
LUMAJANG (wartadigital.id) – Bagi sebagian orang, kolam berisi 4.500 benih lele hanyalah bagian dari program peternakan biasa. Namun, bagi puluhan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lumajang, air yang beriak di kolam itu adalah simbol kesempatan kedua, kesempatan untuk bangkit, belajar, dan memulai hidup baru.
Terkait hal itu, Kepala Lapas Lumajang, Mahendra Sulaksana, bersama jajaran pejabat struktural menebar benih lele ke kolam budidaya lapas, Selasa (12/8/2025) lalu. Suasana sederhana itu justru sarat makna, yakni di balik rutinitas pembinaan, tersimpan sebuah harapan besar agar warga binaan bisa kembali ke masyarakat dengan bekal yang bermanfaat.
“Pembinaan ini bukan sekadar memberi keterampilan teknis. Kami ingin mereka pulang sebagai pribadi yang berdaya, percaya diri, dan siap membangun masa depan,” ungkap Mahendra dikonfirmasi Jumat (14/8/2025).
Program ini mengajarkan lebih dari sekadar cara membudidayakan ikan. Di setiap tahap, mulai dari pemilihan bibit, pemberian pakan, menjaga kualitas air, hingga proses panen, warga binaan belajar tentang disiplin, kesabaran, dan kerja sama tim. Nilai-nilai itu, meski sederhana, adalah fondasi untuk kembali menjalani hidup di luar.
Bagi sebagian warga binaan, kegiatan ini menjadi titik balik. Sebut saja Andi (bukan nama sebenarnya), yang dulunya tak pernah terpikir bisa mengelola usaha.
“Dulu saya nggak punya keterampilan. Sekarang saya paham kalau kerja itu butuh perencanaan dan ketekunan. Kalau bebas nanti, saya mau coba ternak lele di kampung,” ujarnya dengan senyum malu-malu.
Tak hanya berdampak pada diri mereka, program ini juga memberi manfaat sosial. Mantan warga binaan yang terampil berpotensi menjadi penggerak ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja baru, membantu suplai pangan, dan menginspirasi generasi muda bahwa perubahan itu selalu mungkin.
Mahendra menjelaskan, hasil panen lele nantinya tidak hanya dikonsumsi di dalam lapas, tetapi juga dipasarkan secara terbatas sebagai latihan kewirausahaan.
“Ini memberikan pengalaman nyata bagaimana mengelola siklus usaha, dari produksi hingga penjualan. Jadi, mereka tahu tantangan dunia kerja sesungguhnya,” tambahnya.
Di era di mana stigma terhadap mantan narapidana masih kuat, pembinaan semacam ini menjadi jembatan sosial. Masyarakat diajak melihat mereka bukan sebagai beban, tetapi sebagai manusia yang sedang berproses kembali menjadi anggota produktif.
Lapas Lumajang percaya, di balik setiap warga binaan tersimpan potensi yang bisa dihidupkan. Dan kadang, yang dibutuhkan hanyalah kesempatan, kepercayaan, dan sedikit ruang untuk tumbuh, meski itu dimulai dari sepetak kolam berisi benih lele. uja

