Swedia Ingin Gabung NATO tapi Ogah Jadi Markas Senjata Nuklir

Menteri Luar Negeri Tobias Billstrom

 

STOCKHOLM (wartadigital.id)  – Swedia tetap ingin bergabung dengan aliansi militer NATO , tapi menolak wilayahnya menjadi markas senjata nuklir aliansi. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Tobias Billstrom kepada kantor berita TT.

Bacaan Lainnya

Sikap tersebut mengikuti jejak tetangga Nordik-nya, Finlandia. Swedia dan Finlandia mendaftar untuk bergabung dengan NATO awal tahun ini dalam sebuah langkah yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina. Sejauh ini, aplikasi tersebut telah diratifikasi oleh 28 dari 30 negara NATO. Hanya Turki dan Hungaria yang belum memberikan persetujuan.

Komentar Billstrom muncul setelah panglima militer Swedia Micael Byden “mengangkat alis” bulan ini ketika dia merekomendasikan agar pemerintah tidak memasukkan “garis merah” dalam negosiasi akhir dengan NATO, seperti larangan terhadap mendirikan pangkalan aliansi permanen atau menempatkan senjata nuklir di tanah Swedia.

Billstrom mengatakan Swedia akan bergabung dengan Denmark dan Norwegia secara sepihak menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan senjata nuklir di Swedia. “Itu masih posisi Partai Moderat jangka panjang,” katanya kepada TT, seperti dikutip Reuters, Sabtu (12/11/2022).

“Kami tidak pernah bermaksud mengubah persyaratan permohonan yang diajukan oleh pemerintah sebelumnya,” katanya lagi.

Aliansi yang dipimpin Partai Moderat memenangkan pemilihan umum Swedia September lalu, mengakhiri delapan tahun kekuasaan Partai Sosial Demokrat.

Sementara itu Finlandia siap menghadapi semua skenario terkait tanggapan Rusia terhadap upayanya bergabung dengan NATO. Perdana Menteri (PM) Finlandia Sanna Marin mengatakan hal itu dalam wawancara dengan Al Arabiya TV. Menurut dia, meskipun tidak ada “ancaman akut” dari Moskow, Finlandia harus memastikan perbatasannya dilindungi. “Kami siap dalam berbagai jenis skenario. Tidak ada ancaman akut, misalnya (tidak ada) ancaman militer terhadap Finlandia atau Swedia. Tetapi kedua negara kami memutuskan bergabung dengan NATO karena agresi Rusia terhadap Ukraina,” ujar Marin.

Dijelaskannya Finlandia memiliki perbatasan yang panjang dengan Rusia, jadi tentu saja pihaknya ingin memastikan bahwa apa yang terjadi hari ini di Ukraina tidak akan terjadi di Finlandia.

Fnlandia dan Swedia saat ini sedang menunggu Turki dan Hongaria untuk meratifikasi aksesi mereka ke dalam aliansi. Semua 28 anggota NATO lainnya telah menyetujui tawaran tersebut. Baik Finlandia dan Swedia bergegas menjadi anggota NATO pada Mei, meninggalkan dekade non blok militer setelah negara tetangga Rusia menginvasi Ukraina. Marin mengatakan kepada Al Arabiya bahwa penundaan itu karena Turki dan Swedia belum mencapai kesepakatan.

“Saya telah berbicara singkat dengan Presiden (Recep Tayyip) Erdogan, dan dia telah memberi tahu kami hal yang sama yang dia katakan juga di depan umum. (Dia berkata) tidak ada masalah besar dengan Finlandia. Ada beberapa masalah yang ingin dia diskusikan dengan Swedia. Tapi tentu saja, kami berada di dalamnya bersama dengan Swedia dan kami berharap Turki dan Hongaria akan meratifikasinya sesegera mungkin,” papar Marin.

Marin juga menegaskan Finlandia akan terus mendorong diakhirinya agresi Rusia di Ukraina. Dia menyebut seluruh kawasan Eropa terguncang akibat dampak perang.  “(Perang) mempengaruhi berbagai negara dalam banyak hal, jadi kita perlu memastikan perang berakhir. Kami membantu Ukraina dengan segala cara yang kami bisa dengan memberikan sanksi yang lebih berat kepada Rusia, memastikan Ukraina diberikan persenjataan, (dan) bantuan kemanusiaan,” paparnya.

Salah satu tujuan Finlandia saat ini, kata Marin adalah mencoba mengurangi dampak krisis energi global yang diakibatkan invasi Rusia ke Ukraina. “Kami bekerjasama di Uni Eropa (untuk) memastikan bahwa kami dapat memotong harga energi yang tinggi. Dengan cara itu (kita juga bisa) mengatasi Rusia dan tidak (memberikan) pengaruh yang digunakannya sekarang untuk memeras Eropa dengan energi,” papar dia. sin, rtr, ala