
NGANJUK (wartadigital.id) – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menegaskan komitmennya dalam menjaga dan melestarikan warisan sejarah bangsa. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, saat menerima kunjungan kerja rombongan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Kamis (9/10), di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Disporabudpar Nganjuk, Gunawan Widagdo, didampingi sejumlah tokoh dan seniman, termasuk Marcella Zalianty dan Olivia Zalianty.
Dalam kesempatan itu, Gunawan menyerahkan sejumlah artefak penting hasil temuan dari wilayah Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, antara lain fosil prasejarah, warangka (sarung keris), dupa dari pohon kemenyan putih, dua batu berlian meteorit jenis lonsdaleite, serta wayang timplong bergambar tokoh Dewi Sekartaji.
Gunawan menjelaskan, kawasan Hutan Tritik di Nganjuk bagian utara menyimpan potensi arkeologis besar, termasuk fosil hewan purba seperti Stegodon, peralatan batu prasejarah, hingga fosil pohon kemenyan putih yang menandakan adanya peradaban kuno di kawasan tersebut.
“Kami berharap dukungan Kementerian Kebudayaan dalam memerkuat penelitian, konservasi, dan pengembangan museum daerah di Nganjuk,” ujarnya.
Selain penyerahan artefak, Pemerintah Kabupaten Nganjuk juga menyampaikan rencana relokasi Museum Anjuk Ladang ke kawasan Candi Lor, serta pembangunan Museum Prasejarah Desa Tritik yang tengah didampingi oleh Badan Geologi Nasional untuk memastikan akurasi ilmiah koleksi dan narasinya.
Saat ini, Kabupaten Nganjuk memiliki tiga museum aktif: Museum Anjuk Ladang, Museum Dr. Sutomo, dan Museum Jenderal Besar Sudirman.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik langkah tersebut dan menilai sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta komunitas budaya merupakan kunci keberhasilan pelestarian warisan nasional.
“Saya mengapresiasi semangat masyarakat Nganjuk yang berupaya melestarikan sejarah dan kebudayaannya. Temuan-temuan ini sangat berharga, bukan hanya bagi daerah, tetapi juga bagi sejarah peradaban Nusantara,” ujar Fadli.
Ia juga menyoroti potensi ekonomi kreatif dari budaya lokal Nganjuk, seperti wayang timplong dan produk turunan kemenyan putih, yang dinilai mampu menjadi bagian dari diplomasi budaya dan pariwisata berbasis warisan lokal.
“Kementerian Kebudayaan akan mendukung pengembangan museum dan program edukasi berbasis budaya lokal agar nilai-nilai sejarah terus hidup dan bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.
Pertemuan itu turut dihadiri sejumlah pejabat Kemenbud dan perwakilan daerah, di antaranya Amin Fuadi, Hartoyo, KGPH Daru Kusumo, serta pejabat tinggi dari Kementerian Kebudayaan seperti Ahmad Mahendra, Ismunandar, dan Basuki Teguh Yuwono.
Melalui pertemuan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmen untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam pelestarian warisan sejarah dan pengembangan ekosistem kebudayaan di seluruh Indonesia. Kemenbud akan menindaklanjuti hasil pertemuan melalui kajian teknis, registrasi artefak, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan warisan budaya. juk, ins





