Dari Pasrujambe untuk Indonesia: Perjuangan Melawan Stigma TB Berbuah Prestasi Nasional

UPTD Puskesmas Pasrujambe bersama KIM Desa Kertosari melalui video kampanye kreatif bertajuk “Satu TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB”

LUMAJANG (wartadigital.id) – Pagi itu, embun masih menggantung di halaman rumah-rumah warga di Kecamatan Pasrujambe, Lumajang. Seorang kader kesehatan berjalan pelan menyusuri gang desa sambil membawa lembar pemantauan pengobatan.

Di tangannya, tidak hanya ada catatan kesehatan, tetapi juga satu hal yang jauh lebih penting, yakni harapan agar pasien TB tetap bertahan menjalani pengobatan.

Bacaan Lainnya

Kader Posyandu ILP Anggrek Rejo Desa Kertosari, Evi Mustika, berhenti di depan sebuah rumah sederhana, lalu mengetuk pintu perlahan.

Tak lama kemudian, seorang perempuan keluar dengan tubuh yang tampak lebih kurus dibanding beberapa bulan sebelumnya. Sesekali ia menahan batuk sambil menundukkan wajah. Matanya terlihat ragu, seolah belum sepenuhnya nyaman bertemu orang lain. “Sudah agak mendingan, Bu,” ucapnya pelan.

Bagi banyak pasien Tuberkulosis (TB), perjuangan terbesar memang tidak selalu soal obat ataupun rasa sakit. Ada beban lain yang sering lebih sunyi: rasa malu, takut dijauhi, dan kekhawatiran menjadi bahan pembicaraan di lingkungan sekitar.

Tidak sedikit pasien memilih lebih banyak diam di rumah. Mengurangi pertemuan dengan tetangga. Bahkan menunda pemeriksaan karena takut dicap membawa penyakit menular.

Luka terbesar mereka sering kali bukan hanya berada di paru-paru, tetapi pada cara lingkungan memandang mereka.

Persoalan itulah yang coba disentuh UPTD Puskesmas Pasrujambe bersama Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Desa Kertosari melalui video kampanye kreatif bertajuk “Satu TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB”.

Video itu mengantarkan mereka meraih juara 1 dalam Kompetisi Video Kampanye Kreatif Tingkat Nasional Tahun 2026 yang diselenggarakan Perhimpunan Organisasi Pasien Tuberkulosis (POP TB) Indonesia.

Kompetisi yang digelar dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 itu diikuti 33 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Penilaian dilakukan melalui kombinasi penilaian juri sebesar 80 persen dan penilaian publik sebesar 20 persen melalui engagement media sosial.

Namun bagi tim dari UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari, penghargaan itu bukan sekadar soal kemenangan.
Ada pesan yang ingin mereka suarakan lebih jauh: bahwa pasien TB tidak boleh berjuang sendirian.

Video tersebut menampilkan kisah seorang pasien TB yang perlahan kehilangan harapan akibat stigma sosial di sekitarnya. Batuk yang terus diabaikan, rasa takut memeriksakan diri, hingga kekhawatiran dijauhi lingkungan menjadi potret yang masih dekat dengan realitas masyarakat.

Cerita itu terasa sederhana. Tidak dibuat berlebihan. Tetapi justru karena dekat dengan kehidupan sehari-hari, pesannya terasa nyata.

Di tengah rasa takut itu, perubahan mulai hadir ketika lingkungan sekitar memilih peduli.

Kader kesehatan datang mendampingi. Keluarga mulai memberi penguatan. Pemerintah desa ikut membantu. Babinsa dan Bhabinkamtibmas hadir menciptakan rasa aman. Tenaga kesehatan memastikan pengobatan berjalan sampai tuntas.

Perlahan, pasien yang sebelumnya merasa sendiri mulai kembali memiliki semangat untuk sembuh.

Di situlah pesan utama video tersebut berdiri kuat: bahwa penanganan TB membutuhkan rantai kepedulian yang tidak boleh putus.

Kepala UPTD Puskesmas Pasrujambe, dr. Siska Yuni Fitria, M.Kes., mengatakan bahwa keberhasilan penanganan TB tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan semata.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga semangat pasien selama menjalani pengobatan yang membutuhkan waktu panjang dan konsistensi.

“Penanganan TB membutuhkan kerja bersama. Ketika masyarakat ikut peduli, pasien akan lebih kuat menjalani pengobatan sampai tuntas,” ujarnya, Jumat (8/5/2026).

Di lapangan, peran kader menjadi salah satu penghubung terpenting dalam rantai tersebut.

Mereka hadir bukan hanya membawa informasi kesehatan, tetapi juga membawa empati.

Evi Mustika bersama kader Posyandu ILP Anggrek Rejo rutin melakukan skrining dan kunjungan rumah kepada warga yang berisiko. Karena berasal dari unsur masyarakat sendiri, para kader memahami bagaimana cara berbicara, mendekati, dan menguatkan warga tanpa membuat mereka merasa dihakimi.
Kadang tugas mereka bukan hanya mengingatkan jadwal minum obat.

Mereka juga menjadi tempat pasien bercerita tentang rasa takut, rasa malu, bahkan rasa lelah menjalani pengobatan yang panjang.

Di ruang-ruang kecil seperti itulah, harapan sering kali tumbuh kembali.

Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku UPTD Puskesmas Pasrujambe, Alifta Sukmawati, S.KM., mengatakan bahwa pendekatan komunikasi kesehatan harus mampu menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat.

“Kadang tenaga kesehatan memahami materinya, tetapi tidak semuanya memiliki waktu dan kemampuan membuat media edukasi yang menarik. Di sisi lain, kami juga memiliki keterbatasan SDM dan media informasi. Akhirnya, kami mencoba menggandeng KIM Desa Kertosari yang memang dekat dengan dunia informasi dan kreativitas masyarakat,” ujarnya.

Menurut Alifta, pelibatan masyarakat membuat pesan kesehatan terasa lebih membumi dan mudah diterima.

“Pesan kesehatan tidak harus selalu disampaikan dengan cara formal. Ketika masyarakat ikut terlibat, informasi yang diberikan justru terasa lebih dekat. Kompetisi ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas pihak dan partisipasi aktif masyarakat dapat dimanfaatkan secara efektif untuk menyampaikan edukasi TB agar lebih mudah dipahami,” tambahnya.

Pendekatan tersebut juga diperkuat melalui pemanfaatan teknologi kesehatan. Melalui aplikasi E-TIBI dan satusehat Mobile untuk CKG, masyarakat kini lebih mudah mengenali gejala TB sejak dini. Namun teknologi saja tidak cukup.

Di desa-desa, sentuhan manusia tetap menjadi kekuatan utama.
Sapaan kader saat berkunjung ke rumah warga, dukungan keluarga saat pasien mulai kehilangan semangat, hingga lingkungan yang berhenti memberi stigma menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan.

Upaya itu sekaligus menunjukkan bahwa semangat Desa Siaga masih hidup di tengah masyarakat. Penanganan TB tidak lagi dipandang sebagai urusan fasilitas kesehatan semata, tetapi menjadi kepedulian bersama di lingkungan desa.

Gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa kini hadir dalam bentuk yang berbeda: menjaga pasien agar tidak kehilangan harapan.

Prestasi yang diraih UPTD Puskesmas Pasrujambe dan KIM Desa Kertosari pun menjadi bukti bahwa inovasi komunikasi publik dapat tumbuh dari desa. Dari ruang-ruang sederhana tempat masyarakat saling mengenal, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Lumajang menunjukkan bahwa kampanye kesehatan tidak harus selalu hadir dalam bahasa yang kaku. Ketika pesan disampaikan melalui cerita yang manusiawi, masyarakat lebih mudah memahami bahwa kesehatan bukan hanya urusan medis, tetapi juga soal kemanusiaan.

Dan di tengah target besar menuju Indonesia Bebas TB 2030, ada satu hal yang terus dijaga oleh mereka di Pasrujambe dan Kertosari, bahwa obat mungkin menyembuhkan penyakit, tetapi kepedulianlah yang menjaga pasien tetap bertahan.

Sebab bagi mereka yang sedang berjuang melawan TB, harapan sering kali hadir bukan dari sesuatu yang besar.

Harapan itu bisa datang dari pintu rumah yang diketuk pelan setiap pagi, dari sapaan yang tidak menghakimi, dan dari keyakinan sederhana bahwa di tengah perjuangan yang panjang, masih ada orang-orang yang memilih tetap tinggal dan berjalan bersama mereka. uja, mcl

Pos terkait