
JAKARTA (wartadigital.id) – Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve System atau The Fed telah mengumumkan kenaikan suku bunga 25 basis poin menjadi 4,5% – 4,75% pada Kamis (2/2/2023) dini hari waktu Indonesia. Kenaikan suku bunga oleh otoritas di negeri Paman Sam itu diprediksi akan memicu peningkatan suku bunga di negara lain, khususnya negara berkembang seperti Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai kenaikan suku bunga di Indonesia sebagai suatu hal yang wajar. Hal ini dilakukan untuk menghindari keluarnya aliran modal asing atau capital outflow dari pasar keuangan dan untuk menjaga momentum penguatan nilai tukar rupiah. “Kenaikan tingkat suku bunga acuan di Amerika Serikat akan mendorong bank sentral di banyak negara terutama emerging market (negara dengan pasar berkembang) seperti Indonesia dalam meningkatkan suku bunga acuannya karena untuk menghindari capital outflow dan pelemahan nilai tukar,” katanya, Senin (6/2/2023).
Namun, Faisal mengingatkan Bank Indonesia (BI) untuk berhati-hati dalam mengerek suku bunganya. “Jangan agresif, harus sangat berhati-hati,” tandasnya.
Menurut dia, meningkatnya suku bunga secara agresif memberikan pengaruh signifikan terhadap ekonomi Indonesia, seperti adanya peningkatan harga di sektor riil dan penyaluran kredit yang melambat. “Dampak dari kenaikan suku bunga adalah pembiayaan ke sektor riil akan lebih mahal dan penyaluran ke sektor kredit lebih lambat potensinya karena bunganya lebih tinggi,” terang Faisal.
Dia menilai sektor yang paling terdampak adalah sektor riil yang membutuhkan pendanaan perbankan. “Sektor yang paling terdampak adalah sektor riil yang membutuhkan pendanaan perbankan, seperti properti, otomotif, dan bisnis Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM),” tutup Faisal.
Untuk diketahui Bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga untuk menstabilkan harga di ekonomi terbesar dunia itu. Federal Reserve mengumumkan akan menaikkan suku bunga utamanya sebesar 25 basis poin. Itu menandai kenaikan terkecil sejak Maret lalu, setelah serangkaian kenaikan suku bunga yang agresif tahun lalu.
Tetapi para pejabat bank meminta tetap waspada. Pergerakan bank diawasi ketat di seluruh dunia karena AS mendorong pergeseran global setelah bertahun-tahun suku bunga rendah yang mengikuti krisis keuangan. Bank of England dan Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mengumumkan kenaikan suku bunga.
Melansir BBC, Kenaikan suku bunga yang diumumkan oleh Fed ini mendorong kenaikan suku bunga acuan bank di kisaran 4,5% -4,75% tertinggi sejak 2007. Namun pejabat bank AS mengingatkan risiko perlembatan ekonomi yang menyebabkan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tekanan telah meningkat kepada perbankan untuk memperlambat, atau menghentikan kenaikan suku bunga karena biaya pinjaman yang lebih tinggi merugikan sektor-sektor seperti perumahan dan ekonomi AS melambat tajam. Suara-suara itu semakin keras di tengah data terbaru yang menunjukkan inflasi AS turun menjadi 6,5% bulan lalu. Banyak investor memproyeksikan bahwa bank hanya akan menaikkan suku bunga sekali lagi setelah pertemuan ini.
Kepala Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pejabat bank tetap khawatir dengan data yang menunjukkan kenaikan perawatan kesehatan meningkat jauh lebih cepat daripada kecepatan 2% yang dianggap sehat. Dia mengatakan bahwa bank lebih suka menaikkan suku bunga terlalu tinggi daripada mengantisipasi masalah. “Kami akan membutuhkan lebih banyak bukti untuk yakin bahwa inflasi berada di jalur penurunan berkelanjutan,” kata dia.
Proyeksi yang dirilis pada Desember menunjukkan mereka mengira suku bunga acuan bank bisa berdiri di atas 5% pada akhir 2023. Powell menolak untuk mengatakan apakah para pejabat bank AS telah mengubah pandangan mereka, mencatat bahwa ada banyak ketidakpastian tentang prospek tersebut. sin, bbc