wartadigital.id
Jawa Timur

Di Jepang, Pemprov Jatim Berbagi Pengalaman Penanganan Bencana

Pj Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono memaparkan sistem penanganan bencana berbasis partisipasi masyarakat di Universitas Wako, Tokyo, Jepang

SURABAYA (wartadigital.id) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur berbagi pengalaman penanganan bencana dengan melakukan studi banding ke negeri Sakura, Jepang.

Di antaranya Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur (Jatim) Adhy Karyono memaparkan sistem penanganan bencana berbasis partisipasi masyarakat di Universitas Wako, Tokyo, Jepang.

“Dalam penanganan bencana, Pemprov Jatim mengedepankan pelibatan pentahelix, mulai dari pemerintah, media massa, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Kamis (16/5/2024) malam.

Menurutnya, masyarakat adalah yang paling dekat dengan lokasi bencana dan yang paling mampu memberikan penanganan tercepat. “Itulah mengapa di Jatim kami mengedepankan penanganan bencana berbasis masyarakat,” ujarnya.

Terdapat tiga satuan penanganan bencana di Jatim yang dimotori oleh masyarakat, yaitu Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB), Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana).

Pj Gubernur Adhy menjelaskan peran SRPB memfasilitasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dengan sasaran sekolah dan pondok pesantren. Kemudian FPRB memfasilitasi pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana).

Sedangkan Tagana fokus pada kegiatan tanggap darurat, utamanya dalam kegiatan asesmen dan penyediaan dapur umum untuk masyarakat terdampak bencana.

“Masyarakat, dalam sistem penanganan bencana ini, terlibat mulai dari mitigasi, pencegahan, hingga penanganan pasca bencana,” ujarnya.

Pj Gubernur Adhy menandaskan, sebelum melibatkan masyarakat, Pemprov Jatim terlebih dahulu menyiapkan langkah-langkah preventif sebelum bencana, seperti mitigasi cegah bencana, survei lokasi berpotensi bencana, serta pengenalan profesi petugas penanganan bencana.

Untuk kegiatan pra-bencana, di antaranya penguatan kapasitas masyarakat, melalui pembentukan Destana, Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dengan sasaran sekolah dan Pondok Pesantren, serta sosialisasi kelompok usia dini melalui Tenda Pendidikan Bencana (Tenpina) dan Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena).

“Kita juga punya fase tanggap darurat dengan membentuk Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah dari wilayah terdampak, evakuasi penyelamatan korban oleh penolong dan penyelamat atau SAR dan personil terlatih, penyiapan pengungsian dan perlengkapannya, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga layanan psikososial atau trauma healing,” katanya.

Fase setelahnya, Pemprov Jatim fokus kepada rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana agar aktivitas keseharian masyarakat segera pulih.

“Intinya penanggulangan bencana adalah urusan kita bersama. Setiap individu harus mengerti dan menanamkan kalau kita jaga alam maka alam akan jaga kita,” Pj Gubernur Adhy. jtm, nta

Related posts

Hadiri Sharing Session di RSUD Dr Soetomo, Pj  Gubernur Adhy Pesankan Pelayanan Berkualitas dan Sinergitas

Dekranasda Jatim Meriahkan Parade Mobil Hias Jatim Sarat Budaya dan Sejarah

redaksiWD

Sebuah Kisah Inspiratif, Mbah Tono Pemulung asal Ponorogo Naik Haji