
ANKARA (wartadigital.id) – Kementerian Luar Negeri Turki mengecam pernyataan yang dikemukakan oleh Menteri Dalam Negeri Austria Karl Nehammer, soal protes yang disampaikan Istanbul dan Presiden Recep Tayyip Erdogan terkait agresi Israel terhadap Palestina.
“Kami menolak dan mengutuk pernyataan tidak berdasar yang dibuat oleh Menteri Dalam Negeri Austria tentang negara dan Presiden kami,” kata Juru Bicara Kementerian Tanju Bilgic seperti dikutip dari Hurriyet Daily, Selasa (18/5/2021).
Bilgic mengatakan Turki telah mengajak pihak berwenang Austria untuk menahan diri dari pernyataan yang mengandung retorika anti Turki. Dia juga menambahkan bahwa pernyataan tersebut berasal dari ‘keprihatinan politik murni domestik’ yang merusak hubungan antara kedua negara.
Sebelumnya, Mendagri Austria dengan tajam mengkritik Turki yang menurutnya bertingkah ‘memalukan’ sehubungan dengan konflik Timur Tengah, dia bahkan menuduh sikap Erdogan seolah ‘menuangkan minyak ke atas api’.
Kritik Nehammer datang setelah Erdogan pada Jumat pekan lalu kembali menyebut Israel sebagai negara teroris, pasca jurnalis Turki dan sekolah yang didukung PBB terkena serangan Israel di Gaza.
“Negara teroris yang mencoba menjarah kota seperti Yerusalem, yang menampung tempat-tempat suci bagi Muslim, Kristen dan Yahudi, telah melewati semua batas,” kata Erdogan.
Presiden Turki juga mengkritik tajam pengibaran bendera Israel di Wina, di tengah meningkatnya agresi militer Israel di Gaza. “Negara bagian Austria sedang mencoba untuk membuat Muslim membayar harga untuk orang Yahudi yang menjadi sasaran genosida,” kata Erdogan saat itu.
Sebelumnya Menteri Luar Negeri Iran membatalkan lawatan ke Austria karena negara itu mengibarkan bendera rezim Zionis Israel di kantor-kantor pemerintahan.
Akun twitter resmi stasiun televisi Al Jazeera, mengutip Kemenlu Iran melaporkan, lawatan Mohammad Javad Zarif ke Austria dibatalkan karena pengibaran bendera rezim Zionis.
Al Jazeera menulis, “Zarif membatalkan kunjungannya ke Austria setelah pengibaran bendera Israel di kantor-kantor pemerintah negara itu”.
Sebelumnya seorang wartawan Austria mengklaim Menlu Iran batal mengunjungi negara itu untuk memprotes dukungan Wina atas Israel.
Korban Terus Meningkat
Sementara itu Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan korban tewas akibat serangan Israel ke Jalur Gaza meningkat menjadi 213, termasuk 61 anak-anak, pada Selasa (18/5/2021). Selain itu 23 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat.
Sementara itu Sebanyak 36 wanita juga termasuk di antara mereka yang tewas di Gaza seperti dikutip dari Al Arabiya.
Lebih dari seminggu serangan dari Israel terhadap target Hamas, yang telah mengakibatkan kematian puluhan warga sipil, menunjukkan sedikit tanda-tanda mereda pada hari ini meskipun diplomasi Amerika Serikat (AS) dan global yang intens untuk menghentikan permusuhan paling sengit di kawasan itu selama bertahun-tahun.
Serangan udara Israel di daerah kantong Palestina berlanjut semalaman. Segera setelah fajar, rudal menghantam dua bangunan di Kota Gaza, mengirimkan asap tebal ke udara.
Sementara itu dikutip dari Irish Examiner, serangan yang diluncurkan dari Gaza telah menewaskan dua pekerja Thailand di dalam pabrik pengemasan di Israel.
Tim penyelamat dari Magen David Adom mengatakan pihaknya mengangkut tujuh orang yang terluka ke rumah sakit setelah serangan proyektil. Itu terjadi ketika orang-orang Palestina di seluruh Israel dan wilayah pendudukan melakukan pemogokan dalam tindakan kolektif yang jarang terjadi terhadap kebijakan Israel. riz, hur, gel