
SURABAYA (wartadigital.id) – Presiden terpilih Prabowo Subianto menargetkan swasembada energi dalam lima tahun ke depan melalui perluasan penggunaan biodiesel sebagai substitusi impor BBM. Kebijakan ini diproyeksikan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan defisit neraca perdagangan sektor migas.
Namun demikian, efektivitas dan efisiensi kebijakan ini masih menjadi perdebatan, khususnya dari perspektif ekonomi energi. Mulai dari persoalan biaya produksi biodiesel yang relatif tinggi, ketergantungan terhadap komoditas sawit, hingga implikasinya terhadap subsidi energi dan anggaran negara.
Menurut Dosen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair Gigih Prihantono SEM, SE, swasembada energi tidak bisa hanya dimaknai secara sempit sebagai kemandirian dalam produksi biodiesel. Lebih dari itu, ia menilai swasembada harus mencakup ketersediaan, ketahanan, dan kemandirian seluruh rantai pasok energi. “Fokus pada biodiesel saja masih mungkin dicapai, asalkan pemerintah bekerja keras dan menyusun strategi terukur. Penguatan produksi minyak sawit sebagai bahan baku harus dibarengi dengan pembangunan infrastruktur pengolahan dan distribusi. Tanpa hal ini, program B35 atau B40 berisiko tidak berjalan optimal,” ujarnya, Senin (2/6/2025).
Dari sisi fiskal, program ini juga menimbulkan konsekuensi anggaran yang tidak kecil. Meski sebagian besar produksi minyak sawit dikelola pihak swasta, peran negara dalam bentuk insentif atau subsidi tetap diperlukan. “Tanpa subsidi, tidak ada beban langsung ke negara karena produksi sawit dikelola swasta. Namun intervensi melalui insentif tentu akan menambah alokasi anggaran,” terang Gigi.
Ia menambahkan, dalam simulasi kebijakan, biaya subsidi bisa mencapai Rp 35,5 triliun jika program B35 dan B40 diterapkan serentak. Ketergantungan pada biodiesel berbasis kelapa sawit juga menyimpan risiko. Fluktuasi harga sawit di pasar global dan isu deforestasi dapat memengaruhi keberlanjutan program. Untuk itu, diversifikasi sumber energi perlu menjadi bagian dari strategi nasional. “Biodiesel adalah energi transisi, bukan solusi jangka panjang. Perluasan pemanfaatan bioetanol dan energi terbarukan lainnya akan membuat bauran energi kita lebih tangguh,” tambah Gigi.
Ia menegaskan dengan target yang ambisius, pemerintah perlu menggandeng sektor swasta dan akademisi agar strategi ini tidak berhenti pada wacana. Keberhasilan swasembada energi bukan hanya soal produksi, tetapi juga ketahanan dan keberlanjutan dalam jangka panjang. nti




