
BALI (wartadigital.id) – Medusa, makhluk mitologi Yunani yang berwujud seorang wanita cantik dengan ular sebagai rambutnya menarik perhatian 12 pelukis perempuan Indonesia.
Mereka berkumpul di Hari Kartini dan memamerkan karya lukisnya bertajuk ‘The Medusa Within Us’ pada Selasa (21/4/2025).
Belasan pelukis perempuan yang terlibat dalam pameran memperingati Hari Kartini ini di antaranya Naomi Bald dari Jakarta, Putu Eni dari Bali, Oppie Zora (Jakarta), Ayu Murniati (Pontianak), Desak Desira (Bali), dan masih banyak lagi.
Mereka menggambarkan Medusa sebagai sosok perempuan mengerikan dalam konteks ketakutan laki-laki terhadap kekuatan perempuan. Medusa digambarkan sebagai perempuan cantik berambut ular, yang pandangannya dapat mengubah siapa saja yang menatap matanya menjadi batu.

Metafora ini dapat diartikan sebagai bentuk perlindungan diri perempuan terhadap ketidakadilan, diskriminasi dan kekerasan oleh kaum laki-laki. Medusa sering kali dijadikan simbol penyintas kekerasan seksual dan ketidakadilan terhadap perempuan
dalam berbagai karya seni karena kisahnya yang sesuai, namun ia juga dilihat sebagai simbol kekuatan, kekuasaan, dan pemberdayaan perempuan, selain sebagai simbol bahaya dan ancaman.
Dalam rangka hari Kartini, 12 perupa perempuan menuangkan kreativitas mereka dalam memaknai perjuangan Kartini untuk kesetaraan gender yang bisa dibilang berakhir tragis. Kartini dinikahkan hingga akhirnya meninggal empat hari setelah melahirkan, sedangkan Medusa—menurut beberapa versi mitologinya—diperkosa kemudian malah dihukum.
Kali ini, 12 perupa perempuan mengekspresikan pemikiran mereka lewat bentuk sisi Priestess dan Gorgon—dikotomi angel dan monster—Medusa. Simbol bahwa perempuan tidak bisa diremehkan karena di
balik sifat baik kita, kalau disakiti kita bisa jadi senjata yang mematikan.

Menurut Ketua Pelaksana Putu Eni, sekarang ini, kaum perempuan terdorong melawan stereotip melalui berbagai bidang untuk mengembangkan potensi dalam diri, salah satunya dalam bidang seni.
“Perjuangan Kartini untuk memperjuangkan hak-hak
perempuan adalah salah satu pemicu
keberanian perempuan melawan marginalisasi oleh kaum laki-laki dalam bentuk apa pun, termasuk pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan. Kami boleh tidak berambut ular, namun kami punya pena dan kuas. Yang terpenting bagi perempuan adalah kemampuan berpikir untuk dirinya sendiri dan keberanian untuk bersuara,” ungkap Putu Eni dalam pembukaan pameran.
Pameran ‘The Medusa Within Us’ dibuka oleh Owner Balimoon Resto Ubud, Ni Wayan Sri Ekayanti. Pameran seni lukis ini akan berlangsung hingga 11 Mei 2025 di Pedro Coffee Ubud Bali. (Ary Nugraheni)





