Mendadak Mundur, Airlangga Diduga dalam Tekanan

Airlangga Hartarto

 

JAKARTA (wartadigital.id) –  Mundurnya Airlangga Hartarto (AH) sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar diyakini dalam posisi tertekan dari pihak tertentu.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto merespons video Airlangga beredar yang berisi pernyataan mundur sebagai Ketum Golkar. “AH sudah pasti dalam tekanan,” kata Hari, Minggu (11/8/2024).

Menurut Hari, mundurnya Airlangga akan membuka ruang dan jalan mulus pencari suaka politik, yakni Joko Widodo. Segala cara akan dilakukan Jokowi dan dinastinya, apalagi Partai Golkar adalah partai yang mengusung Gibran mendampingi Prabowo Subianto.

“Gagasan mencarikan ruang bagi Jokowi sudah dilakukan. Namun sulit karena Jokowi dan dinasti tidak memiliki parpol yang dapat berkiprah di parlemen. Maka tidak lain memasukkan dinastinya ke Partai Golkar,” pungkas Hari.

Jokowi Dikabarkan Jadi Ketum

Isu Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk jadi Ketum Golkar kembali mengapung ke permukaan. Santer terdengar, Munaslub Golkar bakalan dipercepat. Kemungkinan usai perayaan HUT RI.  Santer dibicarakan Bahlil menguat sebagai Ketua Umum Golkar dan Jokowi akan duduk sebagai Ketua Dewan Pembina.

Pada Maret lalu, Presiden Joko Widodo menanggapi isu soal dirinya yang disebut akan menjadi Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar. Hal itu disampaikan Presiden Jokowi ketika ditanya soal isu tersebut oleh wartawan usai meninjau RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie di Pontianak, Kalimantan Barat pada Kamis (21/3/2024).

Mula-mula, Presiden tertawa ketika mendengar pernyataan awak media soal ketua umum Golkar. “Hehehehe. Saya sementara ini ketua Indonesia saja hehehehe,” kata Jokowi sebagaimana dilansir siaran YouTube Sekretariat Presiden.

Sebelumnya, Presiden Jokowi sempat merespons isu soal dirinya yang disebut akan bergabung ke Partai Golkar usai masa jabatan sebagai Presiden RI berakhir. Presiden tidak memberikan bantahan terkait isu tersebut. Akan tetapi, Kepala Negara juga tidak memberikan jawaban yang tegas. Usulan agar Jokowi menjadi Ketua Umum Partai Golkar periode 2024-2029, salah satunya, diajukan oleh anggota Dewan Pakar Partai Golkar, Ridwan Hisjam.

Politikus senior Partai Golkar itu menilai, Jokowi memenuhi kriteria untuk memimpin partainya karena rekam jejaknya merepresentasikan ideologi karya kekaryaan yang diterapkan Golkar.

Hal itu setidaknya terlihat dari penamaan Kabinet Kerja pada periode pertama kepemimpinannya. Selain itu, pada periode kedua pemerintahannya, Jokowi menempatkan kader Golkar sebagai Menteri Koordinator (Menko). rmo, ins

Pos terkait