
Presiden Jokowi
JAKARTA (wartadigital.id) – Presiden Joko Widodo tengah menjadi sorotan setelah ajakannya kepada masyarakat untuk membeli makanan lokal pada musim mudik 2021, salah satunya ialah Bipang (babi panggang) Ambawang khas Kalimantan Barat viral.
Wakil Sekretaris Jenderal Gerindra Kawendra Lukistian mengatakan, usai terjadinya insiden itu tim komunikasi Presiden Jokowi harus dievaluasi.
Kata Kawendra, kesalahan Jokowi menyebut Bipang Ambawang jelas menyinggung umat Islam. Mengingat makanan tersebut tidak berhubungan dengan kebiasaan umat Islam dan ajaran agama Islam. “Tim komunikasi presiden perlu dievaluasi, hal mendasar seperti ini kok nggak dijagain,” demikian kata Kawindra, Sabtu (8/5/2021).
Menurut Kawindra, jika ditanya siapa pihak yang paling bersalah terkait dengan pernyataan menghebohkan itu, maka tim yang membuat teks pidato adalah pihak yang paling bersalah.
Kawindra meyakini, sebagai Presiden yang beragama Islam Jokowi tidak begitu paham dengan Bipang Kalimantan yang berbahan babi panggang itu. “Kalau ditanya siapa yang salah, tentu yang membuat brief dan teks dalam pidato itu. Saya yakin Pak Presiden sebagai seorang muslim yang taat memang tidak begitu paham soal Bipang Ambawang,” demikian kata Kawindra.
Imbauan untuk tidak mudik disampaikan Jokowi dalam bentuk video. Ia mengulas tentang tujuan kebijakan pemerintah melarang mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Ucapan Jokowi menjadi heboh karena menyebutkan Bipang Ambawang sebagai salah satu makanan daerah yang bisa dipesan secara online tanpa harus mudik. Bipang Ambawang adalah kuliner terkenal dan andalan dari Kecamatan Ambawang di Provinsi Kalimantan Selatan. Kuliner ini menyajikan babi yang dipanggang sedemikian rupa sehingga menghasilkan tekstur daging yang khas dan kering.
Video berisi pernyataan Presiden Joko Widodo menyarankan umat Muslim yang merayakan Lebaran untuk memesan makanan daerah mereka secara online juga menjadi perhatian media dari Rusia, Russian Behind The Headlines (RBTH) versi Indonesia.
Salah satu kuliner daerah yang dicontohkan Jokowi dalam pernyataanya itu adalah Bipang Ambawang dari Kalimantan Selatan. Bipang adalah singkatan dari babi panggang. Kuliner ini terkenal di Kecamatan Ambawang, Kalimantan Selatan. Babi yang biasa digunakan biasanya adalah babi muda yang berusia antara 3 sampai 9 bulan. “Setahu kami, Muslim tidak boleh makan daging babi, ‘kan?” tulis @RBTHIndonesia.
Anggota dewan pakar ICMI Anton Tabah tak habis pikir, bahkan bertanya-tanya apakah memang ajakan tersebut disengaja oleh Presiden Jokowi atau tidak.
“Padahal ia ngaku Muslim. Bicara Idul Fitri kenapa bicara Bipang (Babi panggang) Ambawang?” kata Anton kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (8/5/2021).
Anton melihat Jokowi sangat krisis empati, tidak peka dengan perasaan masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. “Pemimpin bijak, pandai, bisa jaga rasa jaga hati rakyat yang 90 persennya adalah umat Islam ada di bumi ini,” sesal Anton.
Namun di sisi lain, ia seakan telah memaklumi bahwa Indonesia saat ini tengah diuji dengan diberikannya jabatan Presiden kepada Joko Widodo yang selama ini dikenal memiliki cara kerja serampangan. “Sering salah ketik, salah tanda tangan dll. Kini salah kata yang tidak tepat baik secara sosial budaya timing waktu apalagi agama,” demikian Anton.
Sementara itu Ketua Relawan Jokowi Mania (Joman) Immanuel Ebenezer menyalahkan Menteri Sekretaris Negara Praktikno, yang lagi-lagi bermasalah dalam penyiapan data dan materi sambutan Presiden. “Ini sudah kesekian kalinya. Dari surat menyurat, adminitrasi hingga data sambutan Presiden pun bisa salah,” kata Noel sapaan akrab aktivis 98 itu, Sabtu (8/5/2021).
Jelas dia, data dan materi sambutan Presiden harusnya dikroscek berulang kali. Kalau ada kata atau kalimat yang terasa asing, bisa dikonfirmasi dulu ke yang mengetahui. “Kalau makanan ‘Bipang’, tinggal klik saja di Google, sudah keluar itu artinya apa. Jadi ada kelalaian dan kesalahan di Sesneg yang terjadi terus-menerus dan berulang kali,” ucap Noel.
Alhasil, ketika video itu geger dan heboh, lantas baru Pratikno jadi pemadam kebakaran, menghapus konten video yang sudah terlanjur tersebar. Masalahnya, lanjut Noel, video itu sudah beredar luas. Dan ketika isu SARA masih sangat sensitif, maka Presiden akan menjadi target hujatan yang bisa dimanfaatkan lawan politiknya. “Yang tidak benar ya Pratikno. Harus dicopot dia. Sudah terlalu lama diberi kesempatan,” tegas Noel.
Terakhir, Joman meminta rakyat Indonesia tenang. Tidak mungkin Presiden Jokowi mengajak masyarakat membeli Bipang Ambawang di tengah perayaan Lebaran. Ini hanya salah paham yang perlu dikoreksi. “Pratikno harus meminta maaf dan mundur dari jabatannya. Lebih gentleman mundur daripada dipecat,” ucap kata Noel. set, rmo