Selamat Setelah 18 Jam Hilang, Pendakian Pelajar Lumajang Jadi Pengingat Soal Keselamatan

Insiden tersesatnya seorang pelajar SMK di Gunung Lemongan yang berhasil ditemukan selamat setelah hilang selama 18 jam

LUMAJANG (wartadigital.id)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang menegaskan pentingnya edukasi keselamatan bagi pelajar dan pemuda yang hendak melakukan pendakian gunung.

Imbauan ini disampaikan menyusul insiden tersesatnya seorang pelajar SMK di Gunung Lemongan, yang berhasil ditemukan selamat setelah hilang selama 18 jam.

Bacaan Lainnya

“Kami tidak melarang pendakian, tapi prosedur keselamatan harus menjadi prioritas. Gunung bukan tempat coba-coba. Pendaki, apalagi usia pelajar, wajib paham medan, membawa logistik, dan koordinasi dengan pengelola wisata sebelum berangkat,” kata Petugas Pusdalops BPBD Lumajang, Dwi Nurcahyo saat dikonfirmasi, Selasa (15/7/2025).

Insiden ini melibatkan M. Aldy Laksmana (16), siswa kelas XI SMK Negeri Tekung, yang dilaporkan hilang saat melakukan pendakian tektok (pulang-pergi dalam sehari) di Gunung Lemongan, Minggu (13/7/2025).

Ia bersama dua rekannya, Hakiki Fano Ramadhan (SMKN 2 Lumajang) dan M. Johan (SMP Ibnusina), melakukan pendakian tanpa pendampingan orang dewasa.

Setelah berhasil mencapai puncak, Aldy dilaporkan linglung dan tiba-tiba berlari kembali ke arah atas saat dalam perjalanan turun. Teman-temannya hanya menemukan tas dan jaket miliknya, lalu melapor ke petugas pos pendakian sekitar pukul 14.00 WIB.

Tim gabungan dari TRC BPBD, Tagana Dinsos P3A, Babinsa, dan relawan lainnya langsung menyusun pencarian. Karena medan gelap dan minim penerangan, evakuasi penuh dilakukan pada Senin (14/7) pagi dibantu laporan seorang pendaki yang mendengar suara teriakan manusia.

Aldy ditemukan dalam keadaan lemas di sisi jurang sekitar 1 kilometer dari jalur utama. Evakuasi dilakukan secara manual dan korban langsung dibawa ke Pos Laskar Hijau untuk pemeriksaan medis oleh PSC 119. Setelah dinyatakan stabil, ia dipulangkan kepada keluarganya.

BPBD menekankan bahwa pendakian, meskipun terlihat mudah, menyimpan banyak potensi bahaya. Anak-anak dan remaja perlu dibekali pengetahuan dasar pendakian, termasuk navigasi, etika alam, dan pemahaman terhadap risiko tersesat, dehidrasi, maupun panik.

“Kami akan berkoordinasi dengan sekolah, perangkat desa, dan pengelola wisata agar setiap pendakian pelajar wajib terdaftar dan mendapat briefing keselamatan. Ini bukan untuk membatasi, tapi demi mencegah kejadian yang bisa membahayakan nyawa,” ujar Dwi Nurcahyo.

Pihaknya juga mengapresiasi kolaborasi semua unsur dalam proses penyelamatan, termasuk TRC BPBD, Tagana, Babinsa Papringan, Polsek Klakah, Perhutani, Puskesmas Klakah, dan BumDes Papringan. Koordinasi lintas sektor terbukti vital dalam menyelamatkan korban tepat waktu.

Dari kejadian ini, BPBD berharap masyarakat tidak hanya melihat sisi dramatisnya, tetapi mengambil pelajaran berharga: keselamatan adalah tanggung jawab bersama, dan edukasi adalah alat pencegah paling kuat dalam aktivitas alam terbuka. uja, kim

Pos terkait