
SURABAYA (wartadigital.id) – Dominasi teori jurnalisme Barat selama beberapa dekade telah membentuk cara memahami praktik jurnalistik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Namun, praktik jurnalisme yang berkembang dalam media organisasi keagamaan menunjukkan adanya dinamika yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh paradigma tersebut.
Berangkat dari persoalan inilah, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA), Lukman Hakim, meneliti praktik jurnalisme pada media organisasi Islam melalui disertasi doktoralnya.
Penelitian ini menawarkan perspektif baru bahwa jurnalisme dakwah bukanlah bentuk jurnalisme alternatif yang berada di luar tradisi profesional, melainkan salah satu varian jurnalisme modern kontemporer yang tumbuh melalui proses dewesternisasi, yakni melalui apropriasi, rekonstruksi, dan rekontekstualisasi prinsip-prinsip jurnalisme modern sesuai dengan nilai-nilai Islam dan konteks sosial Indonesia.
Disertasi berjudul “Dewesternisasi Jurnalisme di Indonesia: Konstruksi Media Dakwah pada Media Organisasi Islam” itu dipertahankan dalam sidang ujian terbuka Program Doktor Studi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya, Senin (22/6/2026).
Penelitian mengkaji praktik redaksional Majalah Aula dan Majalah Hidayatullah sebagai representasi media organisasi Islam sekaligus arena praktik dewesternisasi jurnalisme di Indonesia.
Melalui penelitian kualitatif dengan desain multi-metode yang menggabungkan analisis teks berita dan penelitian lapangan di ruang redaksi, penelitian ini menemukan, jurnalisme dakwah yang dilakukan media organisasi Islam tidak meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalisme modern seperti verifikasi, independensi, akurasi, dan profesionalisme, namun prinsip-prinsip tersebut diapropriasi, direkonstruksi, dan direkontekstualisasikan ke dalam orientasi redaksional yang berlandaskan nilai-nilai Islam, identitas organisasi, dan misi dakwah masing-masing media.
Temuan itu menunjukkan bahwa jurnalisme dakwah tidak berkembang melalui penolakan terhadap jurnalisme modern, melainkan melalui proses dewesternisasi yang menghasilkan praktik jurnalisme hibrid, yakni praktik jurnalistik yang tetap berlandaskan standar profesional modern, tetapi dikembangkan sesuai dengan orientasi redaksional serta realitas sosial-keagamaan Indonesia.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa media organisasi Islam tidak meninggalkan prinsip-prinsip jurnalisme modern. Yang terjadi justru proses apropriasi dan rekonstruksi sesuai dengan nilai-nilai Islam dan orientasi organisasi masing-masing media. Karena itu, saya menyebut model ini sebagai Dewesternisasi Jurnalisme Dakwah Hibrid-Apropriatif,” ujar Lukman Hakim, lulusan University of New England Australia ini, usai sidang terbuka.
Model konseptual itu dibangun atas empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu dimensi institusional, profesional, fungsi normatif media, dan logika seleksi berita. Keempat dimensi tersebut menjelaskan, media organisasi Islam tetap menjalankan standar profesional jurnalistik modern, tetapi menyesuaikannya dengan ideologi organisasi, misi dakwah, serta konteks sosial-budaya masyarakat Indonesia.
Dengan demikian, profesionalisme jurnalistik tidak diposisikan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, melainkan dapat berjalan secara harmonis melalui proses adaptasi dan rekonstruksi.

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah konsep cultural proximation. Konsep ini menjelaskan, media organisasi Islam membangun kedekatan berita tidak hanya melalui faktor lokasi atau waktu, tetapi juga melalui simbol budaya, identitas kolektif, dan nilai-nilai keagamaan. Dengan cara tersebut, peristiwa yang terjadi di tempat yang jauh tetap dapat dirasakan relevan dan dekat oleh pembaca. Hal ini berbeda dengan konsep proximity dalam teori nilai berita Barat yang menekankan kedekatan geografis atau psikologis
“Dalam jurnalisme dakwah, yang dibangun bukan hanya kedekatan peristiwanya, tetapi juga kedekatan maknanya. Melalui simbol budaya dan nilai-nilai keagamaan, media menghadirkan peristiwa sehingga terasa dekat dengan pengalaman dan keyakinan pembaca. Proses itulah yang saya sebut sebagai cultural proximation,” ujar dosen UINSA Surabaya ini, yang juga mantan wartawan Harian Bhirawa.
Selain memperkaya khazanah teori dewesternisasi jurnalisme, penelitian ini menunjukkan, kekuatan utama media organisasi keagamaan pada era disrupsi digital tidak hanya terletak pada kemampuan mengadopsi teknologi komunikasi, tetapi juga pada kemampuannya membangun resiliensi simbolik. Resiliensi itu diwujudkan melalui reproduksi nilai-nilai Islam, identitas organisasi, memori kolektif, dan kedekatan budaya (cultural proximation) dalam setiap praktik pemberitaan.
Mekanisme inilah yang memungkinkan media dakwah tetap memiliki relevansi, kepercayaan, dan basis pembaca yang loyal meskipun berada di tengah kompetisi media global dan derasnya arus informasi di media sosial.
Sidang ujian terbuka dipimpin Dr H Hammis Syafaq, MFil.I, dan dihadiri oleh dewan penguji, yakni Prof Dr H Nur Syam, MSi. sebagai promotor, didampingi Prof H Masdar Hilmy, SAg, MA., PhD sebagai ko-promotor.
Bertindak sebagai penguji eksternal adalah Prof Dra Rachmah Ida, M.Comms., PhD dari Universitas Airlangga, sedangkan penguji internal terdiri atas Prof Dr Achmad Zaini, MA, Prof Dr H Ali Nurdin, MSi., dan Dr Rofhani, MAg.
Sidang yang berlangsung di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung Twin Tower B KH. Mahrus Aly itu turut dihadiri dosen, peneliti, mahasiswa, serta kolega akademik dari lingkungan UIN Sunan Ampel Surabaya. edt, *