Pakta Pertahanan Saudi-Pakistan Bakal Ubah Peta Geopolitik Timur Tengah

Reuters
Arab Saudi dan Pakistan akan menandatangani pakta pertahanan strategis.

RIYADH (wartadigital.id)  – Arab Saudi dan Pakistan menandatangani pakta pertahanan strategis di tengah eskalasi tensi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri Pakistan menyebut pakta ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat keamanan, mendorong perdamaian regional, sekaligus menghadapi potensi agresi.

Isi kesepakatan menyatakan bahwa setiap agresi terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai agresi terhadap kedua negara “Perjanjian ini bertujuan mengembangkan aspek kerjasama pertahanan serta memperkuat upaya pencegahan bersama terhadap setiap bentuk agresi,” tulis pernyataan tersebut dikutip dari DW pada Sabtu (20/9/2025).

Bacaan Lainnya

Meski detail perjanjian belum sepenuhnya diungkap, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Mohammad Asif menyebut program nuklir negaranya dapat dimanfaatkan Arab Saudi bila diperlukan. Dalam wawancara dengan Geo TV pada Kamis (18/9/2025) malam waktu setempat, Asif menegaskan kemampuan nuklir Pakistan sudah mapan sejak uji coba dilakukan beberapa dekade lalu.  “Apa yang kami miliki akan dapat digunakan oleh Saudi sesuai perjanjian ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengakuan pertama bahwa Islamabad siap menempatkan Arab Saudi di bawah payung nuklirnya. Kesepakatan antara kedua negara muncul di tengah meningkatnya keraguan negara-negara Timur Tengah terhadap keandalan Amerika Serikat sebagai sekutu keamanan.

Sebagian analis melihat waktu penandatanganan terkait dengan eskalasi militer Israel pasca serangan Hamas pada 2023. Namun, Maleeha Lodhi, pakar hubungan internasional dan mantan Duta Besar Pakistan untuk AS dan PBB menegaskan negosiasi kesepakatan sudah berlangsung jauh sebelumnya. Sementara itu, analis keamanan asal London Ghaffar Hussain, menilai pakta ini lebih sebagai antisipasi terhadap Iran ketimbang Israel, mengingat ketegangan terkait program nuklir Teheran.  “Ini bisa dilihat sebagai jalan pintas menuju kemampuan nuklir jika Iran berhasil memperoleh senjata nuklir, sekaligus pesan bahwa Saudi semakin skeptis terhadap jaminan keamanan AS,” jelasnya.

Sementara itu, Elizabeth Threlkeld, Direktur Program Asia Selatan di Stimson Center AS, menyebut pengumuman ini signifikan meski detailnya belum diumumkan secara gamblang.  Menurutnya, kesepakatan ini akan memperkuat peran Pakistan sebagai pemain kunci keamanan di Timur Tengah. “Pakta ini juga sekaligus meningkatkan ketergantungan Pakistan pada Arab Saudi untuk dukungan energi dan ekonomi,” jelas Threlkeld.

Sementara itu, Muhammad Faisal, peneliti keamanan Asia Selatan di University of Technology Sydney, menilai serangan Israel terhadap Qatar beberapa waktu lalu menjadi salah satu pemicu terjadinya kesepakatan antara Pakistan dengan Arab Saudi. Serangan Israel di Doha, Qatar memicu rapat darurat negara-negara Arab dan Islam.

Negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yang terdiri atas Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan akan mengaktifkan mekanisme pertahanan bersama. Dia menuturkan, rangkaian peristiwa tersebut telah memperburuk kecemasan keamanan negara-negara Teluk sekaligus mengikis keyakinan terhadap payung keamanan AS sebagai perisai utama. “Ketika negara-negara Teluk berupaya memperkuat pertahanan mereka, negara-negara kawasan seperti Pakistan, Mesir, dan Turki muncul sebagai mitra alami,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera. bis