Di Asia Tenggara, Indonesia Duduki Peringkat Kedua Kasus Remaja Melahirkan

dr Muhammad Yusuf Sp OG, Subsp Obginsos

 

SURABAYA (wartadigital.id) – Jumlah remaja melahirkan atau adolescent pregnancy di Indonesia cukup besar. Berdasarkan data World Bank, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Filipina untuk kasus remaja melahirkan pada 2020. Bila remaja melahirkan di Filipina sebanyak 56 remaja/1.000 wanita melahirkan maka Indonesia ada di angka 46/1.000 persalinan.

Bacaan Lainnya

Sekretaris Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Surabaya dr Muhammad Yusuf Sp OG, Subsp Obginsos menjelaskan berdasarkan data World Bank remaja dengan rentang usia 15 tahun hingga 19 tahun yang melahirkan selama  2022 ada 21 juta remaja. Dari 21 juta remaja hamil, 50 persennya merupakan kehamilan yang tidak diinginkan.

“Dari 21 juta remaja hamil, sebanyak 12 ribu remaja berakhir dengan persalinan. sedang sisanya mengalami keguguran dan lainnya, ” jelas  dr Yusuf  di Surabaya, Rabu (18/1/2023).

Bagaimana dengan Indonesia? dr Yusuf memaparkan masih berdasarkan data dari World Bank tersebut,  prevalensi persalinan remaja di Indonesia pada 2022 sebanyak 46/1.000 persalinan.  “Artinya dari 1.000 orang wanita yang melahirkan ada 46 remaja usia 15 tahun -19 tahun yang melahirkan, ” papar dr Yusuf.

Di Asia Tenggara, peringkat pertama adalah Filipina dengan prevalensi persalinan remaja adalah 56/1.000 persalinan, lalu Indonesia dengan prevalensi 46/1.000 persalinan disusul Thailand dengan prevalensi 44/1.000 persalinan.

Peringkat berapakah tetangga kita? Malaysia dan Singapura? Tetap berdasarkan data World Bank, dr Yusuf menyebutkan prevalensi persalinan remaja di Malaysia sebesar 14/1.000 persalinan sedang Singapura sebesar 3/1.000 persalinan.

Bagaimana dengan negara maju? Untuk Jepang prevalensi persalinan remaja sebesar 3/1.000 persalinan, Amerika Serikat sebesar 23/1.000 persalinan, Inggris sebesar 11/1.000 persalinan, Arab Saudi sebesar 5/1.000 persalinan, Turki 24/1.000 persalinan dan Uni Emirat Arab sebesar 7/1.000 persalinan.

“Yang sangat baik adalah Singapura, Jepang, Arab Saudi karena mereka tidak memiliki klinik aborsi legal tetapi prevalensi persalinan remaja sangat rendah. Sedang di Inggris dan Amerika memiliki klinik aborsi legal untuk mencegah terjadinya persalinan dari kehamilan yang tidak diinginkan, ” urainya.

Kebijakan pemerintah Inggris dan Amerika Serikat akan adanya klinik aborsi legal tidak lain untuk mengurangi kehamilan berisiko tinggi pada remaja. Dengan kehamilan yang tidak diinginkan akan sangat berpengaruh pada psikologis remaja tersebut dan kurangnya asupan bagi janin yang sangat membutuhkan asupan bergizi selama masa pertumbuhan dalam kandungan. Bila selama hamil, sang ibu kekurangan gizi makan bayi bisa memiliki risiko prematuritas, kelainan kongenital pada bayi juga meningkatnya bayi berat lahir rendah (risiko stunting) dan kondisi bayi yang buruk kesehatannya.

“Sebenarnya prevalensi persalinan remaja di Indonesia sudah mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Indonesia pernah berada di masa paling suram yaitu pada 1967 dimana prevalensi persalinan remaja ada di angka 154/1.000 persalinan, ” terangnya.

Masih menggunakan data World Bank, dr Yusuf menyebutkan pada 2000 prevalensi persalinan remaja di Indonesia sebesar 56/1.000 persalinan, pada 2010 prevalensinya sebesar 52/1.000 persalinan, pada 2014 sebesar 50/1.000 persalinan, pada 2015 sebesar 49/1.000 persalinan, pada 2016 sebesar 48/1.000 persalinan, pada 2017 sebesar 47/1.000 persalinan, pada 2018 47/1.000 persalinan. sis