Erdogan Perintahkan Menlu Usir 10 Diplomat Barat Termasuk AS

Anadolu Agency
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

 

ANKARA (wartadigital.id)  – Presiden Recep Tayyip Erdogan memerintahkan menteri luar negerinya untuk menyatakan 10 duta besar (dubes) Barat di Turki , termasuk diplomat Amerika Serikat (AS) sebagai persona non grata.  Ini istilah diplomatik yang berarti langkah pertama sebelum pengusiran duta besar.

Bacaan Lainnya

Tindakan itu sebagai respons Ankara setelah 10 dubes Barat menyerukan pembebasan aktivis Turki Osman Kavala dari penjara. “Saya telah memerintahkan menteri luar negeri kita untuk menyatakan 10 duta besar ini sebagai persona non grata sesegera mungkin,” katanya seperti dikutip Reuters, Minggu (24/10/2021).

Persona non grata adalah istilah untuk orang yang tidak diinginkan. Orang-orang yang di-persona non grata-kan biasanya tidak boleh hadir di suatu tempat atau negara, yang artinya harus diusir dan dideportasi.

Kementerian Luar Negeri Turki sebelumnya telah memanggil 10 duta besar setelah membuat seruan bersama untuk membebaskan Osman Kavala.

Sejak 2017, Turki telah memenjarakan Kavala atas serangkaian tuduhan terkait dengan protes anti pemerintah pada 2013 dan kudeta militer yang gagal pada 2016. Kavala membantah tuduhan-tuduhan itu.

Meskipun dibebaskan pada Februari 2021 dalam kasus mendanai protes 2013, dia ditangkap lagi atas tuduhan berusaha menghapus tatanan konstitusional. Penangkapan terjadi setelah Erdogan mengkritik putusan pengadilan yang membebaskannya.

Pada Senin (18/10/2021) lalu, 10 negara mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan penahanan filantropis dan aktivis Osman Kavala yang berkelanjutan ‘membayangi’ Turki. Mereka meminta Kavala untuk dibebaskan.

Adapun ke 10 negara tersebut adalah Jerman, AS, Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Belanda, Selandia Baru, Norwegia dan Swedia. Ke 10 utusan negara juga telah dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Turki pada Selasa (19/10/2021) lalu.

Diketahui Osman Kavala (64) telah dipenjara sejak 2017 atas tuduhan terkait dengan protes anti pemerintah 2013 dan kudeta militer yang gagal pada 2016. Para duta besar negara-negara Barat telah menyerukan “penyelesaian yang adil dan cepat” untuk kasusnya.

Pada Sabtu (23/10/2021), Erdogan menyebut Kavala sebagai “agen di Turki” untuk seorang miliader bernama George Soros – target teori konspirasi sayap kanan dan anti Semit. Sebutan itu dianggap para pendukung Kavala sebagai respon keras Erdogan usai dirinya selamat dari upaya kudeta 2016.

Kavala mengatakan kepada AFP dari selnya pekan lalu bahwa Erdogan mencoba menyalahkan konspirasi asing atas penentangan terhadap pemerintahannya yang hampir dua dekade, terutama protes nasional 2013 yang dipicu oleh rencana untuk menghancurkan taman Gezi di Istanbul. “Karena saya dituduh menjadi bagian dari konspirasi yang diduga diorganisir oleh kekuatan asing, pembebasan saya akan melemahkan fiksi yang bersangkutan,” katanya. riz, afp, ins