15 tahun terakhir. Lembaga Gas Infrastructure Europe (GIE) mencatat fasilitas penyimpanan gas Uni Eropa baru terisi 69,3%, jauh di bawah rata-rata lima tahunan sebesar 85%.

Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengungkapkan, bahwa Uni Eropa telah menghabiskan biaya tambahan lebih dari 90 miliar euro (setara Rp1.838 triliun dengan kurs per satu euro yakni Rp20.422) untuk impor bahan bakar fosil sejak perang di Timur Tengah pecah. Biaya fantastis ini sebagian besar dibebankan langsung kepada rumah tangga dan sektor industri, yang kini membayar listrik dua hingga 4 kali lebih mahal dibanding negara pesaing. Meski dihantam krisis parah dan tekanan dari berbagai pihak, von der Leyen menegaskan bahwa Uni Eropa akan tetap melanjutkan rencana REPowerEU untuk menghentikan total impor LNG Rusia pada akhir 2026 dan gas pipa pada musim gugur 2027. sin, akr