Rizal Ramli Sebut Bank Dunia Hanya Bisa Laporan, Tak Berani Tegur Sri Mulyani

Istimewa
Sri Mulyani

 

JAKARTA (wartadigital.id) – Bank Dunia seharusnya bisa lebih tegas menegur pemerintah Indonesia, dalam hal ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati soal angka kemiskinan.

Bacaan Lainnya

Artinya, kata begawan ekonomi Rizal Ramli, Bank Dunia jangan sekadar mengingatkan soal indeks kemiskinan semata. Tetapi, harus ditegur juga. “Bank Dunia hanya bisa laporkan jutaan rakyat jatuh miskin, tapi tidak berani menegor SPG-nya Menkeu terbalik,” cuit Rizal Ramli dikutip Kamis (11/5/2023).

Dikatakan Rizal, Bank Dunia harusnya menegur Sri Mulyani bahwa salah satu sebab mengapa banyak orang miskin di Indonesia, adalah skandal transaksi janggal Rp 349 triliun. “Bahwa skandal keuangan terbesar di dunia 23 miliar dolar AS (Rp 349 triliun), itu salah satu penyebab kemiskinan di Indonesia,” pungkasnya.

Adapun Bank Dunia merekomendasikan kepada pemerintah Indonesia supaya mengubah acuan tingkat garis kemiskinan yang diukur melalui paritas daya beli atau purchasing power parity.

Menurut Bank Dunia, seharusnya garis kemiskinan di Indonesia diukur dengan paritas daya beli melalui besaran pendapatan sebesar 3,20 juta dolar AS, bukan dengan ukuran yang pemerintah gunakan sejak 2011, sebesar 1,90 dolar AS per hari.

Rekomendasi Bank Dunia kepada Pemerintah Indonesia agar mengubah acuan tingkat kemiskinan, dinilai Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (SMI), belum bisa menggambarkan kondisi perekonomian masyarakat.

SMI juga mengatakan, jika ukuran garis kemiskinan dinaikkan justru menyebabkan 40 persen masyarakat masuk golongan orang miskin.

Lebih Baik Urus TPPU

Sikap SMI itu pun mendapat tanggapan dari peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng. Menurutnya, lebih baik SMI fokus mengurus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menyasar kementeriannya.

“SMI gak usah terlalu banyak ngurusin garis kemiskinan, kan ada Menko dan BPS. Sebaiknya bereskan uang hasil cucian Rp 349 triliun,” kata Salamuddin,  Kamis (11/5/2023).

Salamuddin Daeng juga menambahkan, jika uang Rp 349 triliun dibagi rata ke 40 persen penduduk berpendapatan terendah, yakni 100 juta orang, maka setiap orang mendapat Rp 3,5 juta. “Maka setiap bulan bisa dapat Rp 300 ribu, maka 40 persen penduduk termiskin naik di atas garis kemiskinan Bank Dunia,” beber Salamuddin. rmo