
JAKARTA (wartadigital.id) – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj RI) meningkatkan pemantauan terhadap kondisi keamanan di Arab Saudi, setelah eskalasi konflik Timur Tengah merembet ke sejumlah wilayah kerajaan tersebut.
Sejumlah serangan drone dan misil dalam beberapa hari terakhir membuat pengamanan diperketat, termasuk di Makkah dan Jeddah.
Dalam pemutakhiran situasi per 16 September 2026, Kemenhaj menyatakan layanan bagi jemaah haji dan umrah Indonesia masih berjalan normal. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, KBRI Riyadh, serta pemangku kepentingan lainnya untuk memantau perkembangan keamanan.
Situasi keamanan Arab Saudi memang mengalami peningkatan ketegangan. Pada 15 September, otoritas Saudi sempat mengeluarkan peringatan keamanan di Makkah, Jeddah, Taif, dan sejumlah wilayah lain menyusul rangkaian serangan dalam beberapa hari sebelumnya. Peringatan tersebut kemudian dicabut setelah ancaman dinyatakan berlalu.
Drone Dicegat di Selatan Makkah
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian terjadi pada 15 September 2026 ketika pertahanan udara Saudi dilaporkan menghancurkan sebuah drone di selatan Makkah sebelum memasuki wilayah udara terlarang.
Arab Saudi menyebut drone tersebut berasal dari kelompok Houthi di Yaman. Laporan internasional juga mengonfirmasi bahwa drone berhasil dicegat sebelum mencapai wilayah Makkah.
Dalam pemetaan Kemenhaj, Makkah berstatus waspada dengan catatan adanya drone yang dicegat di selatan kota tersebut. Jeddah juga masuk kategori waspada karena sebelumnya sempat diberlakukan peringatan keamanan.
Saudi sebelumnya memang menerbitkan peringatan potensi bahaya bagi masyarakat di Makkah dan Jeddah. Otoritas meminta warga berlindung di dalam bangunan, menjauhi jendela dan area terbuka, serta mengikuti informasi resmi sampai ancaman dinyatakan selesai.
Infrastruktur Energi Saudi Ikut Terdampak
Eskalasi keamanan tidak hanya menyasar kota-kota utama. Infrastruktur energi Arab Saudi juga terdampak serangan.
Pada 11 September 2026, serangan drone menghantam East-West Pipeline, jalur minyak strategis yang menghubungkan kawasan produksi di timur Saudi dengan Yanbu di Laut Merah. Arab Saudi menyatakan serangan tersebut diluncurkan dari wilayah Irak.
Dalam informasi yang dirilis Kemenhaj, Madinah ditempatkan pada kategori waspada dengan catatan dampak terhadap jalur pipa, sementara Riyadh dan wilayah timur Saudi berada dalam status siaga karena fasilitas energi terdampak dan meningkatnya aktivitas militer.
Serangan terhadap jalur East-West tersebut juga berdampak terhadap distribusi minyak Saudi. Reuters melaporkan kerusakan pada jalur itu mengganggu sebagian pengiriman minyak menuju Eropa dan ikut memberi tekanan terhadap harga energi global.
Penerbangan dan Hotel Tetap Beroperasi
Di tengah peningkatan kewaspadaan, Kemenhaj menyatakan aktivitas layanan haji dan umrah belum mengalami gangguan signifikan.
Penerbangan disebut masih berjalan normal dengan peningkatan pemeriksaan keamanan. Hotel-hotel di Makkah, Madinah, dan Jeddah juga tetap beroperasi seperti biasa.
Layanan bus dan kereta bagi jemaah masih berjalan, tetapi disertai pengamanan tambahan. Jemaah Indonesia disebut berada dalam kondisi aman dan terus dipantau oleh Kemenhaj RI bersama KBRI.
Kemenhaj juga meningkatkan koordinasi dengan otoritas Saudi, maskapai penerbangan, PPIU, PIHK, serta sejumlah pihak terkait untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan situasi.
Secara umum, Kemenhaj memberi status normal terhadap layanan haji dan umrah meskipun tingkat kewaspadaan meningkat di sejumlah wilayah Saudi.
Kemenhaj Minta Jemaah Tetap Tenang
Kemenhaj meminta jemaah Indonesia tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi di tengah cepatnya perkembangan situasi keamanan Timur Tengah.
Jemaah diminta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, mematuhi arahan petugas maupun otoritas setempat, serta menggunakan aplikasi Satu Haji dan Umrah Indonesia untuk memperoleh informasi terbaru.
Dalam kondisi darurat, Kemenhaj mencantumkan saluran *19988, 0811-8885-888, dan 188# yang dapat digunakan jemaah untuk memperoleh bantuan dan informasi.
Pemerintah menegaskan bahwa keselamatan jemaah menjadi prioritas utama di tengah eskalasi kawasan. Untuk sementara, jemaah Indonesia tetap dapat menjalankan perjalanan haji maupun umrah dengan mengikuti peningkatan prosedur keamanan yang diterapkan. khu





