Bambang Sugiarto Tampilkan Tiga Karya di Pameran Keempatnya

“Nyambi” karya Bambang Sugiarto.

SURABAYA (wartadigital.id) –
Tiga lukisan Bambang Sugiarto tampil di antara 127 karya dalam pameran bertajuk “Rupa Karya Nusantara”, di The Central Mall Gunawangsa Tidar, Jalan Tidar, Surabaya, pada Sabtu (25/4/2026) hingga Minggu (31/5/2026).

Ketiga karya adalah “Nyambi” (50×70 cm), “Wong Tengger” (40×50 cm), dan “Mbah Maimoen Zubair” (50×70 cm), menjadi penanda konsistensi sekaligus fase baru perjalanan estetiknya.

Bacaan Lainnya

Partisipasi ini menandai pameran keempat yang diikuti Bambang sejak kembali aktif melukis. Sebelumnya, ia menggelar pameran perdananya bertajuk “Kembali” di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda, Surabaya, pada 3–12 Februari 2026.

Momentum tersebut hadir tak lama setelah ia purna bakti dari jabatan Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Branta, Pamekasan, di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, pada November 2025.

Dari ruang administrasi negara, ia beralih kembali ke ruang kontemplasi visual, sebuah pergeseran yang tidak sekadar profesi, melainkan juga orientasi hidup sebagai pelukis profesional.

Pelukis Bambang Sugiarto marakkan pameran bersama “Rupa Karya Nusantara”

Namun, seni lukis bukanlah dunia yang asing baginya. Jauh sebelum karier birokrasi membentuk jalan hidupnya, Bambang telah lebih dahulu akrab dengan kanvas dan warna.

Pria kelahiran Banyuwangi, 14 Oktober 1967 itu menekuni seni secara otodidak sejak remaja, mulai dari melukis sangkar burung perkutut, mengerjakan mural, hingga mengeksplorasi cat minyak di atas kanvas.

Praktik-praktik awal itu membentuk kepekaan visual yang kelak menjadi fondasi penting dalam karya-karyanya hari ini.

Selama kurang lebih tiga dekade, kuas seolah terlepas dari tangannya. Dunia birokrasi menuntut disiplin yang berbeda, menjauhkan dirinya dari proses kreatif yang dahulu menjadi bagian keseharian.

Namun, jeda panjang itu tidak menghapus ingatan estetiknya. Warna, garis, dan komposisi tetap tersimpan dalam ingatannya meski diam, tetapi tidak hilang.

Kini, setelah masa pengabdiannya usai, Bambang kembali menapaki jalur yang pernah ia tinggalkan.

Kepulangannya ke dunia seni lukis tidak hanya menghadirkan karya-karya baru, tetapi juga menawarkan narasi tentang ketekunan, jeda, dan keberanian untuk memulai kembali melukis.

Dalam lanskap seni rupa yang terus bergerak, kisah semacam ini menjadi penting. Bukan hanya sebagai biografi personal, tetapi sebagai pengingat bahwa praktik artistik sering kali berjalan dalam ritme yang tidak linear, namun tetap menemukan jalannya sendiri menuju keberlanjutan kehidupan. tok
.