
SURABAYA (wartadigital.id) – Ketua Tim Penggerak (TP PKK) Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mengajak perempuan mengaktualisasi diri secara bijak di ranah medsos. Terlebih saat ini perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan dan akses yang sama terhadap internet.
“Sebenarnya kalau di era sekarang dengan adanya digitalisasi terus akses yang fair baik laki-laki atau perempuan terhadap internet dan sosial media ini sebenarnya adalah sebuah kesempatan emas untuk para perempuan,” kata Arumi Bachsin usai menyampaikan key note speech dalam seminar bertema Peran Perempuan dalam Mengakses dan Menyebarkan Informasi di Era Digital di Graha Wartawan A. Aziz Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Timur Jl. Taman Apsari, Embong Kaliasin, Genteng Kota Surabaya, Jumat (10/4/2026).

Seminar tersebut digelar oleh IKWI (Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia) Jatim dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) dan HUT ke-80- PWI.
Arumi menyampaikan digitalisasi membuat semua menjadi borderless dan tidak ada diskriminasi. Semua dapat mengakses apapun, kapanpun dan dimanapun. Istri dari Wakil Gubernur Jatim ini pun mendorong perempuan untuk menilai hal tersebut sebagai sebuah kesempatan emas untuk mengaktualisasikan diri. Arumi mengajak perempuan untuk memanfaatkan hal tersebut untuk mengembangkan potensi, bakat bahkan peluang emas untuk meningkatkan kesejahteraan melalui medsos. “Intinya untuk mencari akses informasi, akses komunitas, literasi keuangan atau memanfaatkan digitalisasi atau sosial media untuk keuntungan ekonomi,” katanya.

Berdasarkan data yang bersumber dari We Are Social 2024 menyebut 50,2 persen masyarakat Indonesia adalah pengguna aktif media sosial. Data terbaru per akhir 2025 perempuan mendominasi ranah media sosial di Indonesia dengan persentase 56,3%. Selain lebih aktif berinteraksi dan berbagi konten, tren dominasi ini sebenarnya sudah terlihat sejak 2021, di mana 52,6% pengguna Instagram adalah perempuan.
Arumi menjelaskan lewat media sosial perempuan bisa berbagi pengalaman, bertukar informasi dan saling mengedukasi dengan sesama. Oleh sebab itu, ia kembali mengajak agar perempuan benar-benar mampu memanfaatkan kemudahan akses yang diberikan medsos. “Membangun jejaring, mengembangkan bisnis, menjalin kemitraan semua bisa dilakukan dengan medsos,” imbuhnya.

Di sisi lain, Arumi juga mengimbau agar para perempuan juga harus menyadari bahwa media sosial ini bak dua mata pisau. Selain dapat memberikan banyak manfaat dan hal positif juga dapat menjadi platform yang menjerumuskan ke hal – hal negatif. “Tapi tetap ada dua mata pisau ya kalau sosial media ini bagaimana pinter-pinter nya kita kalau kita bijak ini akan menjadi sangat positif tapi kalau kita tidak bisa mengontrol emosi, mengontrol diri dengan baik, pastinya sosial media akan banyak mengganggu elemen-elemen kehidupan di masing masing kita,” tuturnya.
Tak hanya itu, Arumi juga berpesan bahwa sebagai ibu di era digitalisasi seperti saat ini juga harus berperan sebagai filter dari bagi anak-anak untuk berselancar di media sosial. Tidak dipungkiri medsos menjadi platform digital yang setiap saat diakses, maka memberikan batasan yang jelas bagi anak-anak menjadi penting agar anak-anak terhindar dari hal-hak negatif dan berbahaya. “Dampingi anak-anak, kenalkan medsos melalui sosial media kita, dikenalin sosial media itu kelebihannya ini, you can access every body, bisa mengakses semua orang tapi di satu sisi kamu juga akan bisa diakses oleh semua siapapun itu, baik itu orang yang baik atau orang yang punya niatan jahat,” pungkasnya.
Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim dalam sambutannya mengatakan secara gender persentase laki-laki dan perempuan dalam mengakses medsos hampir sama. Namun yang membedakan perilaku atau kebiasaan kaum perempuan di medsos berbeda dengan kaum laku-laki. “ Laki-laki cenderung hanya membaca di medsos itu, sedangkan kaum perempuan akfif berkomentar,” katanya.
Celakanya, kadang komentar kaum perempuan di medsos kebablasan, tendensius sehingga rawan memicu konflik dan masalah hukum. Karena itu dia berharap lewat kegiatan semacam ini, anggota IKWI bisa belajar rambu-rambu berkomentar di medsos dan menularkan ilmu yang didapat ke anggota keluarganya dan lingkungannya.
Dia juga mengingatkan agar keberadaan IKWI bisa menjadi pengampu kerja suami, bisa memotivasi agar para suami bertanggunjawab dalam bekerja karena masih banyak hal yang belum selesai di ruangan publik. Selain itu memacu suami untuk terus memperbaiki kualitas karya tulis. “Pers harus jadi penunjuk arah. Keberadaan IKWI Jatim saya harap terus bisa memberikan motivasi positif ke para suami agar bisa menjalankan profesi wartawannya dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Sementara Ketua IKWI Jatim Endang Suprapti menyatakan bahwa perempuan memiliki peran penting di era media sosial saat ini, khususnya sebagai ibu yang menjadi panutan dalam keluarga dalam mendidik anak-anak.
“Ibu-ibu harus bisa menyaring informasi yang benar dan tidak hoaks untuk anak-anak. Ibu-ibu juga harus bisa membedakan mana informasi yang benar dan hoaks. Jadi, perempuan adalah garda terdepan dalam mengakses dan menyebarkan informasi untuk keluarga,” ujarnya.
Dia mengatakan kegiatan seminar ini digelar untuk menambah pengetahuan para anggota IKWI Jatim khususnya dan masyarakat luas tentang plus minus bermedsos. “Ada banyak sisi positif medsos, namun juga memberikan dampak negatif kalau kita tidak hati-hati. Dengan seminar ini, kita bisa belajar rambu-rambu bermedsos agar tak blunder bagi diri kita sendiri, keluarga dan lingkungan,” katanya.
Usai pembukaan oleh Arumi Bachsin Emil Dardak, seminar dilanjutkan dengan menghadirkan pembicara Dr Sri Untari Bisowarno (Ketua Komisi E DPRD Jatim), Dr Eko Pamuji (Wakil Direktur UKW PWI Pusat), Putut Darmawan (Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Kominfo Jatim). nti





