
British Council bersama Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP).
JAKARTA (wartadigital.id) – Menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) kelas III–VI mulai Juli 2027, British Council bersama Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP).
Program ini akan dimulai dengan Training of Trainers (ToT) yang dilakukan kepada 68 Community of Practice (CoP) Leaders yang nantinya akan memberikan pelatihan kepada 6.000 guru Bahasa Inggris dan guru kelas MI di 34 kota/kabupaten. Lebih dari sekadar mencapai jumlah peserta pelatihan, STEPS-CoP dirancang untuk memastikan para guru memiliki ruang, dukungan dan kesempatan yang cukup untuk terus berkembang menjelang penerapan kebijakan tersebut.
Summer Xia selaku Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council mengatakan kolaborasi dengan Direktorat GTK Madrasah menjadi kesempatan penting untuk mendukung upaya Pemerintah Indonesia memperkuat pendidikan Bahasa Inggris sejak jenjang dasar. “Mempersiapkan penerapan wajib Bahasa Inggris di madrasah bukan sekadar perubahan kurikulum. Lebih dari itu, ini adalah upaya membekali para guru agar dapat membuka lebih banyak peluang bagi jutaan anak di seluruh Indonesia,” katanya dalam siaran pers, Minggu (18/10/2026).
Dijelaskannya, melalui STEPS-CoP pihaknya memadukan keahlian global British Council dengan pengetahuan dan pengalaman para pendidik Indonesia untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat diperluas dan berkelanjutan.
“Dengan mendorong guru untuk saling belajar dan memimpin perubahan di komunitas masing-masing, kami ingin memastikan bahwa semakin banyak anak mendapatkan pendidikan Bahasa Inggris berkualitas, di mana pun mereka tinggal dan apa pun latar belakang mereka,” kata Summer Xia.
Kemampuan berbahasa Inggris kini semakin penting bukan hanya sebagai kompetensi akademik, tetapi juga sebagai salah satu pintu untuk mengakses ilmu pengetahuan, teknologi, jejaring, dan berbagai peluang global. Bagi siswa MI, pembelajaran sejak dini diharapkan menjadi fondasi agar mereka semakin siap tumbuh dan berpartisipasi di dunia yang semakin terhubung.
Karena itu, kesiapan menghadapi kebijakan 2027 tidak cukup hanya dengan menghadirkan Bahasa Inggris di dalam kurikulum. Kualitas pengalaman belajar siswa pada akhirnya sangat bergantung pada kesiapan orang yang berada di depan kelas.
Bukan Pelatihan yang Berakhir di Ruang Kelas
Salah satu pembeda STEPS-CoP adalah pendekatan pengembangan profesional berbasis komunitas. Alih-alih menempatkan pelatihan sebagai kegiatan yang selesai ketika sesi berakhir, program ini mendorong guru terus belajar bersama, mendiskusikan persoalan yang mereka temui di kelas, saling bertukar pengalaman, serta mengembangkan praktik baik bersama rekan sejawat.
Sebanyak 68 CoP Leaders akan dipersiapkan melalui Training of Trainers untuk menjadi fasilitator dan penggerak komunitas belajar di 34 kota/kabupaten. Mereka akan mendukung pengembangan 6.000 guru sekaligus membantu menjaga agar proses pembelajaran professional dapat terus berjalan melalui komunitas.
Selain itu, EnglishScore British Council dan Self-Assessment Tool (SAT) digunakan untuk membantu memetakan kompetensi Bahasa Inggris dan pedagogi guru. Dengan mengetahui titik awal dan kebutuhan pengembangan masing-masing, peningkatan kapasitas dapat dilakukan dengan lebih terarah dan tidak menggunakan pendekatan seragam untuk semua guru.
“Guru tidak membutuhkan satu lagi pelatihan yang selesai ketika sesi berakhir. Kami membutuhkan ruang untuk terus belajar setelah kembali ke kelas, untuk mendiskusikan tantangan yang kami hadapi, berbagi praktik yang berhasil, dan belajar dari pengalaman sesame guru,” ungkap Septriani Nidi, Pengawas Sekolah di Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Bandar Lampung, UK Alumni, sekaligus salah satu pelatih yang memfasilitasi Training of Trainer bagi para CoP Leaders.
Menurut Septriani, pengalaman mengikuti pengembangan profesional sebelumnya memperlihatkan bahwa proses belajar menjadi jauh lebih bermakna ketika guru merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas. “Itulah yang ingin kami bangun melalui STEPS-CoP: agar guru tidak berjalan sendiri, dan setiap peningkatan kompetensi yang kami peroleh pada akhirnya benar-benar terasa manfaatnya oleh siswa,” tambahnya.
Berdasarkan data resmi BPS semester ganjil 2025, terdapat 26.826 Madrasah Ibtidaiyah di seluruh Indonesia. Dengan skala sebesar itu, STEPS-CoP tidak diposisikan sebagai satu-satunya jawaban atas seluruh kebutuhan pengembangan guru, melainkan sebagai langkah awal untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat terus tumbuh, direplikasi, dan diperluas secara bertahap. Karena itu, 6.000 guru yang terlibat dalam program ini menjadi titik awal bagi dampak yang diharapkan dapat berkembang lebih luas.
Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan jangka panjang antara Inggris dan Indonesia. Melalui STEPS-CoP, kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kualitas pengajaran Bahasa Inggris di madrasah agar semakin banyak siswa memiliki bekal untuk mengakses pengetahuan dan peluang yang lebih luas.
Pendekatan ini sekaligus menempatkan guru sebagai pusat perubahan. Ketika seorang guru memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan, keterampilan, dan praktik pengajaran yang berkembang akan dibawa kembali ke ruang kelas dan terus memberi manfaat kepada banyak siswa sepanjang perjalanan profesinya. Dengan memperkuat seorang guru, kita tidak hanya meningkatkan kualitas satu ruang kelas, tetapi juga memperluas kemungkinan masa depan bagi setiap anak yang akan belajar darinya. set


