BPBD Lumajang Perkuat Pemantauan Semeru, Tambah 8 CCTV dan Siagakan Personel di Titik Rawan

BPBD Lumajang memiliki 15 unit CCTV untuk mendukung pemantauan visual Gunung Semeru dan sejumlah kawasan yang memiliki potensi kerawanan

LUMAJANG (wartadigital.id) – Penguatan pemantauan Gunung Semeru terus dilakukan untuk mendukung keselamatan masyarakat di kawasan rawan bencana.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang menambah delapan unit kamera pengawas atau CCTV, menyiagakan personel di sejumlah titik strategis, serta memperkuat sistem peringatan dini guna mengantisipasi perkembangan aktivitas vulkanik.

Bacaan Lainnya

Langkah itu dilakukan di tengah aktivitas Gunung Semeru yang masih berlangsung. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Semeru pada Rabu (4/11/2026), tercatat dua kali erupsi, masing-masing pukul 12.49 WIB dan 14.41 WIB, dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak.

Aktivitas kegempaan berupa gempa letusan dan gempa guguran juga masih terekam. Status Gunung Semeru tetap berada pada Level III atau Siaga.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menyampaikan, berdasarkan pemantauan hingga sore hari, kondisi masyarakat yang berada di luar zona bahaya masih aman dan terkendali. Meski demikian, kesiapsiagaan terus diperkuat melalui koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta pemerintah desa.

“Kami terus berkoordinasi dengan PVMBG dan pemerintah desa untuk memastikan tidak ada warga yang beraktivitas di dalam radius bahaya,” kata Isnugroho.

Penguatan sarana pemantauan dilakukan dengan menambah delapan unit CCTV baru, melengkapi tujuh unit yang telah terpasang sebelumnya. Dengan penambahan tersebut, BPBD kini memiliki 15 unit CCTV untuk mendukung pemantauan visual Gunung Semeru dan sejumlah kawasan yang memiliki potensi kerawanan.

Perangkat pemantauan tersebut diarahkan untuk mengawasi kondisi gunung, daerah aliran sungai (DAS), serta jalur Piket Nol yang berpotensi mengalami longsor. Informasi visual ini menjadi salah satu dukungan bagi petugas dalam mengamati perkembangan kondisi lapangan.

Selain sarana pemantauan, BPBD menyiagakan personel di Pos Curahkobokan dan Pos Oro-Oro Ombo. Penguatan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) serta kesiapan logistik juga dilakukan untuk mendukung langkah antisipasi apabila terjadi kondisi darurat.

Isnugroho menegaskan bahwa kesiapan personel dan perangkat pemantauan perlu berjalan beriringan dengan kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi keselamatan.

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Aktivitas juga dilarang dalam radius lima kilometer dari kawah karena berpotensi terdampak lontaran material vulkanik.

Warga yang beraktivitas di sekitar aliran sungai juga diminta menjauhi jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran lahar. Masyarakat turut diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan abu vulkanik.

“Ikuti arahan petugas di lapangan dan informasi resmi dari BPBD maupun PVMBG. Kewaspadaan dan kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi keselamatan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana,” tuturnya.

Melalui penambahan perangkat pemantauan, kesiapan personel, dan penguatan sistem peringatan dini, BPBD Kabupaten Lumajang terus memperkuat upaya mitigasi bencana. Namun, keselamatan masyarakat juga sangat bergantung pada kedisiplinan mematuhi zona bahaya dan mengikuti informasi resmi dari petugas. uja

Pos terkait