
Baliho bergambar Habib Rizieq Shihab disertai tulisan Usut Tuntas Tragedi KM 50 muncul di Madura. Warga mengawalnya sampai malam.
JAKARTA (wartadigital.id) – Pemasangan baliho besar bertuliskan “Usut Tuntas Tragedi KM 50, Pembantaian Syuhada 6 Laskar FPI” bertebaran di sejumlah daerah, termasuk di Madura. Diyakini pemasangan ini atas inisiatif warga.
Hal itu disampaikan Ketua Umum (Ketum) GNPF Ulama Yusuf Martak menanggapi banyaknya baliho berukuran besar yang dipasang di sejumlah daerah, termasuk warga di Madura.
“Mengenai baliho besar yang dipasang di salah satu daerah di Madura, walau ada foto Habib Rizieq berukuran besar, itu semata dilakukan oleh pencinta dan simpatisan Habib Rizieq Shihab yang lagi rindu pada orang yang menjadi idolanya,” ujar Yusuf Martak, Selasa (1/2/2022).
Yusuf mengatakan, hal itu disuarakan dan diperjuangkan oleh warga Madura yang menilai proses pengusutan serta pengadilan terkait KM 50 tidak berjalan maksimal. Apalagi, Komnas HAM juga berdalih pembunuhan enam orang laskar FPI tersebut hanya pelanggaran HAM biasa, bukan pelanggaran HAM berat.
Ia kembali menegaskan, sejauh ini tidak ada instruksi yang diberikan PA 212, GNPF-Ulama maupun FPI terkait pemasangan baliho jumbo tersebut.
“Sebenarnya ada beberapa daerah melakukan hal yang sama tanpa arahan apalagi instruksi baik dari GNPF Ulama, FPI, maupun PA 212, yang jelas adalah inisiatif mereka sendiri dan punya keterpanggilan pada sesama anak bangsa,” pungkas Yusuf.
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin menanggapi banyaknya baliho berukuran besar bertuliskan “Usut Tuntas Tragedi KM 50, Pembantaian Syuhada 6 Laskar FPI” dan bergambar HRS serta laskar FPI yang menjadi korban KM 50 di Madura belakangan ini.
“Sebenarnya kalau tidak dibendung atau dicopot oleh oknum yang menyimpang dari tupoksinya, maka baliho IB HRS sudah berada di mana saja,” ujar Novel, Selasa (1/2/2022).
Bertebarannya baliho bergambar Habib Rizieq tersebut menurut Novel, merupakan hal yang spontan dilakukan oleh umat Islam yang cinta kepada ulama dan habib. “Mereka istiqomah merogoh kocek sendiri, masing-masing mempunyai inisiatif sendiri baik bentuk gambar maupun pemasangannya,” kata Novel.
Dengan demikian, Novel menilai sudah saatnya rezim saat ini sadar bahwa rakyat Indonesia memiliki rasa cinta yang mendalam kepada Habib Rizieq. “Karena IB HRS adalah pejuang yang benar-benar membela negara, agama juga rakyat Indonesia dari penistaan agama, penjajahan asing dan aseng, serta aliran sesat juga penyakit sepilis (sekularisme, pluralisme dan liberalisme),” pungkas Novel. rmo