wartadigital.id
Headline Nasional

Ahok Lebih Baik Jadi Pengamat Biar Leluasa Koar-koar di Medsos

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok

 

JAKARTA (wartadigital.id) – Sering koar-koar di media sosial dan mengkritik perusahaan di tempatnya bekerja, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok disarankan untuk meninggalkan posisi Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina dan menjadi pengamat.

Begitu sindiran yang disampaikan oleh Direktur Pusat Riset Politik Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI) Saiful Anam menanggapi seringnya Ahok mengumbar-umbar persoalan perusahaan Pertamina dibanding mengatasinya di internal

“Kalau Ahok masih tetap demikian (koar-koar di Medsos), sebaiknya segera meninggalkan posisi Komisaris, sebaiknya lebih memilih posisi sebagai pejabat publik atau pengamat yang lebih bebas membawa setiap persoalan ke wilayah publik,” ujar Saiful, Jumat (3/12/2021).

Karena menurut Saiful, gaya-gaya yang ditunjukkan Ahok dinilai kurang elegan dan dapat merusak citra BUMN di mata publik.

Pendapat Saiful, sebagai Komisaris Utama seharusnya mantan Gubernur DKI Jakarta bisa menyelesaikan masalah di internal Pertamina.

Jika semua persoalan diumbar ke publik, Direksi akan tidak leluasa menjalankan peran dan fungsinya.”Saya kira (Direksi) menjadi tidak lincah dan justru menghambat kinerja Pertamina apabila terus-terusan demikian,” jelas Saiful.

Menurut Saiful, posisi Ahok sebagai Komisaris BUMN jauh berbeda dengan jabatan pejabat publik yang bisa membawa semua persoalan ke ranah publik. “Saya kira kalau masih (koar-koar masalah ke publik) selalu ditunjukkan oleh Ahok, maka kemungkinannya dua, yaitu dipecat oleh Erick atau mengundurkan diri jadi pengamat saja,” pungkas Saiful.

Diketahui, baru-baru ini Komisaris Utama PT Pertamina itu menggugat roadmap mobil listrik (electric Vehicle atau eV), program yang sedang dikerjakan Presiden Joko Widodo.

Tak pelak peringatan keras  disampaikan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)Bahlil Lahadalia dan sudah sepatutnya dijadikan bahan evaluasi oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang hanya menjabat Komisaris Utama PT Pertamina.

Ahok lebih baik menyingkir ketimbang koar-koar menggugat program mobil listrik ke ruang publik. Apalagi, Presiden Joko Widodo juga ingin Indonesia bisa memproduksi mobil listrik sebelum masa jabatannya berakhir. “Bahlil lugas dan tegas menunjuk siapapun oknum yang menghalangi soal mobil listrik mesti minggir. Jika Ahok dianggap menghalangi, angkat kaki itu lebih baik, kalau cuma bisa ngoceh,” kata pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin.

Ujang menyarankan kepada Ahok untuk tidak menjadi batu sandungan bagi pengembangan mobil listrik di negeri ini. Apalagi, mobil listrik merupakan keniscayaan bagi Indonesia yang memiliki banyak nikel, bahan baku utama baterei mobil listrik. “Indonesia mesti jadi produsen dan menjadi pemain mobil listrik. Bukan hanya jadi konsumen dan penonton saja,” pungkasnya. rmo

Related posts

Trakindo Ajak Pemangku Kepentingan Bersinergi Mempersiapkan SDM Berkualitas di Tengah Pandemi

redaksiWD

Rektor Unair Dorong Guru Besar Suarakan Kebenaran dengan Riset dan Inovasi

redaksiWD

ITS dan PT Pertamina International Shipping Sepakat Dukung Zero Emission dan Green Technology

redaksiWD