
PONOROGO (wartadigital.id) – Reog Ponorogo mendapatkan turunannya. Ini bersamaan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora hendak mengusulkan Barongan Blora masuk daftar warisan budaya tak benda (WBTb) UNESCO.
Barongan Blora ingin mengekor Reog Ponorogo yang sudah resmi ditetapkan sebagai Intangible Cultural Heritage (ICH) itu lewat sesi sidang ke-19 Intergovermental Committee for the Safeguarding UNESCO di Paraguay pada 3 Desember 2024 lalu.
“Bisa dengan skema extension (tambahan atau perluasan, Red) karena Reog Ponorogo dengan Barongan Blora memiliki sejumlah kesamaan, mulai dari cerita, tokoh, karakter, hingga unsur musik pengiring,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi dalam forum grup discussion (FGD) bersama tetamu sejawatnya dari Pemkab Blora, Kamis (15/10/2026).
Menurut Judha, kajian sejarah menelaah keterkaitan dengan tradisi cerita Panji atas kesenian serumpun yang berkembang di Jawa, termasuk di Temanggung, Blitar, dan Kediri. Pun, perbedaan bentuk penyajian kesenian di setiap daerah merupakan kekayaan budaya yang perlu dilestarikan bersama.
“Ekspresi kesenian di setiap daerah bisa berbeda, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat memiliki keterkaitan. Perbedaan itu justru menjadi kekayaan budaya yang perlu kita jaga bersama,” terangnya.

Peserta FGD yang berlangsung di ruang Bantarangin, lantai II Graha Krida Praja Ponorogo itu, di antaranya, Eko Wiyono dari Bapperida Blora, Jadmiko dari Dinas Pendidikan Blora, serta Widyarini, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Blora. Tampak pula Prof Slamet, guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, kalangan akademisi, seniman, dan pegiat komunitas budaya.
Masih kata Judha, extension Reog Ponorogo terhadap Barongan Blora agar ikut menjadi WBTb butuh kajian akademis mendalam. Bersamaan itu, perlu dukungan dokumentasi dan koordinasi dengan pihak terkait sesuai dengan mekanisme UNESCO.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, seniman, dan komunitas budaya menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya pelindungan warisan budaya itu. “Pelestarian juga harus melalui transmisi budaya atau pewarisan tradisi antar-generasi,” kata Judha.
Di Ponorogo, lanjut dia, pengenalan reog dilakukan sejak usia dini hingga perguruan tinggi. Mulai pengembangan reog anak serta ajeknya gelaran festival reog remaja dan festival reog nasional. “Mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman di Blora yang memiliki ratusan paguyuban kesenian barongan,” ungkapnya.
Judha juga sengaja mengajak para tamunya mengenal sejumlah kawasan di Ponorogo. Termasuk, HOS Cokroaminoto “Malioboro” Ponorogo dan kampung sate. ono



