
SUMENEP (wartadigital.id) – Universitas Airlangga (Unair) kembali meneguhkan komitmennya dalam mengabdikan diri pada masyarakat melalui kegiatan Airlangga Community Development Hub (ACDH) 2025. Kali ini klaster kesehatan menyasar Pulau Gili Iyang, Sumenep.
Rangkaian kegiatan berlangsung pada Jumat-Sabtu (17-18/10/2025) menghadirkan kolaborasi 4 fakultas, yakni Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi dan Fakultas Vokasi.
Salah satu kolaborasi lintas fakultas adalah gelaran baksos pemeriksaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan balita, Sabtu (18/10/2025). Pembukaan kegiatan baksos dilakukan oleh Kepala Dinkes Kabupaten Sumenep drg Ellya Fardasah mewakili Bupati Sumenep.

Warga di Desa Banraas dan Desa Bancamara, Kecamatan Dungkek antusias mengikuti baksos. Sambil membawa putra putri balitanya, ibu-ibu antre periksa. “Anak saya demam, saya mau anak saya diperiksa dokter,” kata Munawaroh (32), warga Desa Banraas ditemui di lokasi.
Koordinator ACDH Gili Iyang 2025 Prof Dr Ir Retna Apsari MSi, IPM mengatakan keluarga di pulau-pulau terpencil di Sumenep hingga kini masih mengalami hambatan geografis (transportasi, akses ke puskesmas, jarak) sehingga kerap sulit mendapatkan akses kesehatan. Di Pulau Gili Iyang, Posyandu menjadi tumpuan untuk pemantauan dan peningkatan kesehatan Ibu dan anak, namun pelayanan yang diberikan terbatas dan kurang berjalan optimal
“Kolaborasi antar fakultas Unar ingin meningkatkan kesehatan masyarakat dengan pemeriksaan kesehatan pada bayi dan balita. Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu parameter yang ikut menentukan kualitas sumber daya manusia,” kata Dekan FTMM Unair ini.

Selain itu sebelumnya dalam ACDH 2025. Tim FK Unair yang dikomandoi Wakil Dekan III FK Unair Dr dr Sulistiawati, MKes juga memberikan pelatihan tenaga kesehatan di lingkungan Departemen Kesehatan, Kabupaten Sumenep. Khususnya terkait penanganan penyakit campak (measles) yang saat ini merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang sangat menular dan termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
‘Kami juga meningkatkan pengetahuan lewat edukasi masyarakat di Pulau Gili Iyang tentang penyakit infeksi dan imunisasi,” kata dr Sulis, panggilan karibnya.
Yang menarik, adanya keterlibatan mahasiswa kedokteran dari Belanda dalam baksos ini. Meski mengalami kendala bahasa, namun tak menyurutkan semangat mahasiswa asing untuk membantu memeriksa satu demi satu warga yang datang sesuai nomor antrean.

Prof Dr drg Sindy Cornelia Sp KGA (K) selaku PIC FKG di kegiatan ini menilai aspek kesehatan gigi dan mulut di Pulau Gili Iyang belum mendapat perhatian yang optimal. Data lapangan dan hasil kajian literatur menunjukkan bahwa prevalensi masalah kesehatan gigi pada balita di daerah pesisir dan kepulauan, termasuk Gili Iyang, tergolong tinggi. “Kami datang untuk melakukan screening kondisi kesehatan gigi dan mulut balita. Selain itu juga memberi edukasi, bagaimana teknik menyikat gigi pada anak dan balita. Bahkan kami menggunakan media sosialisasi berupa buku saku menggunakan bahasa Madura untuk dibagikan ke warga setempat,” katanya.
Sementara Fakultas Vokasi melakukan pemeriksaan Hb pada ibu hamil dan menyusui sebagai upaya deteksi dini anemia. Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih tinggi prevalensinya di Indonesia, terutama pada kelompok ibu hamil dan menyusui. Terutama di daerah terpencil seperti di Pulau Gili Iyang. “Dengan adanya kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemeriksaan Hb pada ibu hamil dan menyusui di Gili Iyang, diharapkan dapat membantu mengidentifikasi kasus anemia sejak dini, sekaligus memberikan edukasi mengenai pencegahan anemia melalui konsumsi gizi seimbang dan kepatuhan minum tablet tambah darah,” kata dr. Lailatul Muqmiroh, Sp.Rad (K) selaku PIC Fakultas Vokasi di kegiatan ini.

Yang tak kalah menarik adalah inovasi yang dilakukan Fakultas Farmasi dengan mengenalkan potensi sumber daya alam tanaman anggur laut yang melimpah di Pulau Gili Iyang.
“Tanaman Anggur laut banyak potensinya, baik untuk kesehatan dan kosmetika,” kata Dekan Fakultas Farmasi Unair yang juga PIC FF Unair dalam kegiatan ini, Prof apt Dewi Melani Hariyadi SSi, MPhil, PhD.
Tim FF Unair memberikan pelatihan pembuatan produk makanan berupa sirup anggur laut untuk mengatasi nyeri sendi dan masker hingga makanan kraker.
Sementara itu Ketua Pokdarwis Gili Iyang, Ahyak Ulumuddin menyambut gembira kedatangan tim Unair. Dia menilai apa yang dilakukan Unair sangat bermanfaat bagi warga desa. “Seperti saat ini, pemeriksaan kesehatan sangat ditunggu-tunggu masyarakat,” katanya.
Dia berharap sinergi antara Unair dengan masyarakat di Pulau Gili Iyang terus terjalin. Dan tetap komitmen membantu masyarakat setempat untuk memaksimalkan potensi alam dan desanya untuk kesejahteraan warga. nti




