Bandara Changi Tutup Sementara, Singapore Airlines Rugi Rp 45,76 Triliun

Sepanjang Maret 2021, Singapore Airlines hanya melayani 596.000 penumpang, turun 98% dari tahun lalu karena pembatasan perjalanan global untuk menangkis penyebaran Covid-19.

SINGAPURA (wartadigital.id) – Maskapai penerbangan Asia berusaha bangkit dari dampak pandemi Covid-19. Namun berdasarkan hasil kuartalan terbaru masih banyak maskapai yang mencatatkan kerugian besar akibat meledaknya kasus varian baru corona.

Salah satu maskapai yang mencatatkan kerugian ialah Singapore Airlines . Dilansir dari Nikkei, Kamis (20/5/2021) perusahaan maskapai tersebut mencatatkan kerugian bersih sekitar 660 juta dolar Singapura atau 490 juta dolar AS untuk kuartal Januari-Maret menyebabkan kerugian bersih tahunan sebesar 4,27 miliar dolar Singapura atau 3,20 miliar dolar Singapura setara Rp 45,76 triliun.

Bacaan Lainnya

Sepanjang Maret 2021, Singapore Airlines hanya melayani 596.000 penumpang, turun 98% dari tahun lalu karena pembatasan perjalanan global untuk menangkis penyebaran Covid-19. Meski begitu, bisnis kargo bernasib lebih baik dengan penurunan volume 39% dari tahun sebelumnya, berkat permintaan global yang tinggi untuk peralatan medis dan pengiriman e-commerce.

Di sisi biaya perawatan Singapore Airlines menganggarkan 1,7 miliar dolar Singapura untuk 45 pesawat turun untuk meningkatkan pemulihan bisnis. Tetapi prospek maskapai ini tetap tidak pasti, terutama karena banyak pasar utamanya seperti India, Thailand, dan Jepang, sekarang mengalami peningkatan kasus corona.

Di samping itu, kecepatan vaksinasi di Asia lebih lambat daripada di AS dan Eropa. Dalam waktu normal, Singapore Airlines terbang ke 13 kota di India, termasuk Mumbai dan Chennai. Apalagi awal pekan ini, Singapura dan Hong Kong menangguhkan penerbangan karena meningkatkan kasus corona.

Gelaran World Economy Forum 2021 yang digadang-gadang menjadi peluang membangkitkan sektor transportasi dan pariwisata di Singapura juga kandas karena dibatalkan akibat pandemi. Selain itu, banyak kasus Covid baru-baru ini di Singapura terkait dengan klaster yang muncul di Bandara Changi, yang mengakibatkan penutupan sementara terminal penumpang.

“Meskipun vaksinasi massal sedang berlangsung di sebagian besar pasar utama kami, prognosis untuk industri penerbangan global tetap tidak pasti,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan.

Sementara pasar domestik telah pulih di beberapa negara, perjalanan udara internasional tetap dibatasi dan lintasan pemulihannya masih belum jelas.

Sementara kapasitas penumpangnya masih hanya sekitar 28% dari tingkat pra Covid bulan depan. Singapore Airlines pada Rabu kemarin juga mengatakan akan meningkatkan 6,2 miliar dolar Singapura melalui obligasi konversi untuk mengamankan likuiditas yang lebih tinggi untuk mengatasi dampak pandemi. Maskapai penerbangan awal bulan ini mengumumkan telah mengumpulkan sekitar 2 miliar dolar Singapura melalui penjualan dan sewa balik 11 pesawat.

Sebagian besar maskapai penerbangan besar Asia yang telah merilis pendapatan Januari-Maret melaporkan kerugian besar yang terus berlanjut karena rendahnya permintaan perjalanan, dengan Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, ANA Holdings dan Japan Airlines semuanya membukukan kerugian lebih dari 500 juta dolar AS setiap triwulan. Sebagai informasi, banyak maskapai penerbangan di kawasan Asia yang merestrukturisasi bisnis, seperti menghentikan penggunaan jet lama dan mengurangi armada mereka. Tetapi hasil kuartalan terbaru menunjukkan bahwa dampak pandemi terus meningkat.

Bandara Changi Tutup 14 Hari

Bandara Changi ditutup untuk umum selama 14 hari dari Kamis hingga 27 Mei 2021 di tengah meningkatnya kasus Covid-19.

Untuk diketahui Pemerintah Singapura menutup Bandara Changi setelah menjadi klaster penyebaran Covid-19. Seperti diketahui, Singapura melakukan lockdown dengan Jumlah total kasus Covid-19 di Singapura terus bertambah.

Dilansir dari South China Morning Post, Rabu (19/5/2021) bandara ditutup untuk umum selama 14 hari dari Kamis  hingga 27 Mei 2021 di tengah meningkatnya kasus Covid-19.

Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) dan Changi Airport Group (CAG) menyatakan penutupan sementara Bandara Changi untuk melakukan pencegahan.

Semua pekerja di Terminal 1 dan 3 serta di Bandara Jewel Changi telah menjalani tes Covid-19 wajib yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan. “Ini untuk mendeteksi, mengisolasi, dan menangani potensi kasus Covid-19 dengan cepat di komunitas bandara,” kata otoritas bandara.

Penutupan dilakukan pasca munculnya klaster penyebaran Covid-19 di terminal 3 bandara, dengan total 78 kasus positif yang diduga berasal dari klaster tersebut. Kasus pertama di Bandara Changi terdeteksi pada 5 Mei 2021 pada seorang petugas kebersihan berusia 88 tahun yang bekerja di terminal 3. riz, scm, sin