
Harga gula diperkirakan akan terus naik, bisa menembus Rp 18 ribu per kg.
JAKARTA (wartadigital.id) – Harga gula terpantau cetak rekor, baik gula konsumsi di dalam negeri maupun gula mentah (raw sugar) di pasar internasional.
Panel Harga Badan Pangan mencatat, harga gula konsumsi per Selasa (7/11/2023) pukul 15.08 WIB naik Rp 60 ke Rp16.120 per kg. Rekor baru untuk harga gula eceran di dalam negeri, secara rata-rata harian nasional.
Sepekan lalu, 31 Oktober 2023, tercatat masih di Rp 15.920 per kg. Harga gula konsumsi memang terus menanjak sejak September 2023. Jika dibandingkan secara rata-rata bulanan nasional, harga di November ini sudah berada di Rp 16.040 per kg, lebih mahal Rp 1.800 dibandingkan harga November 2022 yang tercatat di Rp 14.240 per kg.
Sementara itu, harga rata-rata eceran harian wilayah DKI saat ini tercatat naik Rp 37 ke Rp 15.537 per kg. Informasi Pangan Jakarta mencatat, harga tertinggi saat ini mencapai Rp 17.000 per kg di Pasar Tebet Barat, dan terendah Rp 14.000 per kg di Pasar Paseban.
Di pasar internasional, Tradingeconomics mencatat, harga raw sugar pada perdagangan saat ini juga melonjak ke level rekor baru, yaitu 27,95 sen dolar AS per pon. Ini adalah level tertinggi dalam 5 tahun.
Ketua Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) Syukur Iwantoro menyebut ada beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga pada komoditas penghasil rasa manis satu ini. Pertama, di dalam negeri saat ini sedang ada fenomena iklim El Nino atau musim kering ekstrim, terutama di sentra-sentra produksi tebu di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Menurut Syukur, fenomena iklim El Nino telah berdampak negatif terhadap produktivitas tebu maupun rendemen gula. Ia memperkirakan produksi gula dalam negeri tahun ini turun sekitar 10%-15%.
“Faktor El Nino berdampak negatif terhadap produktivitas tebu maupun rendemen gula. Produksi gula dalam negeri tahun ini diperkirakan turun sekitar 10%-15%,” kata Syukur kemarin.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau SugarCo Aris Toharisman menjelaskan pemicu kenaikan harga gula sebagai efek domino El Nino, kebijakan India. “Dan ada kelangkaan dalam tanda kutip karena pelabuhan di Brasil macet,” kata Aris Toharisman.
Aris Toharisman yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Gula (IKAGI) memprediksi, harga gula akan terus naik. Baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional. Penyebabnya, kata dia, salah satunya efek kebijakan pelarangan ekspor oleh India.
Di pasar internasional, Tradingeconomics mencatat, harga raw sugar pada perdagangan pada hari ini juga melonjak ke level rekor baru, yaitu 27,95 sen dolar AS per pon. Ini adalah level tertinggi dalam 5 tahun. “Kelihatannya harga gula masih akan naik lagi. Mungkin bisa ke Rp 18.000 per kg,” kata Aris kemarin.
Aris menjelaskan, pemicu lonjakan harga gula yang terjadi saat ini adalah efek domino kekeringan ekstrem akibat El Nino. Diikuti kebijakan India yeng melarang ekspor gula. “Akibatnya ada dalam tanda kutip kelangkaan pasokan. Karena pasar juga sudah banyak menyerap dari Thailand. Kini permintaan dunia menumpuk dan bertumpu ke Brasil,” jelasnya.
“Produksi di Brasil masih bagus. Tapi, karena permintaan ke dia meningkat, pelabuhannya itu sampai macet. Jadi butuh waktu untuk keluar dari sana,” tambah Aris.
Di saat bersamaan, lanjut dia, kurs dolar AS juga masih tinggi. “Sementara di dalam negeri, musim giling sudah selesai. Baru giling lagi nanti bulan Mei tahun depan. Angkanya belum resmi keluar tapi kemungkinan produksi tahun ini turun. Dan, sekarang posisi stok di petani pun sudah tipis, mungkin cuma sekitar 30.000-an ton,” kata Aris.
Padahal sebentar lagi memasuki Natal, Tahun Baru, dan masuk Ramadan-Puasa tahun depan. Ini akan menambah efek psikologis mendorong kenaikan harga. Jadi ada pengaruh distribusi yang terhambat, yaitu kondisi pelabuhan di Brasil. Dan angka produksi kita yang kemungkinan di bawah perencanaan.
Karena itu lah, imbuh dia, pemerintah sekarang sedang mendorong perusahaan yang sudah memiliki kuota impor segera melakukan pemasukan ke RI. bis, set