Perluas Jangkauan Pasar Global, Disbudpar dan Dekranasda Bojonegoro Hadirkan Pelaku Ekraf di BFF

Disbudpar bersama Dekranasda Kabupaten Bojonegoro memperluas pasar pelaku ekonomi kreatif di Batik Fashion Fair 2024 yang digelar di Grand City Mall Surabaya

SURABAYA (wartadigital.id) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro bersama Dekranasda memperluas pasar pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Batik Fashion Fair (BFF) 2024 yang digelar di Grand City Mall Surabaya. Berbagai produk unggulan dihadirkan dalam pameran bergengsi itu.

Kepala Disbudpar Bojonegoro Budiyanto, menuturkan Bojonegoro punya banyak produk unggulan khas. Mulai produk fashion, kuliner, hingga kriya. Melalui BFF, produk dari Bojonegoro lebih dikenal masyarakat luas. “Sehingga, pasar perajin bisa semakin luas, baik untuk batik, painting, maupun kerajinan lainnya,” katanya.

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui BFF berlangsung selama lima hari, mulai Rabu (13/11/2024) hingga Minggu (17/11/2024). Ada 122 peserta dan 122 stan pameran yang berpartisipasi.

Di BFF 2024, Disbudpar berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro yang terus berupaya menghubungkan pelaku ekonomi kreatif, UMKM, dan perajin dengan pasar. “Kami terus memotivasi mereka untuk berani berinovasi dalam menambah karya,” katanya.

Lebih lanjut, Budiyanto menjelaskan, lewat even ini, perajin bisa langsung berdiskusi dengan perajin dari luar daerah. Juga mempromosikan produk lokal Bojonegoro yang mempunyai motif khas pada batik seperti jati, Kayangan Api, dan motif lainnya. “Jati menjadi ciri khas Bojonegoro sejak zaman kerajaan. Hingga saat ini, baik pohon jati maupun produk turunannya selalu terus dijaga sehingga bisa terus lestari,” katanya.

Banyak produk perajin Bojonegoro yang menembus pasar ekspor. Dan melalui acara ini, pihaknya ingin semakin banyak produk asal Bojonegoro bisa menjangkau mancanegara. Apalagi Disbudpar telah mengintegrasikan pameran dengan katalog produk. “Barang yang kami bawa hanya sedikit. Selebihnya bisa diakses melalui scan barcode,” tegasnya.

Mempertemukan pelaku ekraf dan UMKM dengan pasar, diharapkan bisa menjaga eksistensi perajin UMKM. Salah satunya diungkapkan perajin olahan jati di Bojonegoro adalah Freditia Musthafa dengan brand miliknya “Raga Jati”.

Menurut Fredi, ia tak sekadar berbagai homedecor hingga suvenir, tapi juga membawa kitchenware. Uniknya, beberapa produk kitchenware buatannya juga aman untuk makanan (food grade).

“Produk kami menggunakan dua alternatif finishing. Bagi produk yang digunakan selain untuk makanan, akan di-finishing dengan melamin atau berbahan kimia sedangkan untuk yang food grade menggunakan lilin lebah,” katanya.

Ferdi mengakui sebagai pemain baru di peralatan food grade, pesanan mulai banyak. Pesanan tak hanya datang dari dalam negeri, namun juga luar negeri.

“Food grade kebanyakan pesanan dari luar negeri. Teman-teman UMKM lain ada pesanan dari Jepang, Korea, dan India,” katanya.

Ada banyak kelebihan produk jati sebagai alat makan. Selain diklaim ramah lingkungan, produk berbahan kayu juga estetik karena buatan tangan langsung (hand made). “Ada yang bilang, kalau minum dari gelas atau cangkir berbahan kayu, bisa mengubah aroma sehingga lebih enak, lebih sedap, lebih nendang. Sehingga, pesanan kami juga datang dari kafe hingga restoran,” katanya.

Untuk diketahui, BFF 2024 menjadi ajang pameran batik dan fashion yang ke-8. Pameran tahunan produk batik dan bordir nasional ini merupakan hasil kerjasama antara PT Debindo Mitra Tama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Dekranasda se-Jawa Timur. boe, abk