Jadi  Konselor Perwakilan Tetap RI Jenewa

Anisa Farida

SURABAYA (wartadigital.id)  – Lulusan Unair kembali berkiprah di kancah global. Anisa Farida, alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair menapaki karier panjang di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI). Hingga kini, ia telah mengabdi hampir 16 tahun dalam berbagai penugasan diplomatik. Baik di dalam negeri maupun di sejumlah perwakilan Indonesia di luar negeri.

Lulus dari Unair pada 2007, Anisa tidak serta merta membayangkan ia akan berkarier di dunia diplomasi. Latar belakang pendidikan sastra yang ia tempuh kala itu lebih sering diasosiasikan dengan profesi pengajar, penerjemah, atau pemandu wisata. Namun, pada 2008, atas ajakan rekan-rekannya, Anisa mencoba peruntungannya mengikuti seleksi calon diplomat di Kemlu RI. Tanpa ekspektasi berlebih, ia justru lolos dan resmi bergabung pada akhir tahun tersebut.

Bacaan Lainnya

Memasuki Kemlu RI pada awal 2009, Anisa memulai kariernya melalui Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu). Berangkat tanpa latar belakang hubungan internasional, Anisa mengaku harus mempelajari banyak hal dari dasar. “Waktu masuk itu benar-benar dari nol. Saya bukan yang dari HI (hubungan Internasional, red) atau hukum, jadi semua teori dan cara berpikir diplomasi itu baru. Untungnya memang ada pelatihan berjenjang, jadi pelan-pelan terbentuk,” ujarnya dalam keterangan resmi belum lama ini.

Penugasan luar negeri pertama Anisa membawanya ke Toronto, Kanada. Dalam masa magang tersebut, Anisa terlibat dalam berbagai kegiatan kekonsuleran dan kemanusiaan. Termasuk penggalangan dana bersama masyarakat Indonesia dan simpatisan internasional. Dari pengalaman itu, ia mulai bersentuhan langsung dengan isu kemanusiaan lintas negara.

Fokus Isu Kemanusiaan Global

Sekembalinya ke Indonesia, Anisa bergabung dengan Direktorat Hak Asasi Manusia dan Kemanusiaan Kemlu RI. Dari unit inilah ketertarikannya terhadap isu HAM semakin berkembang. Terutama yang berkaitan dengan perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri. Penugasan di London, Inggris, kemudian menjadi fase penting dalam perjalanan kariernya.

Di sana, Anisa menangani berbagai persoalan konsuler, termasuk kasus pekerja migran Indonesia yang mengalami kekerasan, eksploitasi, hingga kerja paksa. “Di London itu tekanannya terasa sekali, karena kita berhadapan langsung dengan orang. Bukan cuma dokumen. Telepon bisa masuk kapan saja, dan kita harus langsung mikir, ini harus gimana, dampaknya ke orang ini apa,” tuturnya.

Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah keterlibatan dalam proses pemulangan seorang pekerja migran perempuan yang tidak kembali ke Indonesia selama 18 tahun akibat disekap oleh majikannya. Menurut Anisa, pengalaman tersebut memperkuat pemahamannya tentang makna kehadiran negara bagi warganya. “Di situ saya benar-benar merasa, oh ini lho fungsi negara. Ketika orang sudah di posisi paling rentan, negara harus hadir,” katanya.

Setelah menyelesaikan penugasan di London, Anisa kembali ke Jakarta dan bertugas di Direktorat Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata, yang tetap bersinggungan dengan HAM. Pada 2022, Anisa mendapat penempatan di Jenewa, Swiss, dengan penugasan yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, ia menangani isu perdagangan internasional dalam forum multilateral, sebuah bidang yang mengharuskannya kembali belajar dari awal. “Awalnya saya merasa keluar dari jalur yang sudah saya bangun. Tapi ternyata isu perdagangan ini menarik, karena hasil negosiasinya itu mengikat dan ada mekanisme penegakannya. Jadi dampaknya terasa langsung,” jelasnya.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap diplomasi. Jika sebelumnya ia banyak berkutat pada norma dan nilai, kini ia melihat diplomasi juga sebagai instrumen strategis dengan konsekuensi konkret bagi negara. “Di forum perdagangan, kalau kita salah negosiasi, dampaknya nyata. Ada real effect-nya. Itu yang akhirnya bikin saya tertarik. Hidup itu lifelong learning. Kalau kita berhenti belajar, ya kita akan stuck. Justru ketika dipaksa belajar hal baru, di situ kita berkembang,” pungkasnya. nti

 

Pos terkait