
Sebanyak 120 orang penenun yang berasal dari delapan kelompok Tenun Kabupaten Alor mengerjakan tenun ikat merah putih selama satu bulan.
TERNATE (wargadigital. id) – Tenun Ikat Merah Putih sepanjang 100 meter dan lebar 1,5 meter yang menggunakan pewarna alami mampu memecahkan Museum Rekor Dunia MURI Indonesia. Sebanyak 120 orang penenun yang berasal dari delapan kelompok Tenun Kabupaten Alor mengerjakan tenun ikat itu selama satu bulan.
Bupati Alor Drs Amon Djobo menjelaskan kegiatan ini merupakan sebuah bentuk pengakuan yang tidak hanya berasal dari Pemkab Alor saja tetapi juga pengakuan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bagi masyarakat Desa Ternate Uma Pura Kecamatan Alor Barat Laut. Selama ini hampir semua warga setempat khususnya kaum perempuan pekerjaan utamanya adalah menenun.
“Tidak hanya pemerintahan daerah saja yang mengakui tetapi masyarakat dunia luar pun mengakui tangan-tangan terampil perempuan Ternate Uma Pura ini memiliki kemampuan istimewa dalam menciptakan produk tenun yang sangat istimewa, ” kata Amon pada acara Festival Tenun 2023 dan Pemecahan Rekor MURI Tenun Ikat Merah Putih Sepanjang 100 Meter dengan Bahan Pewarna Alam di Desa Ternate Uma Pura Kecamatan Alor Barat, NTT, Rabu (14/6/2023).
Amon menambahkan harapan ke depan, dunia luar semakin mengenal bahwa masyarakat Kabupaten Alor yang tinggal di daerah ini merupakan para penenun tenun ikat yang menggunakan bahan pewarna alam. “Bisa dipastikan bahwa masyarakat di Pulau Ternate ini pekerjaan utamanya adalah menenun, ” tegasnya.
Amon menjelaskan saat para laki-laki Pulau Ternate tidak melaut karena kondisi yang membahayakan, mereka akan membantu menenun dalam pemahaman bahwa para laki-laki akan membantu mencari dan membuat bahan pewarna alami, melakukan pencelupan, melakukan pemintalan benang sehingga mempermudah para perempuan dalam proses kegiatan menenun. “Kegiatan ini merupakan motivasi spirit untuk para keturunan -keturunan nenek moyang dari leluhur kami yang juga akan diwariskan ke generasi selanjutnya. Jangan sampai punah kemampuan menenun. Ini spirit yang kami lakukan dalam Festival Tenun 2023 ini, ” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Komandan Pangkalan TNI AU El Tari, Aldrin Petrus Mongan ST,MHum, MHan Marsekal Pertama TNI mengatakan tenun ikat merah putih yang menggunakan pewarna alami asli dari Pulau Ternate Alor ini harus sering digaungkan secara masif, gotong royong dan pentahelix dengan melibatkan seluruh masyarakat yang ada.
“Bersama masyarakat, TNI Polri, saya melihat ibu Panjaitan Ibu Pangdam IX Udayana pernah di sini. Kalau semua masif, gotong royong dan pentahelix seluruh komponen masyarakat yang ada, akan cepat menjadi satu alternatif ekonomi yang bisa mengangkat kesejahteraan masyarakatnya dan tidak kalah dengan sektor lainnya, ” jelasnya.
Marsekal Utama TNI Aldrin juga menambahkan yang tidak kalah penting adalah perlindungan terhadap kekayaan intelektual agar keadaan intelektual yang dimiliki Bangsa Indonesia tidak dicaplok lagi oleh pihak lain. “Tanpa Unesco mengakui, tapi bila masyarakat dunia sudah mengakuinya seperti batik dan lainnya, saya sangat optimistis bahwa tenun juga akan mendunia. Jika sudah mendunia tentunya kita ingin sejarah dan kekayaan intelektual harus jelas dimana asalnya harus diakui, “urainya.

Tenun Ikat Merah Putih sepanjang 100 meter dan lebar 1,5 meter yang menggunakan pewarna alami mampu memecahkan Museum Rekor Dunia MURI Indonesia.
Sementara itu Pelindung Penyelenggara Rekor MURI Tenut Ikat Merah Putih 100 Meter dengan Pewarna Alami, Martinus De Porres Djeo SIP menjelaskan Desa Ternate Uma Pura ini merupakan desa penghasilan tenun ikat dengan warna alami dan sudah terkenal di beberapa negara.
” Tenun ini sudah terkenal di 15 negara bahkan lebih, tapi secara lokal belum dan produk ini juga belum mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sini. Hasil yang mereka dapat hanya cukup untuk makan. Padahal tenun ikat dengan pewarna alami ini jika dijual di luar negeri harganya sangat fantastis karena memiliki keunikan dan ciri khas sendiri, ” jelas pria yang menjabat sebagai Camat Alor Barat Laut Kabupaten Alor NTT.
Pria yang akrab disapa Martin ini menjelaskan bahan pewarna alami yang digunakan oleh para penenun di Desa Ternate Uma Pura ini merupakan bahan-bahan yang ada di dalam pulau ini, seperti secang, daun nuri, kapur, biji asam dan bahan lainnya.
“Kegiatan ini jiga sebagai wujud penghargaan kami untuk Bapak Bupati di akhir masa jabatan yang selama kepemimpinan Bupati Amon sangat memperhatikan pelaku UMKM untuk lebih maju lagi, “terangnya. sis