wartadigital.id
Headline Kesehatan

Buatan Anak Bangsa, Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih

Vaksin nusantara menuju uji klinis tahap kedua.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendukung penuh inovasi yang dilakukan anak negeri, khususnya terkait penelitian dan pengembangan obat dan vaksin yang sangat penting. Terlebih saat ini Indonesia belum terbebas dari pandemi Covid-19. Namun Presiden mengingatkan pengembangan obat dan vaksin yang sedang berjalan harus mengikuti kaidah keilmuan.

Vaksin Nusantara dan Vaksin Merah Putih menjadi jawaban yang diharapkan bisa membantu mengejar terjadinya kekebalan kelompok (herd immunity) untuk memutus rantai penularan Covid-19. Dua vaksin tersebut kini terus dalam proses penelitian.  Selain dari sisi teknologi yang diusungnya, perbedaan juga ada pada pihak yang terlibat dalam pengembangannya.

Jokowi mengatakan, inovasi ini menjadi kunci untuk memajukan Indonesia. Karenanya dia bakal mendukung setiap ada penemuan baru. “Saya berharap temuan ini bisa menjadikan Indonesia sebagai negara mandiri di bidang farmasi,” ujarnya.

Vaksin Nusantara adalah rebranding dari Vaksin Joglosemar, vaksin Covid-19 berbasis sel dendritik yang dikembangkan oleh para ilmuwan dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dengan menggandeng PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bekerja sama AIVITA Biomedical Inc asal California, Amerika Serikat.

Pengembangan vaksin ini digagas pada akhir 2020, ketika dr Terawan Agus Putranto masih menjabat Menteri Kesehatan. Pendanaan riset Vaksin Nusantara juga mendapat dukungan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kemenkes.

Dari sisi teknologi, penggunaan sel dendritik memungkinkan vaksin ini diproduksi secara personalized, disesuaikan kondisi tiap pasien. Karenanya, vaksin ini cocok diberikan pada individu dengan penyakit komorbid yang tidak bisa mendapatkan vaksin biasa.

Kelebihan ini sekaligus menjadi kekurangan vaksin Nusantara. Menurut sejumlah pakar biologi molekular, teknologi sel dendritik yang sebelumnya lazim dipakai pada terapi kanker, terlalu rumit diterapkan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Dalam perjalanannya, vaksin ini sempat membuat heboh. Pasalnya vaksin dianggap sebagian ahli dibuat dengan metode yang tidak biasa, yaitu menggunakan platform sel dendritik.

Secara teori, vaksin bekerja dengan langkah pertama mengambil sel dendritik (komponen sel darah putih) dari seseorang. Sel tersebut lalu “dikenalkan” pada antigen dari virus SARS-Cov-2 di laboratorium, kemudian disuntikkan kembali ke dalam tubuh. Harapannya sel dendritik yang sudah mengenali virus tersebut akan memicu respons imun. “Untuk vaksin Covid dengan sel dendritik ini pertama kali di dunia,” kata salah satu peneliti Vaksin Nusantara, dr Yetty Movieta Nency, SpAK.

Vaksin Merah-Putih tidak merujuk pada satu jenis vaksin, melainkan sekelompok kandidat vaksin yang dikembangkan oleh konsorsium riset di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

“Definisi vaksin Merah Putih adalah vaksin (Corona) yang bibitnya diteliti dan dikembangkan di Indonesia,” kata Menristek Prof Bambang Brodjonegoro.

Di dalam konsorsium ini, ada 7 lembaga yang terlibat dan masing-masing mengembangkan dengan platform yang berbeda. Dari 7 lembaga tersebut, 5 di antaranya berada di bawah perguruan tinggi. Masing-masing Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan platform: Vector Adenovirus, Universitas Padjadjaran (Unpad) dengan platform: Protein recombinant, Universitas Indonesia (UI) dengan platform: DNA, mRNA, dan Virus-like-particles, Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan platform: Protein recombinant, dan Universitas Airlangga (Unair) dengan Adenovirus dan Adeno-Associated Virus-Based. Sedang dua pengembang Vaksin Merah-Putih di luar perguruan tinggi adalah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Eijkman menggunakan platform: Sub-unit protein rekombinan (mamalia) dan Sub-unit rekombinan (yeast), sementara LIPI dengan platform: Protein recombinant. sri

Kelebihan Vaksin Nusantara

1.Aman. “Karena memakai darah pasien sendiri dan memicu tubuh sendiri untuk menimbulkan kekebalan. Jadi Insya Allah halal karena tidak mengandung komponen lain seperti benda-benda atau binatang,” kata anggota Tim Peneliti Vaksin Nusantara FK Undip/RSUP Dr Kariadi, dr Yetty Movieta Nency SpA (K).

2.Bersifat personal.  Sel dendritik bersifat personal karena baru diproses setelah diambil dari masing-masing orang yang akan divaksin.

3.Hemat. Baru dibuat kalau ada pasien yang memang membutuhkan, karenanya munculnya bahan dan stok yang tidak terpakai bisa dihindari.

4.Pengelolaannya dinilai cukup sederhana dan efisien, karenanya  dapat memotong biaya penyimpanan dan pengiriman. Vaksin harus ada cooler box yang kalau dipindahkan ke tempat lain harus diatur suhunya, sementara dengan vaksin nusantara pasien yang mau vaksin diambil dulu darahnya baru diolah sehingga efisien.

 

Related posts

Main-main dengan Pungli, Eri Cahyadi : Jika Terjadi, Remek Sampeyan

redaksiWD

Kader Gerindra Seluruh Jatim Tolak Prabowo Jadi Cawapresnya Ganjar Pranowo

redaksiWD

Sindir Luhut Tak Bisa Kendalikan Corona Delta, Diingatkan Jangan Gampangkan Situasi

redaksiWD