
SURABAYA (wartadigital.id) – Kondisi geografis Indonesia yang berada di wilayah tropis dan rawan bencana menuntut sistem komunikasi agar tetap andal di berbagai kondisi. Menyikapi hal tersebut, Prof Dr Ir Achmad Mauludiyanto MT, Guru Besar ke-255 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan pemodelan gelombang radio untuk berbagai aplikasi telekomunikasi.
Guru Besar Departemen Teknik Elektro ITS itu menjelaskan bahwa pemahaman karakteristik gelombang radio di Indonesia menjadi kunci perancangan sistem telekomunikasi yang optimal. Melalui pemodelan yang akurat, kualitas layanan dapat ditingkatkan sekaligus menekan biaya implementasi. “Pemodelan tersebut nantinya akan mengurangi biaya implementasi dan meningkatkan kualitas layanan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).
Melalui orasi ilmiah bertajuk Pemodelan Gelombang Radio untuk Berbagai Aplikasi Telekomunikasi, lelaki dengan sapaan Maulud ini memaparkan sejumlah risetnya dalam pengembangan teknologi komunikasi modern. Penelitian tersebut mencakup pemodelan redaman hujan, pengembangan sistem komunikasi darurat, hingga teknologi untuk rumah sakit cerdas.
Salah satu risetnya berfokus pada pemodelan redaman hujan tropis pada frekuensi 28 GHz yang sensitif terhadap hujan dengan menggunakan model Auto-Regressive Integrated Moving Average (ARIMA). Secara sederhana, ARIMA adalah metode statistik deret waktu yang digunakan untuk memahami dan memprediksi perilaku data di masa depan berdasarkan pola dari data masa lalu. “Pemodelan ARIMA(0,1,1) ini memungkinkan pembangunan jaringan 5G di perkotaan yang lebih stabil dan tahan cuaca ekstrem,” ungkapnya.
Selain itu, dosen Program Studi (Prodi) Teknik Telekomunikasi ITS tersebut juga menyoroti pentingnya komunikasi darurat melalui sistem komunikasi High Frequency (HF) dalam pita 3–30 MHz. Sistem ini memungkinkan komunikasi jarak jauh melalui pantulan ionosfer serta mudah diterapkan. Keunggulan tersebut menjadikannya alternatif komunikasi yang potensial bagi wilayah terpencil maupun daerah terdampak gangguan jaringan telekomunikasi.
Dipaparkan Maulud, salah satu metode yang digunakan adalah Near Vertical Incidence Skywave (NVIS) agar komunikasi tidak bergantung pada satelit ketika keadaan darurat. Saat gelombang HF merambat melalui ionosfer, gelombang HF secara alami terbelah menjadi gelombang ordinary (O) dan extraordinary (X). Karakteristik tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan sistem Multiple-Input Multiple-Output (MIMO) guna meningkatkan kapasitas komunikasi.
Lebih lanjut, lelaki kelahiran Sampang, 3 September 1961 itu juga mengembangkan teknologi komunikasi untuk sektor kesehatan melalui Wireless Body Area Network (WBAN). Teknologi tersebut merupakan jaringan sensor nirkabel untuk memantau kondisi tubuh manusia, sehingga mendukung pengembangan rumah sakit cerdas di Indonesia.
Pada riset terbarunya ini, pengukuran dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari posisi tubuh pasien, lokasi penempatan sensor, hingga kondisi ruangan. Hasilnya, faktor-faktor tersebut ternyata berpengaruh terhadap kualitas sinyal yang diterima, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan sistem pemantauan pasien yang lebih andal untuk rumah sakit cerdas. “Penelitian ini dilakukan untuk mendukung pembangunan rumah sakit cerdas,” tuturnya.
Ke depan, alumnus doktoral ITS tersebut berharap penelitian mengenai propagasi gelombang radio terus berkembang dan mampu menjawab tantangan teknologi di Indonesia. Menurutnya, hasil riset harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung peningkatan kualitas teknologi komunikasi yang lebih tangguh. “Harapannya, penelitian ini bisa diimplementasikan untuk masyarakat dan terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan,” tutupnya penuh harap.
Upaya Maulud dalam mengembangkan pemodelan gelombang radio untuk berbagai aplikasi telekomunikasi ini adalah langkah strategis untuk kemandirian teknologi bangsa. Hal ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknologi komunikasi, komunikasi darurat, dan upaya mendukung pembangunan rumah sakit cerdas. rya





