Ditolak FK 13 Kali, Kini Wisudawan Berprestasi

Roy Novri Ramadhan

 

Prosesi Wisuda Unair periode 241 menjadi salah satu momen istimewa bagi setiap wisudawan, terutama bagi Roy Novri Ramadhan. Pada Sabtu (2/3/2024) kemarin, ia bukan sekadar berhasil menjadi salah satu dari 1063 wisudawan, melainkan juga lulus dengan mengukir segudang pencapaian.

Bacaan Lainnya

Ketika menjadi perwakilan untuk berbagi kisah, bercerita jika momen tersebut terasa semakin istimewa ketika ia mengenang perjalanan panjangnya. Di usianya yang masih 13 tahun, ia memilih untuk merantau dari tempat asalnya, sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan, untuk memperjuangkan pendidikan.

Masih teringat jelas di benaknya tatapan penuh senyum dan lambaian tangan sang ibu tatkala harus melepaskan kepergiannya. Kendati demikian, ia tahu bahwa banyak perasaan yang bercampur aduk di balik senyum menawan yang ibunya tampilkan.

“Senyuman yang menyembunyikan kesedihan karena harus berpisah dengan anaknya, namun ada doa dan harapan bahwa anaknya akan kembali ke rumah dengan kesuksesan,” ungkap Roy seraya menatap ibunya yang hadir saat itu.

Pada saat bercerita, Roy mengungkapkan jika sedari kecil ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Kendati demikian, bukan perkara yang mudah baginya untuk meraih semua yang ia dapatkan saat ini.

Sebelum akhirnya berkuliah di Unair, Roy mengaku jika ia pernah ditolak Fakultas Kedokteran (FK) sebanyak 13 kali. Pada masa itu, perasaan sedih, kecewa, dan ragu-ragu kerap kali membayangi langkahnya. Akan tetapi, ingatan bahwa ada orangtua yang selalu rela berkorban untuknya menjadi penguat proses perjuangannya.

“Merekalah kedua orangtua saya, Bapak Tasrif Labandu dan Ibu Irma Penolia, orangtua yang sangat hebat dan sangat saya cintai. Perjuangan, pengorbanan, dan cinta tanpa syarat yang kalian berikan akan terus menjadi motivasi dan penuntun saya dalam melangkah ke depan,” ucapnya dengan penuh syukur.

Saat menjadi mahasiswa Unair, sambung Roy, ia merasa seolah sedang membuka lembaran baru dalam hidupnya. Di salah satu universitas terbaik negeri itu, ia mendapatkan kesempatan untuk bisa mengembangkan potensi diri melalui program dan fasilitas yang telah tersedia.

Pada akhirnya, perjalanan panjangnya selama memperjuangkan pendidikan terbayar tuntas selama kiprahnya menempuh pendidikan hingga ia lulus. Selama berkuliah, banyak pencapaian yang ia dapatkan, baik nasional maupun internasional, hingga saat ini ia berhasil menjadi Wisudawan Berprestasi FK Unair.

“Saya berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Jepang, mendapatkan beasiswa, terlibat aktif dalam kegiatan penelitian, perlombaan, hingga pengabdian masyarakat. Saya juga berpartisipasi aktif dalam organisasi kemahasiswaan hingga alhamdulillah hari ini saya bisa terpilih sebagai wisudawan berprestasi,” tutupnya. rya