
JAKARTA (wartadigital.id) – Polemik di tubuh KPL terus berlanjut. Baru-baru ini tagar #gantiketuakpk ramai di twitter. Netizen beramai-ramai menyuarakan kegelisahannya mengenai kondisi KPK saat ini.Mereka mendesak Ketua KPK Firli Bahuri dicopot dari jabatannya.
Akun twitter @AlghifAqsa, menyatakan bahwa Ketua KPK harus diganti karena banyak dosa. “Ketua KPK emang harus diganti, terlalu banyak dosanya,” tulisnya dalam twitter seperti dilihat, Minggu (30/5/2021).
“Banyak kasus mandek karena dihalangi oleh pimpinan sehingga pegawai KPK sering protes. Yang protes inilah yang ‘Masuk Kotak’ dicap taliban,” cuitnya.
Tak hanya itu, netizen juga membagikan poster berisikan rekam jejak Giri Suprapdiono, mantan Direktur Sosialisasi dan Kampanye KPK, termasuk pegawai yang dinonaktifkan.
Seperti dilihat pada Minggu, 30 Mei 2021, akun @BossTemlen membagikan poster tersebut dan mengajak para nerizen untuk memfollow akun twitter @girisuprapdiono. “Silakan follow masif akun @girisuprapdiono #gantiketuakpk,” tulisnya.
Selain itu, netizen lainnya, Maudy Asmara juga membagikan poster yang sama. “Sungguh ironis ya. Ternyata Pak Giri Suprapdiono kerap mengajar Wawasan Kebangsaan di sejumlah lembaga pendidikan bagi para pejabat. Beliau tidak lulus TWK KPK,” tulisnya dalam akun twitter @Mdy_Asmara1701.
Sebelumnya, netizen @NephiLaxmus menyarankan agar Ketua KPK adu debat TWK dengan Giri Suprapdiono untuk membuktikan siapa yang lebih mumpuni. “Bagaimana jika Firli vs Giri diadu one-on-one debat dan pamer track record soal Wawasan Kebangsaan di forum terbuka? @MataNajwa bisa fasilitasi,” tulisnya seperti dilihat, Minggu (30/5/2021).
Saran tersebut ditanggapi oleh mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah. “Pak @girisuprapdiono bersedia?” cuitnya dalam twitter @febridiansyah.
Sontak, Giri Suprapdiono menanggapi serius dengan menerima tantangan tersebut. “Dengan senang hati. Syaratnya kalau kalah, mundur dan meletakkan jabatan. Bisa gitu gak?” ujarnya melalui Twitter seperti dilihat, Minggu (30/5/2021).
Pengajar TWK Peraih Penghargaan

Untuk diketahui Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Giri Suprapdiono masuk dalam daftar 75 pegawai yang tak lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).
Giri yang telah mengabdi di KPK selama 16 tahun ini mengaku heran saat dirinya dinyatakan tak lolos TWK. Pasalnya, Giri adalah pengajar wawasan kebangsaan yang rutin menjadi narasumber di berbagai sekolah, kampus hingga lembaga negara.
Untuk itu, sejak awal ia menyatakan bahwa asesmen sebagai syarat alih status menjadi ASN ini dipenuhi kejanggalan. Terlebih, sebagian besar dari pegawai yang tak lolos TWK tengah menangani kasus-kasus korupsi yang besar.
Lantas, siapakah sosok Giri dan bagaimana sepak terjangnya? Informasi yang dikutip dari berbagai sumber menyebutkan Giri sudah 16 tahun mengabdi di KPK. Kelahiran Ponorogo 9 Juli 1974 ini pernah menjabat sebagai Koordinator Kerjasama Internasional pada Direktorat Pembinaan Jaringan dan Kerjasama Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK. Giri juga pernah menjadi Direktur Gratifikasi. Sebelum meniti karier di KPK, Giri pernah menjadi National Management Concultant di BAPENAS-UNDP.
Dalam dunia akademik, Giri mengenyam pendidikan sarjana di Teknik Perencanaan Kota Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1999. Setelahnya, gelar master ia peroleh dari University of Roterdam pada 2001 dengan jurusan International Institute to Social Studies-Erasmus. Kini, karir Giri di KPK sudah memasuki tahun ke-16. Karena itu, ketika dinyatakan tidak lulus TWK, dia mengaku heran. Dia pun meyakini ke-75 nama termasuk dirinya sudah tidak diinginkan lagi berada di KPK.
Yang menarik, Giri adalah pengajar wawasan kebangsaan yang mendapat penghargaan. Sebagai Direktur Sosialisasi dan Kampanye Anti Korupsi KPK, Giri pernah mencatatnya prestasi membanggakan. Pada Desember 2020, dia mendapat penghargaan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) sebagai peserta diklat tim terbaik bersama direktur seluruh lembaga. “Saya mendapat Makarti Bhakti Nagari Award Desember 2020 tapi Maret 2021 saya dinyatakan tidak lulus (TWK),” kata Giri.
Senada dengan Giri, mantan Juru Bicara KPK Febri Diansyah juga membenarkan kabar penghargaan yang diraihnya. Dalam sebuah cuitan pada 11 Mei lalu, Febri menjamin, sosok Giri adalah satu dari beberapa pegawai KPK yang berintregitas.
Bahkan, tidak hanya meraih penghargaan, Febri mengakui, Giri adalah pengajar dan sering menjadi narasumber tentang wawasan kebangsaan dan anti korupsi di berbagai institusi. Di antaranya di Sekolah Komando Angkatan Darat (Seskoad), Sekolah Pimpinan (Sespim) Polri, serta di Badan Intelijen Negara (BIN) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Giri diketahui juga pernah mengikuti seleksi pimpinan KPK dua kali. Saat menjabat sebagai Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pelayanan Masyarakat KPK, Giri Suprapdiono mendaftarkan diri sebagai calon pimpinan (capim) KPK periode 2019-2023. Ini kali kedua Giri mengikuti seleksi calon pimpinan KPK.
Pada 2014, Giri mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK dan masuk 19 besar. Meski tak terpilih, Giri tak patah arang. Sebab, kata dia, pada prinsipnya pemberantasan korupsi itu menjadi kewajiban setiap warga negara.
Giri juga menilai pertanyaan TWK sudah keterlaluan. Giri sendiri mengetahui itu dari rekan-rekan yang saling bercerita soal pertanyaan tersebut. “Yang membuat hati saya bergejolak adalah misalkan apakah Anda bersedia mencopot jilbab, itu menurut saya keterlaluan. Kemudian tidak bersedia, lalu Anda egois dong, tidak memikirkan negara. Ini keterlaluan menurut saya,” kata Giri.
Giri juga mengaku dapat info soal pertanyaan seputar kawin-cerai atau bahkan menikah-belum menikah, hingga ke seputaran ucapan Natal kepada yang merayakan. “Kebetulan yang ditanya keluarganya juga campuran, pluralisme. Jadi aman,” tambahnya.
Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak selayaknya tidak ditanyakan. “Ini kan tes wawasan kebangsaan. Jadi kalau kecintaan kepada republik ini, kenapa dipertanyakan lagi. Kita menyelamatkan republik ini dari korupsi, kenapa dipertanyakan lagi?” tambahnya. set, gel