
Layanan di Bank BTN.
JAKARTA (wartadigital.id) — Pertumbuhan kredit konsumsi kembali melambat pada Juli 2026, seiring dengan tertahannya penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit multiguna. Data Bank Indonesia (BI) mencatat kredit konsumsi tumbuh 5,3% secara tahunan (year on year/YoY) pada Juli 2026, melambat dibandingkan pertumbuhan 5,7% (YoY) pada Juni 2026. Perlambatan tersebut tercermin dari pertumbuhan KPR yang turun menjadi 4,3% (YoY) pada Juli 2026 dari 4,4% (YoY) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, kredit multiguna tumbuh 7,6% (YoY), melambat dari 8,3% (YoY) pada Juni 2026. Di sisi lain, kredit kendaraan bermotor (KKB) masih mencatat kontraksi sebesar 10,0% (YoY) pada Juli 2026.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai bahwa perlambatan kredit konsumsi di tengah pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang masih tinggi menunjukkan perlunya bank meningkatkan selektivitas penyaluran kredit. Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta mengharuskan bank memperketat penyaluran kredit konsumsi secara menyeluruh.
Menurutnya, pertumbuhan kredit konsumsi yang melambat menjadi 5,3% (YoY) pada Juli 2026 dari 5,7% (YoY) pada Juni 2026, ditambah kontraksi KKB sebesar 10% (YoY), dapat mencerminkan kehati-hatian perbankan sekaligus melemahnya kemauan dan kemampuan rumah tangga untuk mengambil utang baru. “Karena itu, bank perlu menerapkan selektivitas berbasis risiko, bukan sekadar memperlambat penyaluran kredit,” kata Ronny dikutip, Rabu (9/9/2026).
Ronny menambahkan, bank tetap dapat mendorong kredit kepada debitur dengan arus kas dan kemampuan pembayaran yang sehat, tetapi perlu lebih berhati-hati terhadap segmen dengan tingkat leverage tinggi atau pendapatan yang rentan terhadap perlambatan ekonomi. Di sisi lain, pertumbuhan kredit korporasi dan kredit produktif yang lebih cepat memberikan ruang bagi bank untuk menyeimbangkan kembali portofolio kredit tanpa harus memaksakan pertumbuhan kredit konsumsi.
Menurutnya, bank juga perlu melihat perlambatan kredit konsumsi dari sisi permintaan, bukan hanya pasokan perbankan. Masyarakat bisa saja menunda pembelian rumah atau kendaraan karena menilai pendapatan dan prospek ekonomi belum cukup aman. Dengan demikian, kata dia, bank perlu membedakan perlambatan akibat pengetatan penyaluran kredit (credit tightening) dengan melemahnya permintaan kredit (demand for credit).
Ronny juga menyoroti mitigasi risiko yang paling penting dilakukan bank saat ini guna menjaga kualitas kredit konsumsi. Menurutnya, mitigasi risiko yang paling penting adalah memperkuat underwriting berbasis kemampuan bayar secara dinamis, bukan hanya mengandalkan histori kredit. “Bank perlu melihat cash flow aktual, stabilitas pendapatan, total kewajiban debitur, debt service ratio, serta perubahan perilaku pembayaran secara berkala,” jelasnya.
Tidak hanya itu, bank juga perlu memperkuat sistem peringatan dini (early warning system/EWS) untuk mengantisipasi potensi peningkatan kredit bermasalah. Bank tidak perlu menunggu rasio kredit bermasalah (NPL) meningkat untuk mengambil tindakan. Menurutnya, bank dapat memanfaatkan perubahan saldo rekening, pola pembayaran, penggunaan fasilitas kredit, hingga indikasi penurunan pendapatan sebagai indikator awal untuk mendeteksi debitur yang mulai mengalami tekanan keuangan.
Di sisi lain, bank perlu melakukan segmentasi risiko. Ronny menuturkan, debitur berisiko rendah tidak seharusnya diperlakukan sama dengan debitur berisiko tinggi. Untuk debitur yang sehat, lanjut dia, proses kredit bisa dibuat lebih cepat dan pricing lebih kompetitif. Sementara pada segmen yang lebih rentan, mitigasinya bisa berupa tenor yang lebih konservatif, down payment yang lebih memadai, atau monitoring yang lebih ketat.
Sejalan dengan pandangan tersebut, sejumlah bank mulai memperkuat sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga kualitas kredit konsumsi di tengah perlambatan pertumbuhan. Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Ganda Raharja Rusli mengatakan bank perlu memperkuat mitigasi risiko kredit konsumsi di tengah perlambatan pertumbuhan kredit. Salah satunya dengan mempertajam standar analisis kelayakan kredit melalui pengetatan batas cicilan terhadap pendapatan bersih atau take-home pay debitur untuk mengantisipasi tekanan terhadap daya beli.
Allo Bank juga mengoptimalkan integrasi data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK dengan data alternatif, seperti riwayat transaksi dompet elektronik (e-wallet), pembayaran utilitas, dan jejak digital lainnya. Langkah tersebut dilakukan untuk memverifikasi profil risiko calon debitur sebelum bank menyetujui penyaluran kredit.
Untuk produk pinjaman dengan agunan, lanjut dia, bank juga dapat meningkatkan proporsi uang muka pada segmen tertentu yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, bank memperketat pemantauan untuk mendeteksi potensi keterlambatan pembayaran sejak dini. Ganda mengatakan bank dapat menghubungi debitur lebih awal dan menawarkan opsi restrukturisasi, seperti perpanjangan tenor atau penjadwalan ulang pembayaran, kepada debitur yang mulai menunjukkan kesulitan likuiditas harian.
Menurutnya, kondisi saat ini mendorong bank untuk tidak lagi mengejar pertumbuhan volume kredit secara agresif dan masif. Bank perlu menerapkan strategi selektif terarah dengan mengurangi ekspansi pada segmen yang rentan terhadap tekanan inflasi dan daya beli, sembari mencari segmen debitur dengan risiko lebih rendah. “Segmen debitur yang lebih rendah risikonya seperti segmen pegawai melalui kerja sama skema pemotongan gaji,” jelas Ganda.
Strategi mitigasi risiko tersebut juga menjadi perhatian bank lain di tengah perlambatan pertumbuhan kredit konsumsi. Perbankan tidak hanya memperketat proses penyaluran, tetapi juga memperkuat pemantauan kualitas kredit untuk memastikan ekspansi tetap berjalan secara sehat. Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan PT Bank Ok Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan, bank memperkuat prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit konsumsi melalui proses underwriting yang disiplin, pemanfaatan credit scoring, serta pemantauan portofolio secara berkala. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset.
OK Bank juga tetap mendorong pertumbuhan kredit konsumsi secara selektif melalui skema channeling dengan menggandeng perusahaan pembiayaan, e-commerce, dan mitra lainnya. Efdinal mengatakan bank memprioritaskan penyaluran kredit kepada debitur yang memiliki kemampuan membayar dengan baik. Dengan strategi tersebut, OK Bank tidak hanya mengejar pertumbuhan volume kredit, tetapi juga memastikan ekspansi berlangsung secara sehat dan berkelanjutan. “Jadi strategi selain mengejar volume, bank juga memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan,” ujar Efdinal. bis





