Banjir Bojonegoro Mulai Surut, BPBD Ungkap 48 Desa Terdampak

Istimewa
Luapan Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro yang sempat meluas dan membanjiri 48 desa di 11 kecamatan, kini mulai surut.

 

BOJONEGORO (wartadigital.id) – Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro  yang sempat meluas dan membanjiri 48 desa di 11 kecamatan, kini mulai surut. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa banjir tersebut telah merendam jalanan, fasilitas umum, dan pemukiman warga. “Rumah yang terdampak sekitar 682 keluarga,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bojonegoro Laela Noer Aeny, melalui keterangan tertulis, Selasa (12/3/2024).

Bacaan Lainnya

BPBD Bojonegoro telah memberikan bantuan kepada warga terdampak, seperti makanan, posko penampungan dan kesehatan, serta mendirikan dapur umum. “Meskipun mayoritas warga enggan untuk mengungsi, kami tetap siaga dan terus memantau situasi,” kata Laela.

Banjir juga merendam sekitar 1.880 hektar area pertanian. Sementara itu, Tinggi Muka Air (TMA) Sungai Bengawan Solo terus mengalami penurunan. Hingga Selasa petang, tiang ukur ketinggian air di utara Pasar Kota Bojonegoro menunjukkan angka 13,45 pielscaal. Meskipun demikian, kondisi Sungai Bengawan Solo yang memiliki panjang lebih dari 550 kilometer ini masih berstatus siaga kuning.

BPBD Bojonegoro mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti informasi terkini terkait kondisi banjir.

3 Desa di Tuban Terendam

Sebelumnya tiga desa di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban  terendam banjir akibat Sungai Bengawan Solo meluap, Senin (11/3/2024). Banjir juga menggenangi sejumlah jalan desa sehingga mengganggu aktivitas warga. Ketiga desa yang terendam banjir, adalah Desa Kebomlati, Desa Klotok, dan Desa Kedung Soko di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban .

Meskipun sudah terendam banjir warga masih memilih untuk bertahan di rumahnya masing-masing. Ketinggian banjir bervariasi mulai dari 30 centimeter hingga 60 centimeter. Warga pun tidak bisa keluar dari desanya karena jalan poros desa digenang air luapan Sungai Bengawan Solo.

Kapolsek Plumpang Iptu Nuril Huda meninjau langsung wilayah-wilayah yang terdampak banjir serta memetakan desa-desa yang perlu dipantau. “Sampai saat ini warga masih bertahan di rumah masing-masing,” katanya.

Sementara itu, warga di Desa Bandungrejo, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, merasa geram akibat drainase yang dinilai tidak berfungsi dengan baik. Kondisi ini membuat air tidak bisa mengalir keluar dari desa. “Hampir setiap kali Sungai Bengawan Solo meluap, warga terkena imbasnya. Air luapan Sungai Bengawan Solo menggenangi halaman rumah, di dalam rumah, dan jalan poros desa,” kata Yusuf, warga Bandungrejo.

Warga berinisiatif membuat replika boneka orang-orangan yang bertuliskan keluhan mereka. Boneka tersebut di taruh di pinggir jalan desa agar mendapatkan perhatian pemerintah setempat dan warga yang melintas memperlambat laju kendaraannya. “Banjir di sini sudah 3 hari belum surut, malah mungkin nanti malah tambah kedalamannya. Warga berharap ada bantuan dari pemerintah setempat,” tambah Yusuf. sin, ins