September 2026, Neraca Perdagangan RI Surplus 3,36 Miliar Dolar AS

Ilustrasi penumpukan kargo di IPC Terminal Petikemas Jakarta.

JAKARTA (wartadigital.id)— Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada September 2026 sebesar 3,36 miliar dolar AS. Nilai surplus tersebut menyusut jika dibandingkan capaian pada Agustus 2026 yang sebesar 3,55 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bahwa Indonesia mencatatkan ekspor September 2026 mencapai 27,59 miliar dolar AS atau naik 11,87% jika dibandingkan September 2025 (year on year/YoY).

Bacaan Lainnya

Dia menyebut nilai ekspor migas tercatat mencapai 0,95 miliar dolar AS atau turun 0,99%%. Di sisi lain, nilai ekspor non migas naik 12,39% dengan nilai pada September 2026 sebesar 26,64 miliar dolar AS.

Ateng menjelaskan kenaikan nilai ekspor September 2026 utamanya didorong oleh ekspor nonmigas dari beberapa komoditas yaitu lemak dan minyak hewani nabati (HS15) naik 89,04% secara YoY, tembaga dan barang daripadanya (HS74) naik 165,97% secara YoY, serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) naik 24,37% secara YoY.

Adapun, nilai impor September 2026 mencapai 24,23 miliar dolar AS atau naik 18,41% dibandingkan September 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas September 2026 mencapai 3,27 miliar dolar AS atau naik 23,94% secara yoy, sedangkan nilai impor non migas September 2026 mencapai 20,96 miliar dolar AS atau naik 17,59% secara yoy.

Ateng menyebut peningkatan impor September 2026 ini didorong oleh impor non migas dengan andil sebesar 15,33%. “Pada September 2026, neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS,” kata Ateng, Senin (2/11/2026).

Surplus neraca perdagangan pada bulan September 2026 disebabkan terutama surplus pada komoditas non migas sebesar 5,67 miliar dolar AS. Adapun, komoditas utama penyumbang surplus yaitu dari lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Sementara itu, sejumlah ekonom sebelumnya memperkirakan bahwa neraca perdagangan Indonesia masih akan mencatatkan surplus pada September 2026. Namun, nilainya diproyeksi menyusut.

Sebelumnya Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Andry Asmoro memproyeksikan surplus neraca perdagangan sebesar 2,25 miliar dolar AS pada September 2026. Angka tersebut lebih rendah apabila disandingkan dengan capaian surplus 3,55 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.

Rinciannya, nilai ekspor diperkirakan mencapai 27,3 miliar dolar AS pada September 2026, tumbuh 2,5% secara bulanan (month to month/MtM) dan 10,6% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, nilai impor diproyeksikan berbalik melonjak sebesar 8,6% MtM menjadi 25 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan tahunan hingga 22,3% YoY. “Penyempitan surplus ini terutama mencerminkan pemulihan impor menyusul koreksi sebesar 11,6% MtM yang terjadi pada Agustus 2026,” jelas Asmo dalam analisis Macro Preview Office of Chief Economist (OCE) Bank Mandiri dikutip Minggu (1/11/2026).

Menurutnya, peningkatan aktivitas impor ini didorong oleh pulihnya suplai dari pemasok utama Asia seperti Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura, serta sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah jenis Brent sebesar 15,8% MtM yang pada akhirnya mengerek nilai impor minyak dan gas (migas) nasional.

Dari sisi ekspor, permintaan dari sejumlah mitra dagang utama terpantau membaik. Permintaan produk Indonesia dari Malaysia tercatat melonjak 19,8% MtM, disusul India sebesar 9,3% MtM, dan China 5,5% MtM. Kinerja ekspor juga didukung kenaikan rata-rata harga batu bara sebesar 11,7% MtM menjadi 146 dolar AS per ton.

Proyeksi surplus yang lebih konservatif datang dari Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual. Dia memperkirakan neraca perdagangan September 2026 hanya akan membukukan surplus sebesar 1,52 miliar dolar AS. David memproyeksikan kinerja ekspor akan tumbuh 9,31% YoY dan 1,31% MtM, sedangkan laju impor diramal meroket tajam hingga 25,08% YoY dan 10,30% MtM. Menurutnya, surplus tertopang oleh kenaikan harga komoditas andalan seperti batu bara yang mencatatkan penguatan signifikan. Selain itu, realisasi pengiriman minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) serta sejumlah produk logam ke China juga terpantau meningkat. “Impor di sisi lain diperkirakan tetap tumbuh tinggi seiring harga minyak yang terus naik,” jelas David. bis

 

 

Pos terkait