Bendung Perlawanan Ukraina, Rusia Kemungkinan Pakai Senjata Nuklir

Twitter
Kobaran api di mana-mana saat Maripol Ukraina diserang pasukan Rusia.

 

TOKYO (wartadigital.id)  – Duta Besar (Dubes) Ukraina untuk Jepang Sergiy Korsunsky mengungkap, ada kemungkinan Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan senjata nuklir untuk menghadapi perlawanan selama invasi. Namun dia menegaskan ancaman senjata nuklir Rusia tak akan membuat Ukraina takut dalam memperjuangkan kedaulatan.

Bacaan Lainnya

“Kami akan berjuang sampai akhir. Kami tidak akan hidup di negara yang dikendalikan Rusia,” kata Korsunsky, dikutip dari Reuters, Jumat (11/3/2022).

“Tidak ada alasan untuk percaya bahwa dia (Putin) bisa mengancam kita, seperti yang dia kira. Untuk negara yang akan menggulingkan pemerintahan kita lalu kita merangkul Rusia setelah apa yang mereka lakukan, tidak mungkin. Karena itu, dia bisa menggunakan senjata nuklir,” ujarnya, melanjutkan.

Dia menambahkan, Ukraina mengandalkan bantuan negara-negara sekutu untuk menghindari segala bentuk eskalasi mengarah kepada penggunaan senjata nuklir.

“Kami mencoba bekerjasama dengan mitra, kekuatan nuklir utama yang tahu bagaimana memantau kondisi senjata nuklir serta bisa membantu kami untuk tidak membiarkan ini terjadi,” katanya.

Putin memerintahkan pasukan nuklir untuk siaga tinggi pada pekan lalu sebagai respons atas sanksi bertubi-tubi yang dijatuhkan negara Barat kepada Rusia serta pernyataan agresif NATO. Setelah mengumumkan operasi militer khusus ke Rusia, Putin secara langsung juga mengancam akan menggunakan senjata nuklir. “Siapa pun yang mencoba menghalangi kami, harus tahu bahwa tanggapan Rusia akan datang segera. Itu akan membawa Anda pada konsekuensi yang tidak pernah ditemui dalam sejarah Anda,” kata Putin, yang ditafsirkan para pakar sebagai senjata nuklir.

Rakyat AS Harus Takut

Berbicara di Full Send Podcast, yang dirilis pada Rabu (9/3/2022), mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan ketakutannya tentang situasi yang berpotensi meningkat di Ukraina. Pernyataan Trump muncul saat NATO, yang didukung Amerika Serikat, menawarkan dukungannya di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.

Menanggapi pertanyaan tentang apakah situasinya dapat berubah menjadi perang nuklir, sambil menyerang penggantinya, Presiden AS Joe Biden, Trump mengklaim rakyat Amerika harus takut karena saat ini memiliki orang-orang yang tidak kompeten yang memimpin negara.

Ketika ditekan oleh pewawancara tentang apakah ancaman itu kemungkinan “segera,” Trump berpendapat bahwa situasinya “serius.”

Trump mengutuk klaim pemerintah Biden bahwa AS tidak ingin melawan Rusia karena Moskow adalah kekuatan nuklir. Trump menyebut sikap Biden sebagai “kelemahan.”

Meski mengakui bahwa Rusia memang kekuatan nuklir, Trump mengingatkan pendengarnya bahwa Amerika juga memiliki kemampuan nuklir yang akan menghalangi agresi dari Moskow.

Meskipun demikian, bagaimanapun, dia mengakui ada “kemungkinan” akan terjadi perang dunia, mengingat ketegangan saat ini. Komentar mantan presiden itu setelah penampilannya di acara YouTube ‘Real America’ Komite Nasional Republik, saat dia berpendapat bahwa Biden sedang “didorong” oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, dan mengatakan dia tidak berpikir AS “pernah berada di sana,” titik yang lebih rendah dari sekarang.”

Amerika Serikat diperkirakan memiliki 5.428 senjata nuklir, termasuk yang secara aktif dikerahkan, disimpan sebagai cadangan, dan yang telah dipensiunkan, menurut Federasi Ilmuwan Amerika (FAS).

FAS menilai awal tahun ini bahwa Rusia memiliki 5.977 hulu ledak nuklir, memberikannya persediaan senjata nuklir yang lebih besar daripada Amerika Serikat. Itu artinya Rusia saat ini sebagai negara adidaya nuklir dengan jumlah senjata atom terbanyak di dunia. Menghadapi potensi perang nuklir yang mengerikan, pemerintahan Biden dan negara-negara NATO tak berani menerapkan zona larangan terbang di atas Ukraina karena dapat memicu perang dengan Rusia. sin, ins