
SURABAYA (wartadigital.id) – Erlangga Agustino Landiyanto, SE MA MSc MPA PhD, alumnus S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), adalah sosok yang berkontribusi signifikan dalam bidang pembangunan ekonomi dan evaluasi kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Melalui rekam jejak kariernya, ia mendapatkan kepercayaan untuk bekerja sama dengan berbagai institusi strategis global hingga turut aktif sebagai anggota di berbagai asosiasi profesional.
Perjalanan karier internasional Erlangga bermula ketika ia bergabung dengan sebuah lembaga internasional di Surabaya dan dilanjutkan dengan turut serta dalam upaya pemulihan pasca tsunami Aceh pada kisaran tahun 2006. Sejak saat itu, kiprahnya terus melesat dengan memegang berbagai peran strategis di lembaga-lembaga bergengsi seperti CARE International, UNORC, Bank Dunia, UNICEF di Papua, Mahkota, Sekretariat ASEAN, hingga berlabuh di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jakarta. “Pekerjaan pertama saya di PBB waktu itu di UNORC di Aceh, lembaga PBB yang mendapat mandat untuk mengoordinasikan lembaga-lembaga internasional dalam dukungan pasca-tsunami di Aceh dan Nias,” kenangnya, menceritakan titik awal pengabdiannya, Selasa (30/6/2026).
Beragam posisi krusial yang ia emban tersebut rupanya sangat ditunjang oleh bekal keilmuan S1 Ekonomi Pembangunan yang Ia selesaikan di Universitas Airlangga. Ia merasakan betul bahwa materi perkuliahan seperti ekonomi makro, mikro, hingga ekonometrika menjadi fondasi kuat yang sangat terpakai dalam pekerjaannya mengawal proyek pembangunan. “Kalau konteks ekonomi pembangunan sebenarnya relevan sih, karena memang apa yang dipelajari itu ssesuai” tegasnya.
Pendidikan Lintas Benua
Pengalaman menempuh studi pasca sarjana di Thailand, Belgia, hingga meraih gelar doktor di Inggris sangat berkontribusi dalam membentuk pola pikir kritis. Menurutnya, pendidikan di luar negeri memiliki pendekatan yang berbeda karena mahasiswa tidak sekadar dituntut menghafal teori, melainkan juga dilatih keras dalam logika penyelesaian masalah. “Kelebihan di sisi pendidikan di kampusnya itu adalah critical thinking-nya yang dibangun,” ungkapnya.
Untuk menembus ketatnya persaingan karier internasional, Ia menyarankan mahasiswa agar cerdas membagi waktu, yakni fokus berorganisasi di semester awal dan mencari pengalaman magang menjelang tingkat akhir. Selain strategi tersebut, bekal mutlak yang wajib dimiliki oleh generasi muda untuk bersaing di tingkat global adalah penguasaan komunikasi asing dan kesiapan mental. “Pertama yang paling perlu itu adalah bahasa, dan berani keluar dari zona nyaman,” pesannya. nti





