Agresi Israel, Turki Usulkan Kekuatan Internasional untuk Lindungi Rakyat Palestina

REUTERS
Seorang anak menarik gerobak yang membawa adiknya saat mengungsi dari rumahnya akibat agresi Israel di Jalur Gaza.

ANKARA (wartadigital.id) – Turki mengusulkan adanya kekuatan internasional untuk melindungi Palestina saat serangan militer Israel terhadap Jalur Gaza terus berlangsung.

Sebanyak 200 lebih warga Palestina telah tewas akibat agresi Israel sejak Senin lalu, termasuk 58 anak-anak. Ratusan orang lainnya terluka.

Bacaan Lainnya

Pada pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI), negara-negara anggota seperti Arab Saudi, Malaysia dan Pakistan mengulangi kecaman mereka atas tindakan Israel terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur dan kejahatan perang yang telah dilakukan selama sepekan terakhir di wilayah yang terkepung, Jalur Gaza.

Turki mengusulkan pembentukan satu “mekanisme perlindungan internasional” untuk rakyat Palestina di wilayah yang diduduki Israel secara ilegal.

“Upaya ini juga harus mencakup perlindungan fisik melalui pembentukan pasukan perlindungan internasional dengan kontribusi militer dan keuangan dari negara-negara yang bersedia,” ungkap Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada para delegasi OKI.

Cavusoglu meminta OKI dan komunitas internasional membela keadilan dan kemanusiaan. “Seharusnya tidak ada pertimbangan lain. Ini saatnya menunjukkan persatuan dan ketegasan kita. Umat Islam di dunia mengharapkan OKI menunjukkan kepemimpinan dan keberanian. Turki siap mengambil tindakan apa pun yang diperlukan,” tambah dia.

Meskipun rincian kekuatan dan mekanisme internasional semacam itu tidak dibahas, Cavusoglu meyakinkan OKI bahwa hal itu sejalan dengan resolusi Majelis Umum PBB tahun 2018, yang memberinya legitimasi di bawah hukum internasional.

Pernyataan menlu Turki itu menggemakan gagasan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang dia ajukan dalam panggilan telepon ke Presiden Rusia Vladimir Putin pekan lalu.

Erdogan menekankan perlunya mengirim “pasukan perlindungan internasional ke kawasan itu untuk melindungi warga sipil Palestina” dan bertindak sebagai “pencegah”.

Dia juga meminta Dewan Keamanan PBB untuk terlibat dan “memberikan pesan yang jelas kepada Israel untuk menghentikan serangan sebelum (krisis) berkembang lebih jauh.”

Sebelumnya Rusia juga siap mengatur perundingan langsung Palestina dan Israel untuk mengurangi ketegangan yang meningkat antara kedua belah pihak. Tawaran itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Moskow, Senin (17/5/2021).

Berpidato dalam konferensi pers di Moskow setelah pertemuan dengan Menlu Sierra Leone David John Francis, Sergey Lavrov meminta Israel dan Palestina untuk berhenti berperang. “Untuk negosiasi langsung, dan hanya melalui mereka kita dapat menyetujui pembentukan negara Palestina yang akan hidup damai dan aman, sesuai keputusan Dewan Keamanan PBB, berdampingan dengan Israel dan negara-negara lain di kawasan, agar perundingan seperti itu dimulai, kekerasan di semua sisi perlu dihentikan,” ujar dia.

Lavrov ingat bahwa resolusi PBB tentang masalah Palestina memberikan solusi dua negara untuk masalah Palestina, status quo pada tempat-tempat suci Yerusalem, dan dengan tegas melarang kegiatan ilegal Israel.

“Kami mengutuk serangan dari kedua belah pihak, yang menargetkan daerah pemukiman. Serangan terhadap sasaran sipil tidak dapat diterima,” tegas Lavrov.

Dia juga mengutuk kegiatan permukiman Israel, dengan mengatakan, “Ini mengambil bentuk ekstrim seperti mengusir orang ke jalan”.

Sepertiga Korban Anak-anak

Sementara itu Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kaila pada Al Arabiya, Senin (17/5/2021) mengungkap sepertiga dari para korban tewas dalam serangan udara Israel di Gaza adalah anak-anak. Fakta ini menegaskan serangan brutal dan sadis oleh Israel pada warga sipil Palestina.

“Serangan Israel telah melukai lebih dari 7.000 orang di seluruh Palestina. Sulit untuk menentukan jumlah pasti orang yang terluka dalam serangan itu. Kami hidup dalam keadaan darurat yang tak tertandingi,” ujar menteri itu.

Dijelaskan Mai, anak-anak Palestina membutuhkan dukungan psikologis yang mendesak sebagai akibat dari serangan terus menerus Israel di Gaza dan Tepi Barat.

Israel telah melancarkan beberapa serangan udara di Gaza dan daerah-daerah di Tepi Barat selama dua hari terakhir, menewaskan sedikitnya 220 orang.

Di Gaza saja, jumlah kematian dalam serangan Israel mencapai 200 orang lebih, dengan jumlah korban diperkirakan jauh lebih tinggi karena penyelamat terus menemukan mayat di bawah reruntuhan bangunan yang hancur. “Gaza menghadapi kekurangan tenaga medis untuk membantu merawat korban terluka,” ungkap Mai al-Kaila. Dia menambahkan Kementerian Kesehatan berupaya meningkatkan jumlah tim medis di kota itu. riz, sin