Ingin Tunjukkan Taji, Wacana Koalisi Besar Upaya Jokowi dan Luhut Kepung PDIP

Presiden Jokowi dalam Silaturahim Ramadan di DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Minggu kemarin.

 

JAKARTA (wartadigital.id) – Kecocokan akan wacana koalisi besar yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di acara buka bersama DPP PAN beberapa hari lalu dipandang sebagai upaya mengepung PDI Perjuangan.

Bacaan Lainnya

Direktur Eksekutif  Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menjelaskan bahwa Luhut adalah pengendali langkah-langkah politik Jokowi. Tujuan mengepung PDIP, kata Umam, agar bersedia tunduk dan menyerahkan golden ticket-nya kepada arus besar koalisi bentukan Istana Presiden.

Umam berpendapat, pernyataannya Jokowi saat ini akan dipandang PDIP seperti kacang lupa kulitnya.

“Pesan itulah yang pernah disampaikan secara terbuka oleh Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Jokowi saat Rakernas PDIP,” demikian kata Umam, Rabu (5/4/2024).

Pengamatan Umam, ketidakhadiran PDIP di acara buka bersama partai pendukung Istana bisa dimaknai sebagai ketidakmauan partai berlambang banteng tunduk di bawah bayang-bayang orkestrasi politik yang dimainkan Luhut dan Jokowi.

Analisa Umam, meskipun Jokowi kader PDIP, namun PDIP sendiri ingin menunjukkan tinggi marwah politiknya, yang tidak mau diatur-atur oleh Luhut dan Jokowi. Termasuk di balik wacana Prabowo-Ganjar yang juga ada pengaruh besar Luhut dan Jokowi. “Di sini, PDIP menolak untuk berada di bawah bayang-bayang itu,” jelas Umam.

Upaya Lepaskan Diri

Perang dingin antara Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan Megawati ini kembali terlihat pada absennya perwakilan PDIP dalam Silaturahim Ramadan di DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Minggu kemarin.

Direktur Eksekutif Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah melihat ada upaya Jokowi untuk melepaskan diri dari bayang-bayang pengaruh Megawati. Jokowi ingin menunjukkan tajinya sendiri sebagai king maker pada Pilpres 2024 mendatang. “Ya tentu saja, ia ingin lepas dan miliki pengaruhnya sendiri,” kata Dedi.

Menurut Dedi, keinginan Jokowi lepas dari pengaruh Megawati sudah tampak sejak lama. Meski Jokowi membantah tidak punya urusan dalam pembentukan koalisi, namun pembentukan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dipandang Dedi sebagai bentuk perlawanan dari Jokowi kepada PDIP.

“Sekaligus menjadi ruang kekuasaan Jokowi lepas dari PDIP, dan PDIP tahu, itulah sebab Jokowi mendapat teguran misalnya pada saat Rakernas PDIP hingga beberapa pidato Megawati yang menghardik kader untuk tidak bermanuver, itu ditujukan pada Jokowi,” tutur Dedi.

Siasat Jokowi lepas dari pengaruh Megawati tidak sampai di situ. Lebih dari membentuk koalisi, Jokowi kekinian semakin terang benderang menunjukkan kesan memberi endorse atau dukungan untuk Prabowo Subianto maju sebagai Capres 2024. “Ini menguatkan dukungan Jokowi ingin ada kekuatan besar yang bisa kalahkan PDIP, atau hilangkan pengaruh Megawati,” kata Dedi.

Tidak cuma untuk kalahkan Megawati, langkah Jokowi mendukung Prabowo sekaligus sebagai ancang-ancang mengalahkan rivalitas dengan Koalisi Perubahan yang mengusung Anies Baswedan. rmo