wartadigital.id
Headline Nasional

Tarif Tes PCR Terbaru Rp 495.000 untuk Jawa-Bali dan Rp 525.000 Luar Jawa-Bali

Tes PCR Covid-19.

 

JAKARTA  (wartadigital.id) –  Evaluasi biaya tes PCR untuk Covid-19 yang dinilai banyak pihak mahal akhirnya direalisasikan. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi menetapkan tarif tertinggi pemeriksaan real time polymerase Chain Reaction (RT-PCR) sebesar Rp 495.000 untuk pulau Jawa dan Bali. Sementara, harga di luar Pulau Jawa dan Bali Rp 525.000.

Tarif tersebut ditetapkan melalui Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan nomor HK.02.02/I/2845/2021 Tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Reserve Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Sementara, batasan tarif tes PCR yang sebelumnya telah ditetapkan melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK.02.02/I/3713/2020 tanggal 5 Oktober 2020, dinyatakan tidak berlaku lagi.

“Batas tarif tertinggi itu berlaku untuk masyarakat yang melakukan pemeriksaan RT-PCR atas permintaan sendiri,” ujar Dirjen Pelayanan Kesehatan Abdul Kadir dalam konferensi pers secara virtual di Jakarta, Senin (16/8/2021).

Menurut dia, evaluasi dilakukan bersama dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), di mana melalui perhitungan biaya pengambilan dan pemeriksaan RT-PCR yang terdiri dari komponen-komponen berupa jasa pelayanan SDM, komponen reagen dan bahan habis pakai (BHP), komponen biaya administrasi, overhead dan komponen lainnya yang kita sesuaikan dengan kondisi saat ini.

“Dari hasil evaluasi, kami sepakati bahwa batas tarif tertinggi pemeriksaan RT-PCR diturunkan menjadi Rp 495 ribu untuk pulau Jawa dan Bali, serta  Rp 525 ribu untuk luar Pulau Jawa dan Bali,” urainya.

Batas tarif tertinggi tidak berlaku untuk kegiatan penelusuran kontak atau rujukan kasus Covid-19 ke rumah sakit (RS) yang penyelenggaraannya mendapatkan bantuan pemeriksaan RT-PCR dari pemerintah atau merupakan bagian dari penjaminan pembiayaan pasien Covid-19.

Sementara itu, Deputi Kepala BPKP Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Polhukam PMK Iwan Taufiq Purwanto mengatakan, BPKP melaksanakan evaluasi batasan tarif tertinggi pemeriksaan RT-PCR berdasarkan permohonan dari Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, melalui Surat Nomor JP.02.03/I/2841/2021 tanggal 13 Agustus 2021.

BPKP sendiri diminta bantuan untuk melakukan evaluasi batasan tarif tertinggi RT-PCR karena terdapat penurunan harga beberapa komponen sehingga regulasi mengenai harga acuan tertinggi perlu disesuaikan.

“Penyesuaian harga acuan tertinggi tes swab dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat agar memperoleh harga swab PCR mandiri yang wajar,” tandasnya.

Dengan adanya penetapan tersebut, Kementerian Kesehatan menghimbau Dinas kesehatan provinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota harus melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pemberlakuan pelaksanaan batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan PCR.

Metode pemeriksaan RT-PCR merupakan salah satu jenis metode Nucleic Acid Amplification Test (NAAT) yang saat ini dipergunakan oleh rumah sakit, laboratorium, dan fasilitas lain yang ditetapkan oleh menteri sebagai standar utama konfirmasi diagnosis Covid-19.

Sebelumnya mahalnya biaya tes PCR Covid-19 di Indonesia disorot banyak pihak. Salah satunya Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Apindo bahkan mengusulkan agar tarif tes PCR turun seperti di India. Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan testing dan mencegah penularan yang lebih tinggi di masyarakat.

Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani mengatakan, selain upaya vaksinasi, tarif tes PCR dinilai menjadi hal yang penting untuk menekan penularan Covid-19. Seharusnya, lanjut dia, tes PCR yang lebih akurat dari antigen bisa diturunkan tarifnya seperti di yang sudah dilakukan di India yang cuma Rp 97 ribu.

“Pakai PCR kan tarifnya masih Rp 700 ribuan di sini. Di India sudah mengeluarkan kebijakan mulai Agustus itu cuma 500 rupee atau Rp 97 ribu,” ujarnya di acara Apa Kabar Indonesia Pagi, Selasa  (10/8/2021).

Dia pun mengusulkan itu kepada perwakilan Satgas Covid-19 yang hadir dalam diskusi tersebut. “Kita harus bisa efektif melakukan tes. Kalau seperti ini terus kita akan berulang terus begini,” imbuh dia.

Disorot karena mahalnya harga tes PCR untuk Covid-19, Kemenkes akhirnya buka suara.  Menurut Kemenkes penetapan biaya tes PCR di Indonesia tidak diputuskan pemerintah sendiri seperti penetapan HET obat, melainkan konsultasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk auditor.

“Jadi Kemenkes tidak melakukan penetapan sendiri sama seperti penetapan HET ( Harga Eceran Tertinggi) obat,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, kepada wartawan, Kamis (12/8/2021).

Siti Nadia menyebut pihaknya terbuka untuk menerima kritik dan saran. Dia juga membuka kemungkinan evaluasi harga PCR jika diperlukan. “Prinsipnya kami terbuka untuk berbagai masukan, juga bila perlu dilakukan evaluasi tentang harga PCR ini,” kata Siti Nadia.  ren, sin

Related posts

Manfaat Lain Olahraga, Meningkatkan Kebahagiaan hingga Menambah Daya Ingat

redaksiWD

Moeldoko Apresiasi Kinerja Forkopimda Kabupaten Sampang dalam Penanganan Covid-19

redaksiWD

Peraih Perunggu Kompetisi Matematika Internasional Dapat Hadiah Beasiswa dari Bupati Sampang

redaksiWD