Venezuela Mencekam, Milisi Bersenjata Buru Warga AS

Reuters
Otoritas AS menyebut kelompok milisi bersenjata yang dikenal sebagai “Colectivos” kini dilaporkan memasang pos pemeriksaan dan menghentikan kendaraan untuk mencari warga negara AS atau bukti dukungan terhadap AS.

WASHINGTON (wartadigital.id) – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mendesak seluruh warga AS yang berada di Venezuela untuk segera meninggalkan negara tersebut. Media AFP dalam siaran terbarunya, Minggu (11/1/2026) melaporkan peringatan itu menyusul meningkatnya risiko keamanan akibat aktivitas milisi bersenjata di jalanan.

“Situasi keamanan di Venezuela masih tidak menentu,” kata Departemen Luar Negeri AS dalam peringatan keamanan resminya pada Sabtu (10/1/2026)

Bacaan Lainnya

Peringatan ini disampaikan sekitar sepekan setelah pemimpin Venezuela Nicolas Maduro ditangkap pasukan AS dalam operasi mendadak. Otoritas AS menyebut kelompok milisi bersenjata yang dikenal sebagai “Colectivos” kini dilaporkan memasang pos pemeriksaan dan menghentikan kendaraan untuk mencari warga negara AS atau bukti dukungan terhadap AS.

“Karena penerbangan internasional telah kembali beroperasi, warga negara AS di Venezuela harus segera meninggalkan negara tersebut,” bunyi pernyataan Kedutaan Besar AS, seraya memperingatkan adanya pemeriksaan kendaraan oleh kelompok bersenjata.

Menurut laporan AP News, AS menetapkan Venezuela pada status perjalanan Level 4 atau “Jangan Bepergian”, tingkat peringatan tertinggi, dengan alasan risiko serius seperti penahanan sewenang-wenang, kekerasan, penculikan, kerusuhan sipil, hingga buruknya layanan kesehatan.

Di sisi lain, ketegangan mulai diimbangi langkah politik. Presiden AS Donald Trump disebut membatalkan rencana serangan lanjutan ke Venezuela setelah pemerintah setempat membebaskan sejumlah tahanan politik. Hingga akhir pekan, sedikitnya 18 orang dilaporkan telah dibebaskan, seperti dikutip Reuters.

Pembebasan tahanan tersebut dipandang sebagai sinyal awal perbedaan konflik, meski kelompok HAM mencatat masih terdapat ratusan tahanan politik yang berada di balik jeruji.

Ketegangan meningkat setelah operasi pasukan khusus AS yang menewaskan puluhan orang di Venezuela.  Presiden AS Donald Trump pekan lalu mengklaim bahwa negara tersebut kini dikendalikan AS dan menyatakan ingin mengunjungi Venezuela di masa depan.

Sementara itu, Maduro yang kini ditahan di AS disebut dalam kondisi baik. Kabar itu diungkap Putranya, Nicolás Maduro Guerra dalam video yang dirilis Partai PSUV. “Kami baik-baik saja. Kami adalah pejuang,” ujarnya.

Menanggapi peringatan AS, Kementerian Luar Negeri Venezuela menyebut laporan tersebut sebagai upaya menciptakan ketakutan yang tidak berdasar. Kemudian menegaskan bahwa situasi negara itu dalam keadaan baik dan kondusif.  “Berdasarkan laporan palsu yang bertujuan menciptakan persepsi risiko yang sebenarnya tidak ada,” tegas kementerian tersebut. ins, rmo