IMF Proyeksi Ekonomi RI Mentok 5,1%, Ekonom Sebut Penerimaan Seret, Pengeluaran Jor-joran

IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1% pada 2026 masih lebih rendah dari target pemerintah,

JAKARTA (wartadigital.id) – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan International Monetary Fund ( IMF ) sebesar 5,1% pada 2026 masih lebih rendah dari target pemerintah. Seperti diketahui pertumbuhan ekonomi dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN 2026 dipatok 5,4%.

Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengisyaratkan, bahwa lebih rendahnya proyeksi IMF soal pertumbuhan ekonomi nasional menandakan ada yang tidak beres dari fundamental ekonomi. “Celios pun memprediksi mentok di angka 5,0 persen. Paling buruknya di angka 4,7 persen karena fundamental ekonomi kita masih lemah,” kata Huda saat dihubungi, Minggu (25/1/2026).

Bacaan Lainnya

Huda menekankan target pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa berujung tidak terpenuhi. Asumsi ini dilatarbelakangi dari kinerja keuangan APBN. Merujuk Undang-undang Nomor 17 Tahun 2025 tentang APBN Tahun Anggaran 2026 yang diteken Presiden Prabowo Subianto sejak 22 Oktober 2025, tampak jatah anggaran dalam bentuk belanja pemerintah pusat senilai Rp3.149,47 triliun. Dari jumlah tersebut, sedikitnya ada 10 K/L yang mendapatkan anggaran paling banyak dalam APBN 2026. Satu di antaranya porsi APBN untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Badan Gizi Nasional (BGN). “Saya khawatir tahun 2026, ‘bensin’ pemerintah habis karena penerimaan yang seret, namun pengeluaran jor-joran,” kata Huda.

Kondisi fiskal Indonesia yang tercermin dari rincian APBN juga diwarnai rencana tarik utang baru sebesar Rp 832,20 triliun demi membiayai target defisit APBN 2026 yang sebesar Rp 689,14 triliun. “Kekhawatiran saya selanjutnya soal defisit fiskal yang melebar bisa membuat ruang fiskal semakin sempit. Utang bertumpuk dan harus berutang dahulu sebelum membayar bunga utang,” ujar Huda.

Sebelumnya pemerintah optimistis perekonomian nasional bakal dalam prospek pertumbuhan yang positif. Optimisme pemerintah dilatarbelakangi sejumlah parameter yang dianggap baik-baik saja, mulai dari fundamental ekonomi, stabilitas makroekonomi, dan bauran kebijakan yang konsisten menjadi modal utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Atas dasar itu, proyeksi International Monetary Fund (IMF) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar 5% dimaknai secara positif.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menuturkan bahwa proyeksi IMF itu sebagai cerminan ketangguhan ekonomi nasional di tengah dinamika global. “Proyeksi IMF ini menunjukkan bahwa fundamental perekonomian Indonesia tetap kuat dan terjaga, meskipun tekanan global masih cukup tinggi. Pemerintah terus memastikan kebijakan yang diambil bersifat responsif dan antisipatif guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi,” ujar Haryo dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (25/1/2026).

Adapun, IMF menjabarkan soal ekonomi Indonesia, yang mampu resiliensi di tengah turbulensi ekonomi dan tensi geopolitik yang begitu dinamis. “Pertumbuhan diperkirakan stabil di level 5,0 persen pada 2025 dan 5,1 persen pada 2026, terlepas dari tekanan eksternal menantang, hal ini mencerminkan dukungan dari kebijakan fiskal dan moneter,” tulis IMF dalam laporan Article IV Consultation yang dirilis Januari 2026. sin