Festival Hari Santri 2026: Pemkab Nganjuk Dorong Regenerasi Seni Hadroh

Festival Lomba Siswa (FLS) cabang seni hadrah jenjang Sekolah Dasar yang digelar di Pendopo KRT Sosrokoesoemo, Selasa (20/10/2026)

NGANJUK (wartadigital.id) – Perkembangan seni hadrah di Kabupaten Nganjuk mendapat perhatian positif dari Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Hal tersebut terlihat dalam Festival Lomba Siswa (FLS) cabang seni hadrah jenjang Sekolah Dasar yang digelar di Pendopo KRT Sosrokoesoemo, Selasa (20/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Sebanyak 20 tim dari 20 kecamatan mengikuti festival tersebut. Kehadiran perwakilan dari seluruh kecamatan menunjukkan bahwa seni hadrah telah memiliki ruang yang cukup luas di tengah masyarakat Nganjuk, termasuk di kalangan generasi usia sekolah.

Bacaan Lainnya

Bupati Nganjuk yang diwakili oleh Staf Ahli Bupati Nganjuk Bidang Pembangunan, Ekonomi, dan Keuangan, Darmantono, menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme peserta dan seluruh pihak yang selama ini memberikan perhatian terhadap perkembangan seni hadrah.

Ia mengatakan, aktivitas seni hadrah di Nganjuk tidak hanya berkembang di lingkungan anak-anak. Berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah kegiatan, seni tersebut juga tumbuh di kalangan remaja hingga kelompok ibu-ibu.

Menurut Darmantono, kondisi tersebut menjadi modal penting bagi keberlangsungan seni hadrah di Nganjuk. Adanya kelompok seni dari berbagai kelompok usia membuka peluang terjadinya regenerasi sehingga kesenian tersebut dapat terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

“Merupakan sebuah kebanggaan tersendiri buat kita semua bahwa ternyata perkembangan seni hadrah dan kegiatan Islami di Kabupaten Nganjuk luar biasa. Dari jajaran anak-anak, kemudian ibu-ibu, remaja, semuanya ada kegiatan pengembangan seni hadrah,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan festival di tingkat sekolah dasar memiliki posisi strategis karena memperkenalkan seni hadrah kepada generasi yang masih berada pada tahap awal pendidikan. Dari sinilah proses regenerasi dapat dimulai secara lebih terarah.

Darmantono juga memberikan penghargaan khusus kepada para guru pembina dan pelatih. Menurutnya, keberhasilan anak-anak tampil dalam festival tidak terlepas dari proses panjang yang dilakukan para pendamping di sekolah maupun lingkungan masing-masing.

Para guru dan pelatih tidak hanya mengajarkan teknik bermain hadrah, tetapi juga menjadi orang yang memperkenalkan nilai dan kecintaan terhadap kesenian Islami kepada peserta didik. Karena itu, keberadaan mereka dinilai memiliki peran penting dalam menentukan masa depan perkembangan seni hadrah di Nganjuk.

“Yang luar biasa adalah panjenengan para guru dan para pelatih, bagaimana mencetak anak-anak sekalian untuk bisa menguasai sebuah seni Islami yang luar biasa. Panjenenganlah sebetulnya peletak sejarah untuk menentukan perkembangan seni hadrah di wilayah kita ini,” katanya.

Darmantono berharap para peserta tidak memandang festival hanya dari hasil akhir berupa juara atau tidak juara. Bagi peserta yang berhasil meraih prestasi, kemenangan tersebut hendaknya dijadikan pijakan untuk meningkatkan kemampuan, bukan alasan untuk berhenti belajar.

Sebaliknya, peserta yang belum mendapatkan juara juga diminta tidak berkecil hati. Pengalaman mengikuti festival dapat menjadi bekal untuk memperbaiki kemampuan dan kembali tampil pada kesempatan berikutnya.

“Bagi anak-anakku yang juara, janganlah kalian berbangga diri dan menyombongkan diri bahwa saya yang juara. Justru pada saat inilah kalian memulai meletakkan batu pertama untuk mengembangkan kesenian ini. Kepada anak-anak yang belum mendapatkan juara, jangan patah semangat. Kita harus tetap semangat dan banyak belajar lagi,” tuturnya.

Selain menyampaikan apresiasi kepada peserta, Darmantono juga mengucapkan terima kasih kepada jajaran Dinas Pendidikan, para kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, pengawas, K3S, serta seluruh pihak yang ikut mendukung penyelenggaraan festival.

Menurutnya, pengembangan seni hadrah membutuhkan kerja bersama. Pemerintah dapat memberikan ruang melalui kegiatan dan program, sedangkan sekolah, guru, pelatih, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungannya.

Festival tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian budaya Islami dapat dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan generasi muda. Anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung sebagai pelaku seni dan mendapatkan pengalaman mengembangkan kemampuan mereka.

Darmantono menegaskan bahwa kegiatan nonakademik seperti festival hadrah tetap memiliki tempat penting dalam pendidikan. Sekolah tidak hanya bertugas mengembangkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga perlu memberikan ruang bagi potensi lain yang dimiliki setiap anak.

“Ini merupakan salah satu pelajaran nonakademik buat anak-anak. Kalau yang akademik seperti kita ketahui bersama sudah menjadi hal yang rutin kita lakukan, namun yang nonakademik tetap harus kita kembangkan. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler salah satunya seperti ini,” katanya.

Festival hadrah kemudian secara resmi dibuka oleh Darmantono dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Para peserta selanjutnya mengikuti perlombaan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan panitia.

Kegiatan tersebut menjadi salah satu rangkaian menuju puncak peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan rangkaian kegiatan yang disampaikan Dinas Pendidikan, peringatan akan dilanjutkan dengan kegiatan jalan santai dan kemudian upacara Hari Santri pada 22 Oktober 2026 di Alun-alun Nganjuk.

Bagi Pemerintah Kabupaten Nganjuk, festival hadrah bukan sekadar panggung perlombaan bagi siswa sekolah dasar. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus yang mengenal, mencintai, dan mampu meneruskan seni Islami sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Nganjuk. juk

Pos terkait