wartadigital.id
Ekbis Headline

PPN Jadi Naik 11% Tahun Depan, Bakal Berdampak pada Tingkat Konsumsi

Kenaikan PPN dipastikan bakal berdampak terhadap tingkat konsumsi masyarakat dan kinerja sektor ritel.

 

JAKARTA  (wartadigital.id) – Kementerian Keuangan ( Kemenkeu ) dan DPR menyepakati kenaikan tarif PPN (Pajak Pertambahan Nilai) menjadi 11% dari saat ini sebesar 10% mulai 1 April depan. Kenaikan tersebut dipastikan bakal berdampak terhadap tingkat konsumsi masyarakat dan kinerja sektor ritel.

“Jika PPN naik, maka harga barang juga bakal naik. Akibatnya masyarakat punya dua opsi, mengurangi belanja atau mencari alternatif barang yang lebih murah,” kata Ekonomi sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, Jumat (1/10/2021).

Menurut Bhima, jika masyarakat memilih melakukan penghematan belanja merespon kenaikan tarif PPN, maka hal itu akan berdampak luas ke seluruh sektor, khususnya ke sektor ritel. “Khususnya barang-barang ritel pasti akan terdampak, mulai dari pakaian jadi, properti, kendaraan bermotor sampai belanja di supermarket dan minimarket yang selama ini dikenakan PPN,” ujarnya.

Karena itu, Bhima berharap pemerintah mempertimbangkan kembali apa yang telah disepakati tersebut. Bhima mengatakan, keputusan pemerintah itu akan membuat konsumsi masyarakat Indonesia melemah. Ujung-ujungnya, imbuh dia, hal itu juga akan berpengaruh terhadap penerimaan pajak.

“Memang seakan ada kenaikan penerimaan pajak dari naiknya tarif PPN, tapi kalau konsumsinya melemah maka efek ke penerimaan pajaknya juga tidak setinggi itu,” jelasnya.

Naiknya tarif PPN, lanjut dia, bisa berdampak pada kinerja ekspor. “Ketika bahan bakunya kena PPN, maka konsekuensinya harga jual barang ekspornya juga akan kurang bersaing karena lebih mahal,” tandasnya.

Untuk diketahui  pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 11% mulai April 2022 dari sebelumnya 10%. Bahkan tarif ini akan kembali dinaikkan menjadi 12% pada Januari 2025. Adapun, kenaikan tarif PPN ini tertuang dalam Pasal 7 Bab IV mengenai Pajak Pertambahan Nilai dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).

“Tarif Pajak Pertambahan Nilai yaitu sebesar 11 persen mulai berlaku pada 1 April 2022, dan sebesar 12 persen yang mulai berlaku paling lambat pada 1 Januari 2025,” tulis aturan tersebut.

Saat ini, tarif PPN pada ayat 1 yaitu 11% mulai April 2022 dan 12% mulai Januari 2025 dapat diubah menjadi paling rendah lima persen dan paling tinggi 15%. Adapun perubahan tarif PPN ini akan diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP) setelah nantinya draf RUU HPP ini disahkan menjadi UU dalam rapat paripurna yang rencananya akan dilaksanakan pada pekan depan.

“Perubahan tarif PPN diatur dengan Peraturan Pemerintah setelah disampaikan oleh pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk dibahas dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,” bunyi ayat 4 pasal 7 tersebut.  set, sin

Related posts

Pakar Imunologi Unair Angkat Bicara terkait Munculnya Varian MU

redaksiWD

IISMA Antarkan Mahasiswa FK Unair Raih Kesempatan Studi di Inggris

redaksiWD

Gandeng Bea Cukai, Pemkab Sidoarjo Siap Bangun Kawasan Pengolahan Hasil Tembakau

redaksiWD