Pemanfaatan Solar Energy dan IoT untuk Pemberdayaan Pemuda dan Pelajar Menuju Kemandirian Pertanian di Kecamatan Kalianget dan Kota Sumenep

SEGTA kembali menjalankan misi pengabdian masyarakat di Kalianget, Sumenep, Minggu (10/8/2025). Kegiatan ini melibatkan dukungan 91 partisipan terdiri dari mahasiswa dan staf asing lintas 11 negara.

 

Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB) Universitas Airlangga 2025 merupakan  kolaborasi  antara Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), menyasar budidaya melon di Desa Kalianget Barat, Sumenep.  Kegiatan PPDB Unair di Kalianget ini terintegrasi dengan kegiatan SEGTA 2025 juga dengan kegiatan Airlangga Community Development Hub (ACDH) Unair 2025.

Bacaan Lainnya

 

Tahun 2025, SEGTA kembali menjalankan misi community development (pengabdian masyarakat) di Kalianget, Sumenep, Minggu (10/8/2025). Kegiatan yang digelar di Balai Desa setempat ini melibatkan dukungan 91 partisipan terdiri dari mahasiswa dan staf asing lintas 11 negara.

Wakil Dekan 3 Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat, dan Kerjasama FTMM Unair Prof Dr Retna Apsari MSi menjelaskan sektor pertanian (agrikultur) merupakan salah satu sektor utama penggerak ekonomi Indonesia.  Sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan signifikan pada kuartal II 2025 dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 4,04 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq). Dari sisi produksi, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh paling tinggi, yaitu 13,53 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 9,74 persen.

Ketua PPDB Unair Prof Dr Retna Apsari MSi memberikan kata sambutan.

Namun demikian, sektor yang satu ini bukan tidak menghadapi tantangan. Sektor pertanian dikenal sebagai sektor yang sangat tergantung pada iklim dan kondisi alam. Selain itu, pekerjaan sebagai petani juga dikenal sebagai pekerjaan yang membutuhkan kerja keras namun dengan hasil minim.

Adanya perkembangan teknologi Internet of Things (IoT) diharapkan mampu mengatasi masalah tersebut dan meningkatkan produktivitas lahan. “PPDB Unair ingin membantu para petani melon di Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep bisa menggarap lahan pertaniannya dengan konsep smart farming. Kami akan kenalkan teknologi solar energy dan IoT ini dan aplikasinya untuk membantu pertanian di sana. Butuh sosialisasi, edukasi agar mereka paham dan memiliki frekuensi sama untuk memaksimalkan lahan pertanian guna mewujudkan ketahanan pangan,” katanya.

Dosen Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM Unair Rizki Putra Prastio SSi, MT memberikan pemaparan.

Pada pengmas di Desa Kalianget Barat, PPDB Unair menghadirkan narasumber Dosen Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan FTMM Unair Rizki Putra Prastio SSi, MT dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Dr Tri Siwi Agustina SE, MSi.

Rizki Putra Prastio mengatakan green house melon di Kalianget Barat bisa memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) dan solar energy.  Ada beberapa keuntungan penggunaan  IoT  dan solar energy dalam bidang pertanian, yakni dengan menggunakan  teknologi sensor dan drone, ada efisiensi produksi karena petani tidak perlu berkeliling lahan untuk menyemprot pestisida, mengalirkan air, sehingga lebih hemat waktu dan tenaga. Sebaliknya, waktu dan tenaga tersebut dapat dialihkan untuk menambah pengetahuan di bidang pertanian dan manajemen.

Selain itu melalui sentuhan teknologi, pertanian dapat menyesuaikan dengan perubahan cuaca secara real time. Dengan semakin tidak menentunya musim di Indonesia, penggunaan IoT di bidang pertanian semakin dibutuhkan untuk memantau cuaca secara real time.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair Dr Tri Siwi Agustina SE, MSi saat memberikan pemaparan.

Selain itu pemantauan tanaman dapat dilakukan secara teratur dan presisi sehingga jika ada hama yang menyerang tanaman bisa mudah dideteksi. “Kami telah membantu para petani sayuran di Desa Ngerong, Kecamatan Gempol Pasuruan, dan IoT terbukti bisa memaksimalkan hasil tanaman. Seperti sayur bok choy dan selada. Termasuk memanfaatkan tenaga matahari yang ramah lingkungan untuk kebutuhan listrik,” kata Tio, panggilan karibnya.

Dijelaskan Tio,  proyek yang dirintis sejak tahun 2021 di Gempol itu menjadi percontohan dan bukti kuat tentang kapasitas FTMM Unair dalam membantu memaksimalkan sektor pertanian. Tio menyampaikan bahwa mitra FTMM yang berada di Gempol Pasuruan juga mengembangkan peternakan ikan nila sehingga pengalaman ini bisa diterapkan di Desa Kalianget Barat. Selain budidaya melon, petani yang tergabung dalam BUMDes Setia Makmur juga budidaya ikan lele dan mengembangkan aneka sayuran, di antaranya cabai, selada.

Pada akhir sesi acara, seluruh peserta menuju green house melon. Di tempat tersebut, Tio mengajak peserta SEGTA 2025 untuk melakukan studi kasus jika ingin membangun PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Peserta diberi tugas untuk menghitung estimasi skala panel surya yang dibutuhkan, kapasitas baterai dan inverter yang diperlukan berdasarkan peralatan listrik  yang digunakan pada green house tersebut. Hasil perhitungan tersebut akan digunakan sebagai acuan dalam membangun PLTS  di negaranya masing-masing.  nti*

 

Modal Rp 60 Juta, Optimistis Balik Modal 2 Tahun

Drs Sayuti Jalaluddin MSi dikenal sebagai perintis budidaya melon di Desa Kalianget Barat, Sumenep.

Nama Drs Sayuti Jalaluddin MSi dikenal sebagai perintis budidaya melon di Desa Kalianget Barat, Sumenep. Mengawali mendirikan green house Kelompok Tani Bunga Melati pada Desember 2024 lalu, kini dia bisa merasakan hasil legit dari jerih payahnya mengembangkan buah melon.

Selain pembeli banyak berdatangan, dia juga merasa bangga bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Bahkan mimpinya, 4 dusun (Dusun Lojikantang, Dusun Asam Nunggal, Dusun Kebun Kelapa dan Dusun Sempangan) di Desa Kalianget Barat bisa memiliki green house yang dikelola BUMDes sehingga seluruh dusun di Desa Kalianget Barat bisa sama-sama menyuplai melon ke berbagai daerah di Jatim atau nasional, mengingat permintaan buah ini cukup besar di pasar. “Saat ini sudah banyak buyer yang datang. Terjauh dari Semarang.  Mereka suka karena rasa buah melonnya manis dan segar karena langsung petik dari kebun,” kata pensiunan guru SMKN I Sumenep sekaligus saat ini sebagai Direktur BUMDes Kalianget Barat periode 2025-2030.

Sayuti menceritakan saat mendirikan green house di atas lahan 50 x11 meter, butuh investasi awal sekitar Rp 60 juta. Itu di luar pupuk dan bibit. Investasi digunakan untuk menyiapkan lahan, persiapan PH tanah, pemupukan, pembuatan bedeng hingga pemasangan plastik mulsa. Sedangkan varian melon yang ditanam, didominasi Inthanon dan Lavender. Dari sisi rasa, kedua varian sama-sama manis. Dari sisi fisik, tampilan keduanya sama-sama memiliki kulit kuning. Bedanya varian Inthanon dalamnya warna putih, sedangkan varian Lavender dalamnya warga orange.

Dengan ketelatenannya menggarap lahan pertanian dibantu 12 anggota BUMDes yang terdiri dari warga sekitar, melon siap dipanen dalam waktu sekitar 70 hari. Setahun minimal 3 kali panen, karena sisa waktu dibutuhkan untuk perawatan lahan agar nutrisi tanah tetap terjaga. “Sekali panen rata-rata 1,6 ton. Ini melon premium, harga rata-rata 20-25 ribu per kg. Kalau jenis melon lokal harga di kisaran Rp 12.500- 15 ribu per kg. Saya optimistis modal awal bakal balik modal dalam 2 tahun,” katanya.

Kendala dalam budidaya melon menurut Sayuti  pada serangan hama saat musim hujan. Selain itu bakteri.  Jika hama dan bakteri muncul, akan muncul bercak-bercak pada daun, batang cepat membusuk. Dengan belajar otodidak, Sayuti mencoba memerangi kendala itu.

Keberhasilannya merintis budidaya melon, membuatnya menginsipirasi pendirian 2 green house lagi yang dikelola BUMDes Setia Makmur. Dia juga ikut terlibat dalam pengelolaan green house BUMDes Setia Makmur. Dua green house yang saat ini dalam proses finishing berukuran 30 x 11 meter, satunya digunakan budidaya dengan metode hidroponik, dan satu green house dengan metode bedengan. “Di lokasi baru, tanahnya berbatu karena itu  ada yang pakai metode hidroponik,” katanya.

Terkait kedatangan Unair untuk ikut membantu budidaya melon, Sayuti mengaku sangat mengapresiasi.  Dia berharap Unair bisa memberikan transfer teknologi dan pengetahuan kepada petani di sana. “Adanya bantuan panel surya jelas akan membantu kami mengatasi kebutuhan listrik untuk pompa air, penerangan dan lainnya, karena kami juga punya kolam lele dan akan mengembangkan berbagai sayuran. Kami ini petani tradisional,  terbuka untuk belajar sesuatu yang baru seperti aplikasi teknologi Internet of Things (IoT) untuk memaksimalkan produktivitas budidaya kami dengan bimbingan tim Unair,” katanya. nti*

Suhrawi : Jadi Desa Penyuplai Melon
Wakil Dekan 3 Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama FTMM Unair Prof Dr Retna Apsari MSi memberikan cinderamata kepada Plt Kepala Desa Kalianget Barat Suhrawi.
Pengabdian masyarakat FTMM Unair di Desa Kalianget Barat disambut gembira warga setempat. Dengan besarnya potensi sumber daya alam yang ada, Pj Kepala Desa Kalianget Barat Suhrawi menilai kerjasama dengan FTMM Unair akan membantu para petani yang tergabung dalam BUMDes Setia Makmur untuk meningkatkan produktivitas  pertanian  dan merealisasi  ketahanan pangan sesuai instruksi pemerintah pusat. Salah satunya dengan pemanfaatan teknologi surya untuk pertanian.
“Para petani di sini menanam dengan teknologi tradisional. Saya berharap dengan aplikasi teknologi modern di pertanian yang diberikan tim PPDB Unair bisa membantu petani BUMDes  Setia Makmur untuk memaksimalkan hasil pertaniannya dan memperkuat program ketahanan pangan. Selain itu bisa mengurangi biaya operasional petani dan meningkatkan nilai tambah penghasilan,” katanya.
Suhrawi mengatakan saat ini petani di Desa Kalianget Barat lagi menyukai menanam melon karena nilai ekonomis tinggi, pasar terbuka lebar dan sesuai dengan kondisi tanah. Ada 3 kelompok tani yang mencoba mengembangkan melon dan berhasil. Namun perintis budidaya melon di Desa Kalianget Barat adalah kelompok tani yang dipimpin Drs Sayuti Jalaluddin MSi yang saat ini juga mengelola BUMDes Setia Makmur.
“Saat ini kami fokus pada produktivitas, jangan wisata dulu. Tahun depan targetnya  BUMDes bisa  berkolaborasi dengan kelompok tani yang lain, kami ingin Desa Kalianget Barat menjadi salah satu penyuplai melon dari Sumenep ke berbagai daerah di Jatim atau nasional,” katanya.
Dia berharap peran Unair tidak berhenti di sini, tetapi program bisa berkelanjutan sehingga mimpi warga setempat untuk mewujudkan Desa Agrowisata dengan kekayaan sumber daya  pertanian bisa diwujudkan dengan peran Unair. Saat ini Desa Kalianget Barat dengan 4 dusun memiliki jumlah penduduk sekitar 9.700 orang dengan 4.000 lebih Kepala Keluarga (KK). nti*

 


Pos terkait